KOMPAS - Sabtu, 03 Jul 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6024
ROMODONG, PANTAI MENAWAN YANG TELANTAR
PANTAI-pantai di Pulau Bangka tidak lebih jelek dibandingkan
dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Dewata, Bali.
Demikian kalimat yang kerap diucapkan warga Pulau Bangka dengan
nada bangga. Pasir putih landai dipagari nyiur yang setiap saat
melambai akibat diembus angin laut bisa ditemui di banyak lokasi
pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
Bebatuan raksasa yang ada di kawasan pantai menjadi pelengkap
keindahan alam yang memang menawan.
Beberapa pantai yang telah dikelola sebagai tempat tujuan wisata
selalu mengundang pengunjung untuk datang dan datang kembali
menikmati kemolekannya.
Beberapa pantai di Bangka yang memesona telah dikelola dengan
baik, sebut saja misalnya Pantai Parai Indah Tengiri, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Matras, dan Pantai Batu Bedaun. Semua pantai itu
berada di Kabupaten Bangka. Pantai Pasir Padi di Kota Pangkal Pinang
juga merupakan obyek yang menawan.
Beberapa di antara sejumlah pantai indah di Pulau Bangka itu
telah dikelola dan menjadi tempat tujuan wisata. Sejumlah tempat
penginapan, seperti hotel dan cottage, pun menjadi bagian tak
terpisahkan dan pelengkap industri pariwisata tersebut. Di Pantai
Parai Indah Tengiri, misalnya, pengunjung juga bisa menikmati
perairan pantai dengan menggunakan jetsky sewaan.
Akan tetapi, kendati menyimpan potensi keindahan yang tidak
terbatas, tidak semua pantai bisa langgeng menjadi tempat wisata
memadai. Akibat kurang diurus, keindahan pantai berubah hingga tidak
bisa lagi menjadi lokasi untuk berekreasi, menghilangkan penat
setelah bekerja terus-menerus sepanjang minggu.
Inilah yang terjadi pada Pantai Romodong di kawasan Belinyu,
Kabupaten Bangka. Sudah bertahun-tahun pantai yang pernah menjadi
salah satu primadona wisata di Pulau Bangka tersebut berubah menjadi
kawasan kumuh. Pantai Romodong tidak lagi menjadi pantai yang
menyimpan pesona. Yang tampak justru kekumuhan, sampah, dan belukar
yang mengitarinya. Ibarat rumah, Romodong tak ubahnya bangunan lama
yang tidak dihuni sehingga rusak di sana-sini, porak-poranda akibat
diterjang hujan dan angin.
"Sudah lama pantai ini sepi. Orang tidak mau datang lagi ke sini
karena pantainya kotor. Dulu Romodong selalu ramai. Tapi, karena
tidak diurus lagi, pantai ini menjadi seperti ini. Saya tidak
mengerti, mengapa pemerintah daerah tidak membuka dan mengurus
kembali pantai ini," kata Nurman, nelayan yang ditemui di kawasan
pantai.
Pantai Romodong kini penuh sampah. Meskipun pantainya tetap
landai, banyaknya sampah tentu membuat pantai itu tidak lagi menjadi
lokasi yang nyaman, bahkan untuk duduk-duduk atau bermain pasir
sekali pun.
Di luar kawasan pasir landai, semak belukar kini mengitarinya.
Tumbuhan dengan bebas hidup di bekas primadona wisata pantai
tersebut. Sekilas, kesan yang muncul, Pantai Romodong merupakan
kawasan yang menyeramkan. Apalagi di antara semak terlihat adanya
bekas sejumlah rumah yang telah ambruk.
PUING bekas rumah-rumah itulah yang kini menjadi salah satu
penghias Pantai Romodong. Padahal, belasan tahun lalu cottage itulah
yang menjadi salah satu ciri khas dan kelebihan Romodong. Di bangunan
tembok dan kayu, dahulu pengunjung menginap dan beristirahat setelah
penat menikmati dan bermain di pantai.
Bekas puluhan cottage itu pula yang mencerminkan kehancuran
Pantai Romodong. Bekas bangunan-bangunan yang tidak berbentuk lagi
tersebut seolah menjadi peninggalan kejayaan masa lalu Romodong yang
aduhai.
Keterangan yang diperoleh menyebutkan, bekas bangunan itu semakin
menemui kehancurannya setelah tangan-tangan jahil beraksi. Setelah
ditinggalkan oleh pengelola pantai, kawanan penjahat beraksi dengan
menjarah apa pun yang ada di dalam cottage. Para penjarah mengganyang
habis kusen, daun jendela dan pintu, genteng, bahkan hingga engsel
pintu dan jendela. Penjarah itu konon datang dari laut.
Aksi penjarahan bangunan tersebut kabarnya bahkan berlangsung
secara terang-terangan pada siang hari. Lokasi pantai yang cukup jauh
dari permukiman penduduk terdekat membuat aksi para penjarah tidak
mendapat halangan apa pun, termasuk dari aparat penegak hukum.
Penduduk terdekat di sekitar pantai hanya bisa melihat aksi para
penjarah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sisa-sisa aksi penjarahan itu saat ini terlihat jelas dari tembok
bangunan atau kayu-kayu papan dinding. Genteng tidak terlihat lagi di
bangunan yang masih berdiri. Sebagian besar bekas bangunan juga sudah
ambruk dan telah ditumbuhi semak belukar. Bekas bangunan umumnya
telah tertutup tumbuhan dan terlihat menyembul di antara semak.
PANTAI Romodong berada di kawasan Belinyu, di bagian barat laut
Pulau Bangka. Untuk bisa ke lokasi ini, dari Pangkal Pinang, ibu kota
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pengunjung bisa menggunakan
kendaraan melalui Sungailiat hingga ke Belinyu. Dari kota kecamatan
ini, Pantai Romodong tinggal beberapa kilometer lagi. Jarak antara
Sungailiat ke Pantai Romodong sekitar 77 kilometer.
Ruas jalan yang dilalui, mulai dari Pangkal Pinang, Sungailiat,
hingga Romodong, semuanya mulus beraspal hotmix.
Kawasan Belinyu, sebagaimana banyak lokasi lain di Pulau Bangka,
telah hancur. Bumi telah dikupas para penambang untuk mencari timah.
Baik bekas tambang maupun lokasi tambang yang masih terus digali
telah rusak parah dan menyisakan kolam-kolam tak beraturan serta
sebaran tailing (limbah bekas galian) di sekitarnya.
Rusaknya sebagian bumi Bangka akibat penambangan timah yang tak
terkendali, seolah identik dengan rusak dan tidak terurusnya Pantai
Romodong. Akibat tidak diurus dengan benar, bumi Bangka kini di
ambang kehancuran. Seandainya penambangan timah terus tidak bisa
dikendalikan, bumi Bangka mungkin akan bernasib sama seperti Pantai
Romodong yang kini telantar dan tidak menawan lagi. (AGUS MULYADI)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar