KOMPAS - Sabtu, 14 Feb 2004 Halaman: 35 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7408 Foto: 2
GEDONG, DESA WISATA YANG DIHUNI WARGA KETURUNAN CINA
SETIAP perayaan Imlek datang, kehidupan di Desa Gedong, Kecamatan
Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
berubah dibandingkan hari-hari biasa. Sanak saudara yang pergi
merantau ke kota atau daerah lain biasanya datang ke desa yang
terletak di kawasan utara Pulau Bangka itu.
Dengan membawa aneka macam barang oleh-oleh dan cerita segala
jenis kesuksesan, mereka datang ke kampung halaman. Pada saat Imlek,
mereka berbagi kebahagiaan dengan keluarga di desa kelahiran.
"Pada tahun baru Imlek desa kami ini ramai karena saudara yang
merantau pulang kampung," ujar Cie Sun Ti alias Santi (16), warga
Gedong yang juga pelajar di kelas II sebuah sekolah menengah kejuruan
(SMK) di Belinyu.
Informasi yang diberikan Santi diucapkan dalam bahasa Indonesia
yang lancar. Kenyataan itu sekaligus membuyarkan bayangan sebelumnya
ketika akan memasuki Gedong. Keterangan dari seorang staf di kantor
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan bahwa
hampir tidak ada warga Gedong yang bisa berbahasa Indonesia.
Mereka hingga kini masih menggunakan bahasa leluhur, yakni bahasa
Cina dengan dialek suku bangsa Khek. "Saya tidak tahu di bagian
daratan Cina mana daerah leluhur kami berasal," ujar Cie Khun Bui,
kakak Santi, juga dengan bahasa Indonesia, namun dengan logat Cina.
***
JALAN berlubang dan berlumpur sepanjang 300 meter menghadang laju
kendaraan saat hendak memasuki Gedong. Meskipun tidak sampai membuat
kendaraan terhenti, kerusakan jalan tersebut tetap mengganggu.
Sebelumnya, perjalanan sejauh 90 kilometer dari Pangkalpinang
melalui Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, cukup mulus. Jalan
rusak sebelum memasuki Gedong sama sekali tak terbayang. Soalnya,
desa yang dituju adalah sebuah desa wisata.
Gara-gara jalan rusak itulah, bayangan indahnya sebuah desa
wisata pun menjadi rusak. "Masak jalan menuju desa wisata seperti
ini. Seharusnya jalan ke tempat wisata dalam kondisi mulus," ujar
Chaidir, seorang teman yang ikut dalam perjalanan menuju Gedong.
Begitu pun saat melintasi gerbang masuk Desa Gedong selepas jalan
rusak, bayangan akan indahnya desa wisata juga belum muncul. Namun,
saat memasuki permukiman, gedung pertama yang tampak adalah sebuah
rumah tua berdinding kayu berarsitektur khas Cina. Ini rupanya salah
satu yang "dijual" di Gedong.
Akan tetapi, suasana pada siang hari pada bulan Desember 2003 itu
seperti tidak menggambarkan sebuah desa wisata. Gedong terlihat sepi.
Hampir tak ada orang lalu lalang di jalan desa yang umumnya berada di
antara dua barisan rumah di dua sisi berbeda.
Kesenyapan terasa makin lengkap karena rumah yang ada di Gedong
umumnya terlihat tua. Kesan buram mewarnai desa yang rumahnya rata-
rata bercat kusam.
Di tengah suasana sepi saat memasuki perkampungan Gedong itulah,
seorang gadis berambut model "buceri" (bule cat sendiri) melintas.
Dia berjalan ke salah satu rumah.
Dengan rasa waswas, khawatir si "buceri" tidak bisa berbahasa
Indonesia, Kompas pun menegurnya. Ternyata komunikasi berjalan
lancar. Gadis muda yang kemudian diketahui bernama Santi itu lancar
berbahasa Indonesia. Malah saat berbincang gaya bicaranya seperti ABG
(anak baru gede) di Jakarta.
Namun, kelancaran berkomunikasi dengan Santi, juga kakaknya Cie
Khun Bui, jangan harap muncul saat bertemu dengan ayah mereka, Cie
Sun Liong. "Orangtua saya memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Sehari-hari di sini bahasa yang digunakan memang bahasa Cina dari
suku Khek," kata Santi.
Warga Gedong dalam kesehariannya memang menggunakan bahasa negeri
leluhur mereka. Bagi warga yang sudah berumur dan tidak pernah duduk
di bangku sekolah, mereka hanya bisa berbahasa Cina.
Ketika ditanya mengapa Gedong ditetapkan sebagai desa wisata di
Kabupaten Bangka, laki-laki berusia 53 tahun itu menyatakan tidak
tahu. Penetapan desa wisata itu sendiri dilakukan pada tahun 2001
oleh Pemerintah Kabupaten Bangka.
Sejak Gedong ditetapkan sebagai desa wisata, dusun kecil
berpenghuni 50 keluarga itu akhirnya memang dikenal dunia luar.
Menurut Sun Liong, kadang datang wisatawan berombongan menggunakan
bus. Mereka tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga datang dari
mancanegara, seperti Taiwan.
Pengunjung yang datang ke Gedong umumnya hanya melihat-lihat
perkampungan tua yang tidak luas itu. Sebenarnya hampir tak ada yang
bisa "dijual" dari dusun itu sebagai daerah tujuan wisata. "Orang
yang datang ke sini paling-paling hanya melihat rumah tua itu dan
isinya," kata Santi sambil menunjuk satu rumah tua di depan rumah
mereka.
Rumah tua berdinding kayu dan beratap genting itu, menurut
penduduk setempat, dibangun lebih dari seabad lalu. Sejak awal rumah
itu berdiri, gedung itulah yang menjadi ciri khas Gedong. Nama dusun
itu pun mengambil nama dari rumah mentereng, besar, dan paling bagus
yang disebut warga setempat dengan nama rumah gedong.
***
TIDAK ada seorang pun warga Gedong mengetahui, sejak kapan nenek
moyang mereka tinggal di dusun itu. Mereka hanya menduga, leluhur
mereka datang ke kawasan itu sebagai penambang timah yang didatangkan
dan dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda sekitar tiga abad
lalu.
Para pendatang dari Cina daratan itu tidak hanya bekerja sebagai
penambang, tetapi juga bermukim di kawasan yang kini bernama Desa
Gedong tersebut. Penambangan timah terus berlangsung meskipun
kemudian Belanda pergi.
Kepala Dusun Gedong, Heri, yang juga warga keturunan Cina,
menyatakan, penduduknya memang mengandalkan hidup dari penambangan
timah. Namun, diakuinya hidup sebagai penambang timah tidaklah
menjanjikan sehingga sebagian besar generasi muda Gedong lebih
memilih mencari hidup ke berbagai daerah lain, termasuk merantau ke
Jakarta dan Bandung.
"Seorang anak saya sekarang bekerja di Jakarta, sedangkan adiknya
memilih tinggal di sini," katanya.
Para perantau biasanya hanya pulang setahun sekali, saat perayaan
Imlek. Ketika tahun baru Cina itu datang, mereka ingin merayakannya
bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Kampung halaman yang jauh
dari keramaian itu tetap dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi
sebagian warga Gedong. Ahin (25), misalnya, akhirnya pulang kampung
dan menjadi penambang timah meskipun sudah beberapa tahun tinggal di
Jakarta.
Gedong memang tetap memikat bagi sebagian penduduk setempat dan
wisatawan yang pernah berkunjung. (AGUS MULYADI)
Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
DESA WISATA GEDONG - Rumah-rumah tua berusia lebih dari satu abad
menjadi pemandangan khas di Gedong. Desa wisata yang dihuni warga
keturunan Cina sejak tiga abad lalu itu kini menjadi salah satu
tujuan wisata di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
JALAN RUSAK - Jalan masuk ke Desa Gedong, Kecamatan Belinyu,
Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rusak parah
seperti yang terlihat pada Desember 2003. Padahal, desa ini sejak dua
tahun lalu ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah
setempat. Jalan yang rusak menyebabkan wisatawan enggan mampir ke
desa yang dihuni oleh warga keturunan Cina tersebut.
Image: 1
Kecamatan Belinyu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar