Jumat, 01 Agustus 2008

Wisata Bangka Sudah Mentok?

KOMPAS - Sabtu, 31 May 2003 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 10181 Foto: 2

WISATA BANGKA, SUDAH MENTOK?

KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang
berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun
daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.

MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada
putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju
ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali
dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.

Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai
kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu
kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah
ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.

Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan
memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung
tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung
tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.

Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik
pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda
pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan
Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit
Menumbing.

Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah
pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang
bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.

Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua
yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862.
Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok
dan sekitarnya.

Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota
kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi
wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh
sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.

Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung
Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum
dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa
berkembang sebagaimana mestinya.

Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu
hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa
ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan
hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif
mahal.

Para tukang ojek sepeda motor, misalnya, memasang tarif Rp 50.000-
Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil sewaan memasang tarif Rp
250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat harus dilalui
jika hendak ke Menumbing.

Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan
mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus
melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. "Saya tidak berani
mengantar ke sana," ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda
motor ketika diajak ke Menumbing.

Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan
laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno
dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat
diasingkan Belanda di daerah itu.

Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu
sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok,
dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.

Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah
dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno
saat berada dalam pengasingan di Mentok.

Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota
kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana
terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun
yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.

Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang.
Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan
Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota
Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.

Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata,
diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia,
hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah
daerah dan pemerintah pusat masih kurang.

Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya
menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh
menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. "Mentok
ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan
menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok
akan jauh lebih maju," katanya.

Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan
Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang
berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor
pariwisata.
***

WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan
pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa
diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.

Sebut saja misalnya beberapa tempat-tempat pemandian air panas di
beberapa kabupaten. Salah satunya adalah tempat wisata pemandian air
panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.

Sama seperti beberapa pemandian ari panas lain di Bangka, sumber
mata air panas di Pemali juga berasal dari dalam perut bumi. Air
panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit kulit itu
keluar memancar dari perut bumi.

Namun, sayang, saat ini Pemali ditutup sementara karena di lokasi
itu tengah dibangun rumah makan dan gedung lainnya. Hanya warga
sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi atau sekadar
merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air panas
lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum
dikelola secara baik.

Selain Pantai Pasir Padi, masih banyak pantai lain yang
seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja misalnya Pantai
Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai
Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir
Kuning, dan Pantai Penyak.

Bagi penggemar lokasi wisata bukan pantai, Bangka juga memiliki
tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang suka wisata alam, di
Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan ini
terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung.
Tempat ini sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar
dan Pramuka.

Pulau Bangka yang sekitar 40 persen penduduknya warga keturunan
Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua yang indah. Bahkan,
kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah lokasi. Di
beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa
menjadi pemandangan tersendiri.

Beberapa kampung Cina yang terdapat di Pulau Bangka antara lain
di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu, Kampung Bintang, Pangkal
Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.

Desa wisata, tetapi dalam nuansa lain bisa pula ditemukan di
Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini adalah Trans VI Batu
Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk berasal
dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar,
dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.

Bangka seolah-olah diciptakan Tuhan menjadi tempat tujuan wisata.
Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati pengunjung antara lain air
terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Bahkan,
tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak
tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit,
bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.

Bagi penggemar buah nanas, hamparan perkebunan nanas yang luas
bisa disaksikan di Toboali, di bagian selatan Pulau Bangka. Di
perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung menikmati nanas segar
dan manis langsung dari kebun.

Membicarakan potensi wisata Pulau Bangka memang seakan tiada
habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata sejarah terdapat pula di
Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah Museum Timah yang
terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah penambangan
timah di Bangka.

Bangka masih pula menyimpan potensi wisata lain, misalnya kolam
ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas Cina di Belinyu, klenteng di
daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur khas Cina.

Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau
ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun,
pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti
terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga
Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan
berkunjung ke Bangka. (AGUS MULYADI)

Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
TEMPAT PENGASINGAN SOEKARNO - Wisma Ranggam di Desa Sungai Daeng,
Kecamatan Mentok, Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
kini kondisinya memprihatinkan. Gedung bersejarah itu pernah menjadi
tempat pengasingan Presiden RI yang pertama, Soekarno, dan sejumlah
pemimpin negara lainnya selama beberapa bulan sejak Februari 1949. Di
salah satu kamar di Wisma Ranggam, Soekarno mengisi hari-harinya
selama masa pengasingan oleh penjajah Belanda.

PESANGGRAHAN MENUMBING - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok,
Pulau Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung
yang dibangun di atas Bukit Menumbing pada tahun 1949 ini menjadi
tempat pembuangan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi Hotel Jati Menumbing.
Dari hotel yang terletak di puncak bukit dengan ketinggian 800 meter
di atas permukaan laut itu, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat
Bangka jelas terlihat.

Tidak ada komentar: