Jumat, 01 Agustus 2008

Kepentok Solar Mahal di Mentok

KOMPAS - Selasa, 29 Aug 2006 Halaman: 1 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5241 Foto: 1
Nelayan

KEPENTOK SOLAR MAHAL DI MENTOK

Oleh Agus Mulyadi

"Menjadi nelayan sekarang susah. Hasil tangkapan tidak tentu,
bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali, sedangkan solar mahal.
Tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan saya," ucap Sahrudin
(55), nelayan di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (27/8) pagi.

Sesudah mengucapkan keluhannya, Sahrudin mengisap rokok dalam-
dalam, lalu mengembuskan asapnya. Dia seakan mencoba melepaskan atau
sedikit mengurangi beban hidupnya.

Sahrudin adalah nelayan gurem yang hanya memiliki perahu dan
motor tempel berukuran kecil. Sekali melaut dia hanya memerlukan 10
liter solar."Saya biasanya berangkat pagi dan pulang siang atau
sore, setelah mencari ikan di perairan Selat Bangka ini," ujar
Sahrudin.

Bagi nelayan, mencari ikan seperti berjudi mempertaruhkan nasib.
Kalau sedang beruntung, hasil tangkapan ikan, udang, dan lainnya bisa
lumayan. Namun, sebagian dari mereka sering kurang beruntung. "Saya
sering tidak dapat ikan," ucap Sahrudin.

Jika tak dapat ikan, kerugianlah yang harus ditanggungnya. "Saya
membeli satu jeriken solar isi 20 liter untuk keperluan dua hari
melaut seharga Rp 130.000. Kalau beli di kios susah, harus antre
lama. Harganya pun tetapmahal," ujarnya.

Kios yang dimaksud Sahrudin adalah stasiun pengisian bahan bakar
untuk umum (SPBU) satu-satunya di Mentok. SPBU itu sepanjang hari
dipenuhi antrean jeriken, truk, bahkan drum. Jeriken itu milik orang-
orang yang mencari keuntungan dari laris-manisnya solar di Bangka
Barat khususnya, dan di Provinsi Bangka Belitung umumnya.

Solar diburu terutama oleh para penambang timah inkonvensional
yang jumlahnya ribuan di pulau itu. Jeriken antrean tidak hanya milik
penambang, tetapi juga warga yang tiba-tiba mencari nafkah dengan
berjualan solar eceran. Demikian pula sebagian pengemudi truk.

"Ibu-ibu pedagang nasi bahkan ada yang beralih menjadi pengantre
solar di SPBU. Menjual solar keuntungannya sudah pasti," ujar
seorang tukang ojek sepeda motor di Mentok.

Untuk mendapatkan solar di SPBU Mentok, para pembeli juga harus
mengeluarkan sejumlah uang untuk orang-orang yang "menjaga" SPBU.
Setiap satu jeriken dikenai pungutan Rp 1.000. "Pengemudi truk juga
harus membayar biaya tambahan Rp 100 untuk setiap liter yang
dibeli," kata seorang sopir truk saat antre, Minggu pagi.

Antre dan biaya tambahan seperti itulah yang membuat Sahrudin
malas ke "kios". Dia terpaksa membeli solar di pedagang eceran yang
juga pengantre di SPBU.

Kuota dikurangi
Antrean terjadi di semua SPBU di Bangka Belitung, paling tidak
dalam tiga tahun ini. Itu akibat meningkatnya kebutuhan bahan bakar
seiring maraknya tambang timah inkonvensional atau tambang liar.

Pada saat kebutuhan meningkat, pemerintah malah mengurangi kuota
BBM, termasuk untuk provinsi kepulauan itu. Menurut Pengawas Hubungan
Pemerintah dan Masyarakat PT Pertamina Unit Pemasaran II Wilayah
Sumatera Bagian Selatan Sidik Rosyidi, Senin (28/8), pengurangan
kuota premium,solar, dan minyak tanah di wilayah kerjanya, termasuk
Bangka Belitung, rata-rata 15 persen dibandingkan dengan tahun 2005.

Kuota BBM untuk wilayah Sumbagsel selama tahun 2006 dikurangi
lagi sejak pertengahan Juli lalu. Langkah itu dilakukan untuk menekan
subsidi. Kuota premium dikurangi dari 1.225.410 kiloliter (kl)
menjadi 1.225.310 kl; solar yang biasanya 644.900 kl dikurangi
menjadi 643.226 kl; dan minyak tanah dari 1.530.660 menjadi 1.115.422
kl. Pada kuota baru itu ada kenaikan dan ada penurunan.

Kuota premium untuk Bangka Belitung, misalnya, yang semula
128.511 kl malah dinaikkan menjadi 150.127 kl. Minyak tanah juga naik
tipis dari 40.604 kl menjadi 40.732 kl, sementara kuota solar turun
drastis dari 255.166 kl menjadi 162.768 kl. Pengurangan juga
dilakukan pada kuota BBM untuk Sumsel.

"Itu keputusan pemerintah," ujar Sidik. Turunnya kuota solar
itulah yang diduga menjadi penyebab utama antrean terus terjadi di
SPBU Mentok dan SPBU lainnya di Bangka Belitung.

Sarmad, nelayan di Mentok, mengaku membutuhkan 100 liter solar
sekali melaut selama lima hari bersama empat temannya, belum termasuk
bekal makanan dan es. Jika hasil tangkapan hanya bernilai Rp 2 juta,
maka itu hanya impas dengan modal yang dikeluarkan.

Kesulitan yang sama dirasakan oleh nelayan asal Sungsang,
Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Sebagian pencari ikan di perkampungan
nelayan berpenduduk sekitar 15.000 jiwa itu bahkan mencoba mengakali
kekurangan solar dengan menggunakan minyak tanah campur solar atau
oli bekas.

Ade serta nelayan Sungsang lain seperti Maulana, Asnawi, dan
Usman menyatakan, terbatasnya solar sangat menyulitkan mereka.
Apalagi perairan di Selat Bangka dua pekan ini diselimuti asap tebal.
Para nelayan hanya bisa pasrah sambil berharap pemerintah lebih
memerhatikan kebutuhan solar bagi mereka.

Foto:1
Kompas/Agus Mulyadi
Seorang nelayan dengan perahu motor kecilnya, Sabtu (26/8) pagi,
melintas di perairan Pantai Tanjung Kalian, Kecamatan Mentok,
Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.

Tidak ada komentar: