Jumat, 01 Agustus 2008

Surga Lada dan Ikan Laut

KOMPAS - Selasa, 13 Apr 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5345

SURGA LADA DAN IKAN LAUT

ADA yang terlihat berbeda saat melintas di ruas jalan dari Koba
menuju Toboali, ibu kota Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung. Di sejumlah desa yang dilalui, kanan kiri jalan
sepanjang sekitar 60 kilometer itu berdiri rumah-rumah tembok milik
penduduk. Tentu saja rumah-rumah dengan bermacam-macam model.

Inilah lambang kemakmuran. Rumah terbuat dari tembok yang berdiri
kokoh menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang cukup mampu.
Di halaman sebagian rumah, dan ini terlihat cukup mencolok,
terpampang pula antena parabola. Ini satu lagi yang bisa dijadikan
bukti kemakmuran warga.

Pada saat melintas di jalan beraspal mulus tersebut, wujud
kemakmuran lain pun tampak. Lalu lalang sepeda motor seakan tidak
berhenti. Pengendaranya bukan hanya warga yang hendak menjalankan
aktivitasnya sehari-hari. Akan tetapi, anak-anak mereka yang sudah
remaja, baik yang pengangguran maupun yang masih sekolah, juga
melakukan aktivitasnya dengan menggunakan kendaraan roda dua bermesin
tersebut.

Kehidupan warga yang terlihat berkecukupan tersebut seakan
mengukuhkan fakta bahwa Bangka Selatan memang berbeda dari kabupaten
lain di Pulau Bangka. Daerah otonom berpenduduk 127.265 jiwa yang
terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 25
Februari 2003 ini memang merupakan daerah paling kaya. Kabupaten baru
ini sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Bangka.

Semuanya itu bersumber dari sumber daya alam yang memang memikat
dan menjanjikan. Di daratan, bumi Kabupaten Bangka Selatan merupakan
lahan yang subur ditumbuhi lada putih. Dari kabupaten inilah asal
lada putih bangka yang begitu terkenal di semua penjuru mata angin.

Lada putih tersebar di seantero Bangka Selatan, di kebun-kebun
milik rakyat. Inilah salah satu sumber utama kemakmuran warga
kabupaten baru tersebut. Lada sejak lama menjadi sumber utama
penghasilan warga Bangka Selatan.

Meskipun bagian perut bumi Kabupaten Bangka Selatan mengandung
timah yang juga menjadi sumber daya alam utama Pulau Bangka, lada
hingga sekarang masih tetap menjadi andalan. Setahun sekali warga
tetap bisa menikmati hasil dari kebun lada mereka. Kendati selama
tiga tahun ini harga lada kembali rendah menjadi sekitar Rp 19.000
per kilogram, lada tetap menjadi gantungan hidup rakyat banyak.

Berdirinya rumah-rumah berdinding tembok lengkap dengan antena
parabola di halaman, menurut Rusdar, seorang warga Bangka, terjadi
ketika harga lada melambung tahun 1998 hingga 2000. Pada kurun waktu
itu harga lada putih bangka sempat mencapai Rp 125.000 per kilogram.
Namun, sejak tahun 2002 harga lada putih bangka kembali anjlok di
kisaran Rp 19.000 per kilogram.

BANGKA Selatan pun memiliki potensi wisata alam. Selain pantainya
yang landai dan indah, di kabupaten ini pun terdapat kawasan perairan
dengan keindahan terumbu karangnya yang menawan di kawasan perairan
Pulau Pongok.

Potensi lain Kabupaten Bangka Selatan adalah kekayaan ikan laut
yang juga melambangkan kemakmuran daerah ini. Berbagai jenis ikan
setiap hari ditangkap nelayan dan menjadi sumber penghasilan mereka.
Setiap hari paling sedikit 20 truk besar mengangkut ikan laut untuk
dikirim ke Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung.

"Dari Pangkal Pinang, produksi ikan dari Bangka Selatan dikirim
ke berbagai kota lain di Indonesia," ungkap Syukur Rais, Asisten II
(Administrasi Ekonomi dan Pembangunan) Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Bangka Selatan.

Potensi tambang lain yang hingga sekarang ini belum dieksploitasi
juga masih melimpah di Kabupaten Bangka Selatan. Syukur menyebutkan,
pasir kuarsa dan kaolin adalah dua jenis tambang yang hingga kini
belum dilirik investor.

Mungkin karena Kabupaten Bangka Selatan memang merupakan daerah
kaya, pemerintah daerah setempat pun berani menetapkan target raihan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 30 miliar pada tahun anggaran
2004 ini.

"Sumber PAD berasal dari berbagai jenis pajak dan retribusi,"
ucap Syukur.

Dengan karunia Tuhan berupa tanah yang subur untuk ditanami lada,
Kabupaten Bangka Selatan pun memiliki kandungan timah yang tidak
sedikit pula. Bahkan, potensi timah pada akhirnya menjadi salah satu
persoalan yang serius di kabupaten ini. Sebagian warga ternyata
tergoda untuk menambang secara liar sehingga bumi Bangka Selatan pun
rusak, sama seperti sebagian besar wilayah di Pulau Bangka.

Apabila penambangan timah yang dilakukan secara liar ini tidak
bisa dihentikan, bisa dipastikan bahwa pada masa mendatang kemakmuran
akan menjauhi warga Bangka Selatan. Semakin luas lahan yang
dieksploitasi untuk penambangan timah, akan semakin sempit pula lahan
untuk pertanian, termasuk perkebunan rakyat seluas 26.000 hektar. Ini
berarti pula akan menyempitnya areal untuk tanaman lada.

Pemkab Bangka Selatan, menurut Syukur, sebenarnya tidak tinggal
diam. Beberapa bulan ini operasi terhadap penambangan timah liar
terus dilakukan. "Kami menyadari, jika penambangan timah tidak
dihentikan, bumi Bangka Selatan akan rusak. Rakyat nanti yang akan
sengsara. Seharusnya para penambang sadar, penambangan timah tidak
bisa membuat mereka kaya," tutur Syukur. (Agus Mulyadi)

Tidak ada komentar: