KOMPAS - Rabu, 14 Apr 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5239
MENCIPTAKAN SUMBER NAFKAH WARGA TANPA HENTI
KABUPATEN Bangka Tengah berhadapan dengan dua perairan berbeda
di sisi barat dan timur. Di bagian barat daratan kabupaten ini
berbatasan langsung dengan Selat Bangka, sedangkan di timur menghadap
Laut Natuna.
Oleh karena itu, tidaklah aneh pula jika kabupaten ini memiliki
sejumlah lokasi pantai yang menawan. Salah satunya bisa dilihat di
antara Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung,
dan Koba, ibu kota Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan pantai di perairan Laut Natuna itu berada di tepi
jalan. Saat melintas di ruas jalan itu, pengendara bisa melirik ke
arah pantai. Kalau penasaran, tentu bisa berhenti di sembarang lokasi
untuk melihat pantai. Perjalanan antara Pangkal Pinang dan Koba,
seperti saat melintas di antara Anyer dan Carita di Provinsi Banten.
Akan tetapi, bedanya dengan Anyer-Carita, pantai Pangka Pinang-
Koba benar-benar masih perawan. Kemolekan pantai di ruas itu belum
dilirik oleh investor. Padahal, keindahan pantai ini merupakan salah
satu potensi yang luar biasa bagi kabupaten yang dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003, tanggal 25 Februari 2003 itu.
Sebelumnya Bangka Tengah merupakan bagian Kabupaten Bangka.
Laut dan pantai merupakan bagian dari kehidupan warga Bangka
Tengah. Sebagian penduduk kabupaten itu yang berjumlah 126.140 orang
bertumpu pada hasil laut. Akan tetapi, tidak sepanjang tahun laut
memberikan sumber nafkah.
Ketika musim angin besar tiba, pada saat laut sedang tidak
bersahabat, ikan-ikan pun menjadi sulit ditangkap. Nelayan pun
umumnya tidak melaut.
Para nelayan di daerah ini umumnya adalah warga keturunan Bugis.
Mereka adalah keturunan ke sekian dari nenek moyang mereka yang
dahulu mendarat dan mendiami kemudian berusaha di kawasan itu.
Sebagian warga lain kabupaten itu menggantungkan hidupnya dari
berkebun lada dan karet serta beberapa jenis palawija. Akan tetapi,
yang paling banyak digeluti tentu saja kebun lada putih.
***
LADA tentu saja tidak bisa sepanjang tahun menjadi sumber nafkah
bagi warga setempat. Lada hanya mengenal satu kali musim panen setiap
tahun. Di luar masa panen lada, sebagian warga Bangka Tengah biasanya
pergi melaut mencari ikan.
Namun, sejak sekitar lima tahun lalu sebagian warga setempat
tergoda pula untuk mengupas permukaan bumi. Mereka tergoda untuk
mendapatkan uang secara cepat dengan menambang timah secara liar.
Buah dari aksi perusakan alam demi mencari bijih timah itu kini
jelas terlihat. Banyak kawasan di Kabupaten Bangka Tengah sudah porak-
poranda. Bekas-bekas lokasi galian penambangan bijih timah terdapat
di mana-mana, meninggalkan kolam-kolam besar dan lahan yang tidak
bisa ditanami lagi.
Akan tetapi, untuk menghentikan tambang timah rakyat ilegal yang
biasa disebut tambah timah inkonvensional itu, tentu bukan sesuatu
yang mudah dilakukan. Rakyat selalu berdalih bahwa mereka menambang
timah demi menjamin kebutuhan perut keluarga.
Oleh karena itu, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah
berupaya mencari solusi agar kegiatan menambang timah seperti itu
bisa dihentikan. Salah satunya adalah dengan membagikan sebanyak
100.000 bibit pohon karet secara cuma-cuma kepada seluruh warga.
"Tahap pertama pada tahun anggaran 2004 ini kami hendak
membagikan 100.000 bibit pohon karet kepada warga. Bibit sebanyak itu
bisa ditanam di lahan seluas 200 hektar," ujar Ibnu Saleh, Kepala
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bangka Tengah.
Pembukaan kebun karet rakyat dengan bantuan bibit dari pemerintah
daerah merupakan salah satu langkah awal untuk menghentikan tambang
timah ilegal. Rakyat diberi pilihan lain yang lebih menguntungkan,
yakni menanam pohon karet.
Langkah lain yang akan ditempuh Pemkab Bangka Tengah, menurut
Ibnu Saleh, adalah akan dibukanya perkebunan kelapa sawit. Untuk
tahap awal, pemkab menyediakan 15.000 hektar bagi investor swasta
yang hendak menanamkan modalnya.
Perkebunan kelapa sawit ini akan melibatkan rakyat karena lahan
yang digunakan adalah milik mereka. Bentuk kerja sama antara pemilik
modal dan rakyat dengan dijembatani pemkab tersebut kini masih
digodok.
Tujuan dari pembukaan perkebunan karet rakyat dan kelapa sawit
tersebut, menurut Ibnu, adalah agar rakyat mendapatkan sumber
penghasilan tetap yang menguntungkan. Dengan dibukanya usaha
perkebunan itu, diharapkan pula dapat menghentikan laju pembukaan
tambang timah-tambang timah baru di Bangka Tengah.
"Dengan berkebun karet dan sawit, rakyat akan mendapatkan
penghasilan tetap," kata Ibnu Saleh.
Seandainya kebun karet dan kebun kelapa sawit rakyat terwujud,
ungkap Ibnu, rakyat akan mendapat penghasilan secara terus-menerus
sepanjang tahun. Dari kebun karet mereka setiap hari bisa menyadap
dan menjualnya, dari kebun kelapa sawit rakyat pun setiap bulan
mendapat hasil dari panen yang diperoleh.
Sumber penghasilan tetap tersebut akan melengkapi sumber nafkah
lain yang tidak terputus, yakni penghasilan tahunan yang berasal dari
kebun lada. (Agus Mulyadi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar