Jumat, 01 Agustus 2008

Bangka, antara Timah, Lada, dan Konservasi Hutan

KOMPAS - Selasa, 18 Apr 2000 Halaman: 22 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6955

BANGKA, ANTARA TIMAH, LADA, DAN KONSERVASI HUTAN

EMPAT kapal milik VOC Belanda, kabarnya dahulu kala tenggelam di
perairan lepas pantai Muntok, Kabupaten Bangka. Empat kapal yang tidak
diketahui ukurannya itu, membawa muatan timah. Cerita tenggelamnya
empat kapal diyakini warga Bangka benar terjadi, meskipun bangkainya
di dasar laut sampai sekarang belum bisa ditemukan.

MEMBICARAKAN Pulau Bangka yang luasnya lebih dari 1,1 juta
hektar (sekitar 18 kali luas DKI Jakarta) dan berpenduduk 540.892 jiwa
pada tahun 1996, memang tidak pernah bisa lepas dari produksi timahnya.
Sejak zaman Belanda, bumi Bangka telah ditambang untuk mencari bijih
timah. Sampai sekarang pun, deposit timah tidak kunjung habis.

Di puluhan lokasi tambang di bawah pengelolaan PT Tambang Timah
dan sub-sub kontraktor pelaksana penambangannya sampai kini kandungan
timah terus digali.

Tidak mempedulikan rusaknya lingkungan alam sekitar, bumi Bangka
terus digali. Meskipun lahan yang dieksplorasi dan kemudian
dieksploitasi berada di kawasan hutan, penambangan terus dilakukan.

"Timah memang nomor satu di Bangka. Mungkin timah lebih penting,
dibandingkan konservasi hutan yang juga penting bagi kelanjutan umat
manusia," kata Temtem Hermawan, Kepala Cabang Departemen Kehutanan
Kabupaten Bangka, 20 Maret.

Salah satu lokasi penambangan timah di kawasan hutan, dengan
sistem pinjam pakai, terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat
I. Di kawasan hutan dengan tanaman jenis Acacia mangium, terdapat
lahan penambangan timah di wilayah Perwakilan Kecamatan Riau Silip.
Saat ini sekitar 20 hektar areal hutan, telah berubah menjadi kawasan
padang pasir dan danau. Hamparan pasir, berasal dari limbah buangan
pertambangan timah.

"Sudah empat tahun penambangan timah di lokasi ini. Setiap tahun
lokasi tambang bertambah luas ke lahan di sekitarnya, mengikuti urat
bijih timah yang ada di dalam Bumi. Lokasi penambangan yang telah
digali, ditinggalkan begitu saja, tanpa direhabilitasi dengan menanam
pohon kembali," ujar Agus Trenggono, Kepala Bagian Kesatuan Pemangku
Hutan (BKPH) Bangka Utara.
***

TIDAK diketahui pasti, mengapa dana rehabilitasi hutan yang
disetorkan perusahaan penambang ke Departemen Pertambangan dan Energi,
tidak digunakan untuk keperluan itu. Di wilayah BKPH Bangka Utara
dengan luas hutan 66.000 hektar, terdapat sekitar 62 lokasi bekas dan
lokasi galian yang masih dioperasikan. Akibatnya, di tengah-tengah
kawasan hutan, banyak terdapat hamparan padang pasir, dan danau-danau
bekas penambangan timah.

Upaya untuk menghutankan kembali lahan bekas tambang timah
sendiri, tidak semudah seperti saat merusaknya. Pepohonan -bahkan dari
jenis Acacia mangium yang mudah tumbuh dan besar- sulit tumbuh karena
sudah hilangnya lapisan tanah. Kalau pun dipaksa ditanam, pohon akan
tetap kerdil seperti bonsai.

Sulitnya menghutankan kembali lahan bekas lokasi penambangan
timah, misalnya terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat I
Blok K. Lahan gersang bekas lokasi tambang di zaman Belanda, sampai
saat ini tetap gundul. Bibit Acacia mangium yang ditanam tujuh tahun
lalu, tetap kerdil setinggi satu meter. Padahal di kawasan sekitarnya,
tumbuh subur tanaman sejenis yang ditanam pada waktu yang sama di atas
lahan 11.000 hektar.

Di kawasan Air Jeliti, Acacia mangium juga tetap kerdil di lahan
bekas tambang timah. Upaya penghutanan kembali lahan bekas tambang
timah, umumnya hampir dipastikan gagal. "Di lokasi bekas tambang timah
yang kini telah menjadi danau, lumut pun tidak bisa hidup. Akibat
tidak adanya pythoplankton, ikan tidak dapat hidup pula," kata Dr Ir
Dwi Sudharto MSi, Kepala Bagian Program dan Anggaran, Badan Planologi
Perkebunan dan Kehutanan, Dephut.
***

LUAS hutan di Pulau Bangka saat ini sekitar 434.000 hektar,
terdiri atas hutan produksi seluas 392.750 hektar dan hutan lindung
40.250 hektar. Kondisi hutan saat ini sungguh memprihatinkan, karena
198.655 hektar di antaranya dalam keadaan rusak. Kerusakan terjadi
akibat aktivitas pertambangan, penebangan liar, dan perladangan.

Sejak krisis ekonomi dan moneter mendera negara ini, perladangan
liar ini semakin menjadi-jadi. Akibat kurangnya lahan milik sendiri
warga setempat masuk ke dan hutan, membabat semak belukar untuk
menyulapnya menjadi kebun lada putih.

Meningkatnya pembukaan kebun lada baru, merupakan dampak dari
melambungnya harga lada pada saat puncak krisis ekonomi dua tahun
lalu. Saat itu harga lada melambung sampai Rp 150.000/kg. Padahal
sebelum krisis, harga pasaran lada putih di Pulau Bangka hanya Rp
5.000/kg.

Hamparan hutan yang banyak dibabat warga untuk dijadikan kebun
lada, umumnya terdapat di BKPH Bangka Selatan. Abdul Malik, Kepala
BKPH Bangka Selatan, menyebutkan, di wilayahnya di kawasan Toboali
dan sekitarnya, ribuan hektar hutan telah dirambah dan diubah menjadi
kebun lada.

Saat ini, kebun lada yang baru berusia sekitar dua tahun, belum
memasuki masa panen. "Buah lada baru bisa dipanen ketika tanaman
berusia tiga tahun. Dan setiap tahun berikutnya sampai usia lima
tahun, lada masih bisa dipanen. Produksinya, satu sampai dua kilogram
setiap rumpun," kata Temtem Hermawan.

Bangka saat ini memang tidak hanya mengandalkan dan bertumpu pada
timah. Tanah Bangka-di luar kawasan pertambangan timah-juga masih
menjadi tempat tumbuh subur tanaman lada untuk bumbu-bumbuan itu.
Produksi lada putih (Piper nigrum) Bangka pada 1999 tercatat sekitar
30.000 ton.

Melambungnya harga lada putih juga telah mengubah hidup warga
Bangka menjadi lebih makmur. Meskipun saat ini harga lada putih
tinggal sekitar Rp 30.000-Rp 40.000 per ton, petani setempat masih
tetap merasakan kesejahteraan hidup. Salah satu indikator kemakmuran
itu, terlihat dari masih banyaknya warga Bangka yang menunaikan ibadah
haji. Menurut Sekwilda Bangka, Usman Saleh, tahun 2000 ini warganya
yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sebanyak 668 orang.

Melihat kenyataan timah dan lada tetap menjadi andalan bagi
Bangka, konservasi hutan di Bangka yang juga penting bagi kelangsungan
hidup umat manusia, tetap terancam. Lahan hutan masih tetap diincar,
untuk membuka tambang timah atau kebun lada baru. Di sisi lain,
Departemen Kehutanan tentu tidak bisa menghentikan kemakmuran bagi
warga yang terus berlangsung itu. (agus mulyadi)

Foto
Kompas/agus mulyadi
GUSUR HUTAN -- Sekitar 20 hektar hutan produksi di dalam kawasan
Register 12 Sungailiat di Perwakilan Kecamatan Riau Silip, Kabupaten
Bangka, Sumatera Selatan, sejak empat tahun lalu berubah menjadi
padang pasir yang berasal dari limbah (tailing) penambangan timah.
Demi menambang timah, kawasan hutan yang telah direhabilitasi itu
digusur.
Peta

Tidak ada komentar: