Jumat, 01 Agustus 2008

Pasir Padi, Pantai Menawan yang Nyaris Terlupakan

KOMPAS - Sabtu, 31 May 2003 Halaman: 31 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 10798 Foto: 4

PASIR PADI, PANTAI MENAWAN YANG NYARIS TERLUPAKAN

DINI, seorang mahasiswi asal Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, pernah merasa kesal karena kesasar justru di tempat
kelahirannya itu. Dalam perjalanan menuju ke kawasan wisata Pantai
Pasir Padi, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang
itu nyasar sampai sejauh empat kilometer.

SETELAH berputar-putar dan bertanya beberapa kali kepada warga
yang dilewati, Dini pun akhirnya tiba di pantai dengan hamparan pasir
putih landai tersebut. Pengalaman kesasar yang dialami itu tentu saja
membuat Dini malu dan menahan rasa kecewa kepada pengelola tempat
wisata pantai satu-satunya di ibu kota Provinsi Bangka Belitung itu.

"Masak, aku harus kesasar di kota kelahiran sendiri. Kalau aku
saja kesasar seperti itu, bagaimana orang dari daerah lain yang
hendak berkunjung ke Pasir Padi. Mereka pun tentu akan kesulitan
menemukannya," tutur Dini.

Apa yang dikemukakan Dini ada benarnya. Paling tidak, itu yang
dialami Kompas ketika hendak ke lokasi wisata yang memiliki rentang
pantai sepanjang empat kilometer itu. Perjalanan menuju Pasir Padi
terasa melelahkan dan menjengkelkan karena harus berulang kali
bertanya kepada warga di jalan yang dilintasi.

Dengan menggunakan mobil sewaan dari salah satu rental di
Pangkalpinang, perjalanan menuju Pasir Padi yang lokasinya tujuh
kilometer dari pusat kota itu menjadi terasa jauh dan melelahkan. Itu
semua terjadi karena di sepanjang jalan tidak ditemukan satu pun
rambu lalu lintas atau rambu wisata menuju Pasir Padi.

Satu-satunya rambu lalu lintas penunjuk arah hanya terdapat di
perempatan Jalan Mayor Syafri Rahman dan Jalan Bukit Intan-Jalan
Semabung. Rambu lalu lintas hanya menunjukkan arah ke Pasir Padi
melalui Jalan Semabung. Setelah itu, perjalanan hanya mengandalkan
feeling dan bertanya kepada warga yang dilintasi di jalan. Sunggguh
menyebalkan.
***

PASIR Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka.
Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa,
Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu.

Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki
sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari
sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang
membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.

Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai
Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang
menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu
dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.

"Keindahan pariwisata Pulau Bangka, terutama pantai-pantainya,
tidak kalah dengan Pulau Bali. Itu pernah dinyatakan peneliti pantai
dari beberapa negara yang pernah berkunjung ke sini," kata Irawati,
Kepala Seksi Data dan Promosi Subdinas Pariwisata Provinsi Bangka
Belitung.

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka,
menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali
barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki
di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak
kagum melihat keindahan pantainya.

Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga
Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada
empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung
Pesona, dan Pantai Rebo.

Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu
khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata
dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar
seperti saat hendak ke Pasir Padi.

Irawati mengakui, pihaknya belum memikirkan penyediaan rambu
wisata pemberi petunjuk ke Pasir Padi. Dia memberi alasan, dengan
baru satu tahun Provinsi Bangka Belitung terbentuk, soal rambu wisata
belum masuk dalam hitungan. "Itu memang belum terpikirkan oleh kami,"
katanya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Iziono
menyatakan hal senada. Soal rambu wisata yang begitu penting bagi
pengunjung tersebut memang masih terabaikan. Alasan yang
dikemukakannya tentu saja berbeda dengan Irawati. "Kami terbentur
masalah dana untuk menyediakan rambu-rambu wisata tersebut," ujarnya.

Menurut Iziono, instansinya akan bekerja sama dengan salah satu
bank untuk membuat rambu-rambu tersebut. Tawaran telah diberikan,
namun jawaban pasti kapan pemasangannya belum diketahui. "Pihak bank
bisa mencantumkan nama perusahaannya di rambu-rambu wisata yang
dipasang tersebut," ujarnya.

Tersedianya rambu-rambu wisata memadai yang bisa menunjukkan
lokasi Pasir Padi atau lokasi wisata lain di Pangkalpinang setidaknya
akan mengingatkan pendatang bahwa di kota itu ada tempat wisata
pantai. Bagi mereka yang tiba di Pangkalpinang dengan menggunakan
pesawat di Bandara Depati Umar, bisa pula mampir terlebih dahulu ke
Pasir Padi sebelum berkunjung ke lokasi lain.

Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena
lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah
atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan
Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang
melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir
Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.

***
KEINDAHAN Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan
karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan
keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk
Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping
sebagian kecil pendatang dari luar daerah.

Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab mengapa pantai itu
hanya ramai dikunjungi warga setempat. Itu pun hanya terjadi pada
setiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya datang
pada sore hari dengan jumlah rata-rata kurang dari 100 orang.

Pengunjung rutin yang menikmati keindahan pantai itu adalah
puluhan anak muda yang bertempat tinggal di desa-desa sekitar pantai.
Mereka datang bukan untuk mandi di pantai atau sekadar berjemur,
tetapi bermain sepak bola.

Pengunjung lain yang rutin pada sore hari bertandang ke Pasir
Padi juga berasal dari kalangan anak muda dengan berkendaraan sepeda
motor. Sambil mejeng mereka menikmati keindahan pantai, atau saling
tancap gas di atas pasir pantai yang tidak lembek saat dilindas roda
kendaraan.

Mobil-mobil pengunjung pun dengan bebas berlalu lalang di
hamparan pasir pantai. Kerasnya pasir pantai, baik yang basah maupun
yang kering, menyebabkan roda tidak amblas ke dalam pasir. Kondisi
seperti itu yang membuat mereka berani bermobilria di pantai. Malah,
sebagian pengunjung datang hanya untuk belajar menyetir mobil!

Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan
pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua
mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di
Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti
ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa
keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.

Keindahan alam yang ditopang kelebihan berupa pasir padat di
pantai itu ternyata belum mampu memancing lebih banyak wisatawan dari
luar daerah atau mancanegara. Wisatawan yang datang umumnya hanya
wisatawan lokal, Pangkalpinang maupun dari daerah sekitarnya saja.

Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim mengatakan, Pasir
Padi memang hanya banyak dikunjungi oleh
kalangan "wiski". "Pengunjung yang datang ke Pasir Padi memang masih
dari kalangan ÆwiskiÆ, wisatawan mriki," katanya sambil tertawa.

Wisatawan mriki yang dimaksudkan Zulkarnaen adalah wisatawan lokal.
Dia berharap, Pasir Padi tidak hanya dikunjungi wisatawan dari
kalangan warga setempat. Suatu saat, Pantai Pasir Padi akan dibanjiri
wisatawan dari provinsi lain dan dari mancanegara.

Pemerintah Kota Pangkalpinang, menurut Zulkarnaen Karim, akan
menjadikan Pasir Padi sebagai kawasan wisata dengan fasilitas memadai
agar bisa menarik wisatawan. Sejumlah perbaikan akan dilakukan untuk
mewujudkannya.

"Kalau turis yang datang ke Bali pasti berkunjung ke Pantai Kuta,
nantinya turis ke Bangka pun akan berkunjung ke Pasir Padi terlebih
dahulu sebelum ke lokasi lain. Pasir Padi akan menjadi ÆPantai KutaÆ-
nya Pulau Bangka," ucap Zulkarnaen.

Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas
memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan
sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat
tempat hiburan karaoke dan diskotek.

Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung,
seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula,
Pasir Padi menjadi tidak menarik bagi pengunjung.

Bagaimana mau menikmati pantai, melepas kepenatan, dan bergembira
jika untuk mencari toilet saja susahnya bukan main. Jika tidak
dikelola secara profesional, Pasir Padi tentu akan semakin
ditinggalkan, dan akhirnya dilupakan. (AGUS MULYADI)

Foto: 4
Kompas/Agus Mulyadi
LALU LALANG DI PANTAI - Pantai Pasir Padi yang tidak gembur membuat
kendaraan roda dua dan empat bisa melintas di atasnya. Pengunjung
berkendaraan dengan bebas berlalu lalang di pantai tanpa takut roda
kendaraan amblas ke dalam pasir. Di kejauhan di perairan pantai,
tampak melintas dua kapal yang sedang berlayar menuju ke Pelabuhan
Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, yang terletak di sebelah utara
kawasan pantai ini.

KANDAS - Perahu motor yang biasa membawa pengunjung Pantai Pasir Padi
untuk berperahu di perairan pantai kandas di hamparan pasir. Pemilik
perahu motor itu harus menunggu air pasang naik agar bisa kembali
melaut.

KINI JADI HOTEL - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok, Pulau
Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung yang
dibangun di atas Bukit Menumbing ini pada tahun 1949 menjadi tempat
pengasingan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing.

BERMAIN BOLA - Sekelompok pengunjung Pantai Pasir Padi memanfaatkan
waktu mereka dengan bermain sepak bola di pantai berpasir. Kerasnya
pasir di pantai itu membuat mereka bisa dengan bebas mempertontonkan
kebolehannya. Mereka bergembira bersama di atas pantai yang landai
dan indah.
Image: 1
Peta Provinsi Bangka Belitung

Tidak ada komentar: