KOMPAS - Sabtu, 15 Jan 2005 Halaman: 31 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6385 Foto: 1
DANAU MAS REJANG LEBONG BENGKULU BELUM BERKILAU
KABUT cukup tebal menyelimuti kawasan pegunungan itu pada Minggu
pagi pekan terakhir Desember 2004. Di jalan, pengendara kendaraan
bermotor beroda empat dan dua menyalakan lampu.
DI sebuah lembah yang dikitari oleh perbukitan, sekelompok ibu-
ibu pedagang tengah menata dagangan mereka di atas meja-meja.
Sekelompok pemuda berjaket tengah berkerumun di tempat parkir
kendaraan yang masih kosong. Beberapa orang di antara mereka tengah
merokok, mungkin untuk mengurangi udara dingin. Dua orang di antara
mereka lalu mencoba menyalakan api di setumpukan kayu, persis di
batas luar lahan parkir.
Kecuali ibu-ibu pedagang dan kelompok pemuda, tidak ada orang
lain terlihat di kawasan itu. Kesan sepi terasa menaungi kawasan
berhawa sejuk tersebut. Di kejauhan, di punggung-punggung bukit yang
mengelilingi danau dan kebetulan tidak diselimuti kabut, tanaman
sayuran berbagai jenis terlihat hijau subur. Samar-samar terlihat
sejumlah petani tengah memetik sayuran di kebun mereka. Pemandangan
dan udara pagi terasa segar.
"Pada hari Minggu seperti sekarang ini biasanya pada siang nanti
pasti akan datang banyak pengunjung. Akan tetapi mungkin saja hari
ini sepi, tergantung hujan turun atau tidak," ucap Darmawan, salah
seorang pemuda di tempat parkir.
Kendati senyap masih menyergap, kawasan wisata Danau Mas di Desa
Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong,
Provinsi Bengkulu, itu terasa menyimpan potensi keindahan alami yang
menawan. Meskipun obyek wisata yang ditawarkan hanyalah berupa danau
di perbukitan, kawasan itu tetap menawan bagi pengunjung yang datang.
Terlebih lagi, kawasan Rejang Lebong sedikit memiliki obyek wisata.
Kawah Bukit Kaba dan Air Panas Suban hanyalah dua lokasi wisata lain
yang menjadi pilihan wisatawan di daerah itu.
Danau Mas terletak sekitar 19 kilometer dari Curup, ibu kota
Kabupaten Rejang Lebong, atau sekitar 25 kilometer dari Lubuk
Linggau, Sumatera Selatan. Danau ini terletak di tepi jalan yang
menghubungkan dua kota bertetangga tetapi lain provinsi tersebut.
Lokasi Danau Mas akan dengan mudah terlihat oleh para pengguna
jalan yang tengah melintas. Letak danau yang berada di lembah, persis
di bagian bawah tepi jalan, memudahkan pemakai jalan untuk melihatnya.
"Pengunjung yang datang ke sini, sebagian memang pemakai jalan
yang tengah melintas, baik ke arah Lubuk Linggau maupun ke arah Curup
dan Bengkulu," kata seorang tukang parkir.
***
DANAU Mas memang menjadi pilihan yang menarik untuk sekadar
menghilangkan penat, terutama bagi warga Kota Bengkulu dan daerah
pantai lain di Bengkulu. Dengan datang ke lokasi wisata ini, paling
tidak warga yang umumnya berdiam tak jauh dari pantai mendapatkan
suasana lain, yakni pegunungan, termasuk udaranya yang sejuk dan
segar.
Warga Lubuk Linggau pun hanya memiliki pilihan lokasi wisata
berhawa sejuk di Danau Mas. Perbedaan iklim dan suhu udara menjadikan
kawasan wisata ini menjadi pilihan yang tidak boleh ditinggalkan.
Apalagi di Lubuk Linggau tidak ada lokasi wisata berudara sejuk
seperti Danau Mas.
Namun sayang, potensi begitu besar yang dapat mendukung
berkembangnya bisnis wisata danau tersebut rupanya belum menjadi
prioritas pemerintah daerah setempat untuk mengembangkannya.
Fasilitas pendukung tempat wisata itu jauh dari memadai.
Untuk penunjang wisata utama, yaitu danau, misalnya, saat ini
hanya tersedia beberapa sepeda air. Terbatasnya fasilitas pendukung
itu menyebabkan pengunjung yang hendak bermain-main di danau kerap
harus lama antre bersama pengunjung lain.
Fasilitas pendukung lain hanya berupa taman di bawah pepohonan di
sisi timur danau. Di lokasi ini terdapat pula beberapa kursi ayun
besi, yang biasa digunakan bermain oleh anak- anak atau pasangan muda-
mudi yang tengah berpacaran. Meski dengan fasilitas terbatas, tempat
di tepi danau ini tetap cukup lumayan bagi keluarga yang hendak
melepas penat dan bagi anak-anak mereka yang mendapat hiburan sehat.
Dengan fasilitas yang masih terbatas, Danau Mas tetap menjadi
pilihan warga untuk berkunjung karena memang tidak ada pilihan tempat
wisata sejenis di kawasan itu. Menurut Burmawi, pengelola Danau Mas,
pada hari Minggu atau hari libur rata-rata 300 pengunjung datang ke
tempat wisata alam tersebut.
"Jumlah pengunjung akan semakin banyak pada waktu digelar
panggung hiburan di tempat ini," katanya.
Pada hari-hari biasa, ungkap Burmawi, jumlah pengunjung tak
terlalu banyak. Jumlahnya hanya puluhan orang. Ia mengakui, masih
sedikitnya pengunjung yang datang ke danau dengan nama resmi Danau
Mas Harun Bastari itu memang karena masih terbatasnya fasilitas
pendukung.
Saat ini di sekitar kawasan danau seluas 36 hektar yang dibuka
sebagai tempat wisata pada tahun 1980-an tersebut hanya terdapat tiga
vila dan satu hotel. Semuanya itu dikelola oleh swasta.
Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong sendiri sebenarnya tak tinggal
diam. Malah pemerintah kabupaten telah mengalokasikan anggaran
belasan miliar rupiah untuk membangun kawasan wisata Danau Mas yang
lebih representatif. Selain akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas
pendukung danau dan taman di sekelilingnya, sebanyak 100 vila juga
akan dibangun di perbukitan di atas danau.
Hingga pembangunan terhenti, seperti yang terlihat pada akhir
Desember 2004, sebanyak 53 vila telah dibangun. Dari lokasi di
ketinggian itu, Danau Mas dan sekitarnya bisa terlihat. Sementara
untuk kawasan danau sendiri belum ada penambahan fasilitas pendukung,
termasuk rencana membangun rumah makan di pulau yang ada di tengah
danau. Belum jelas mengapa rencana besar itu terhenti.
Terhentinya proyek pembangunan Danau Mas tentu saja menyebabkan
danau tersebut tetap merana. Pengunjung pun tetap hanya bisa
menikmati fasilitas wisata yang terbatas. Danau Mas memang belum
sekemilau seperti namanya. Kemilau Danau Mas masih tertutup kabut
setumpuk permasalahan pengelolaannya. (AGUS MULYADI)
Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
BELUM BERKILAU-Danau Mas yang dikelilingi keindahan perbukitan Rejang
Lebong hingga kini masih merana. Tempat wisata alam ini belum memiliki
fasilitas pendukung yang memadai.
Peta: 1
Rabu, 13 Agustus 2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Romodong, Pantai Menawan yang Telantar
KOMPAS - Sabtu, 03 Jul 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6024
ROMODONG, PANTAI MENAWAN YANG TELANTAR
PANTAI-pantai di Pulau Bangka tidak lebih jelek dibandingkan
dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Dewata, Bali.
Demikian kalimat yang kerap diucapkan warga Pulau Bangka dengan
nada bangga. Pasir putih landai dipagari nyiur yang setiap saat
melambai akibat diembus angin laut bisa ditemui di banyak lokasi
pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
Bebatuan raksasa yang ada di kawasan pantai menjadi pelengkap
keindahan alam yang memang menawan.
Beberapa pantai yang telah dikelola sebagai tempat tujuan wisata
selalu mengundang pengunjung untuk datang dan datang kembali
menikmati kemolekannya.
Beberapa pantai di Bangka yang memesona telah dikelola dengan
baik, sebut saja misalnya Pantai Parai Indah Tengiri, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Matras, dan Pantai Batu Bedaun. Semua pantai itu
berada di Kabupaten Bangka. Pantai Pasir Padi di Kota Pangkal Pinang
juga merupakan obyek yang menawan.
Beberapa di antara sejumlah pantai indah di Pulau Bangka itu
telah dikelola dan menjadi tempat tujuan wisata. Sejumlah tempat
penginapan, seperti hotel dan cottage, pun menjadi bagian tak
terpisahkan dan pelengkap industri pariwisata tersebut. Di Pantai
Parai Indah Tengiri, misalnya, pengunjung juga bisa menikmati
perairan pantai dengan menggunakan jetsky sewaan.
Akan tetapi, kendati menyimpan potensi keindahan yang tidak
terbatas, tidak semua pantai bisa langgeng menjadi tempat wisata
memadai. Akibat kurang diurus, keindahan pantai berubah hingga tidak
bisa lagi menjadi lokasi untuk berekreasi, menghilangkan penat
setelah bekerja terus-menerus sepanjang minggu.
Inilah yang terjadi pada Pantai Romodong di kawasan Belinyu,
Kabupaten Bangka. Sudah bertahun-tahun pantai yang pernah menjadi
salah satu primadona wisata di Pulau Bangka tersebut berubah menjadi
kawasan kumuh. Pantai Romodong tidak lagi menjadi pantai yang
menyimpan pesona. Yang tampak justru kekumuhan, sampah, dan belukar
yang mengitarinya. Ibarat rumah, Romodong tak ubahnya bangunan lama
yang tidak dihuni sehingga rusak di sana-sini, porak-poranda akibat
diterjang hujan dan angin.
"Sudah lama pantai ini sepi. Orang tidak mau datang lagi ke sini
karena pantainya kotor. Dulu Romodong selalu ramai. Tapi, karena
tidak diurus lagi, pantai ini menjadi seperti ini. Saya tidak
mengerti, mengapa pemerintah daerah tidak membuka dan mengurus
kembali pantai ini," kata Nurman, nelayan yang ditemui di kawasan
pantai.
Pantai Romodong kini penuh sampah. Meskipun pantainya tetap
landai, banyaknya sampah tentu membuat pantai itu tidak lagi menjadi
lokasi yang nyaman, bahkan untuk duduk-duduk atau bermain pasir
sekali pun.
Di luar kawasan pasir landai, semak belukar kini mengitarinya.
Tumbuhan dengan bebas hidup di bekas primadona wisata pantai
tersebut. Sekilas, kesan yang muncul, Pantai Romodong merupakan
kawasan yang menyeramkan. Apalagi di antara semak terlihat adanya
bekas sejumlah rumah yang telah ambruk.
PUING bekas rumah-rumah itulah yang kini menjadi salah satu
penghias Pantai Romodong. Padahal, belasan tahun lalu cottage itulah
yang menjadi salah satu ciri khas dan kelebihan Romodong. Di bangunan
tembok dan kayu, dahulu pengunjung menginap dan beristirahat setelah
penat menikmati dan bermain di pantai.
Bekas puluhan cottage itu pula yang mencerminkan kehancuran
Pantai Romodong. Bekas bangunan-bangunan yang tidak berbentuk lagi
tersebut seolah menjadi peninggalan kejayaan masa lalu Romodong yang
aduhai.
Keterangan yang diperoleh menyebutkan, bekas bangunan itu semakin
menemui kehancurannya setelah tangan-tangan jahil beraksi. Setelah
ditinggalkan oleh pengelola pantai, kawanan penjahat beraksi dengan
menjarah apa pun yang ada di dalam cottage. Para penjarah mengganyang
habis kusen, daun jendela dan pintu, genteng, bahkan hingga engsel
pintu dan jendela. Penjarah itu konon datang dari laut.
Aksi penjarahan bangunan tersebut kabarnya bahkan berlangsung
secara terang-terangan pada siang hari. Lokasi pantai yang cukup jauh
dari permukiman penduduk terdekat membuat aksi para penjarah tidak
mendapat halangan apa pun, termasuk dari aparat penegak hukum.
Penduduk terdekat di sekitar pantai hanya bisa melihat aksi para
penjarah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sisa-sisa aksi penjarahan itu saat ini terlihat jelas dari tembok
bangunan atau kayu-kayu papan dinding. Genteng tidak terlihat lagi di
bangunan yang masih berdiri. Sebagian besar bekas bangunan juga sudah
ambruk dan telah ditumbuhi semak belukar. Bekas bangunan umumnya
telah tertutup tumbuhan dan terlihat menyembul di antara semak.
PANTAI Romodong berada di kawasan Belinyu, di bagian barat laut
Pulau Bangka. Untuk bisa ke lokasi ini, dari Pangkal Pinang, ibu kota
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pengunjung bisa menggunakan
kendaraan melalui Sungailiat hingga ke Belinyu. Dari kota kecamatan
ini, Pantai Romodong tinggal beberapa kilometer lagi. Jarak antara
Sungailiat ke Pantai Romodong sekitar 77 kilometer.
Ruas jalan yang dilalui, mulai dari Pangkal Pinang, Sungailiat,
hingga Romodong, semuanya mulus beraspal hotmix.
Kawasan Belinyu, sebagaimana banyak lokasi lain di Pulau Bangka,
telah hancur. Bumi telah dikupas para penambang untuk mencari timah.
Baik bekas tambang maupun lokasi tambang yang masih terus digali
telah rusak parah dan menyisakan kolam-kolam tak beraturan serta
sebaran tailing (limbah bekas galian) di sekitarnya.
Rusaknya sebagian bumi Bangka akibat penambangan timah yang tak
terkendali, seolah identik dengan rusak dan tidak terurusnya Pantai
Romodong. Akibat tidak diurus dengan benar, bumi Bangka kini di
ambang kehancuran. Seandainya penambangan timah terus tidak bisa
dikendalikan, bumi Bangka mungkin akan bernasib sama seperti Pantai
Romodong yang kini telantar dan tidak menawan lagi. (AGUS MULYADI)
ROMODONG, PANTAI MENAWAN YANG TELANTAR
PANTAI-pantai di Pulau Bangka tidak lebih jelek dibandingkan
dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Dewata, Bali.
Demikian kalimat yang kerap diucapkan warga Pulau Bangka dengan
nada bangga. Pasir putih landai dipagari nyiur yang setiap saat
melambai akibat diembus angin laut bisa ditemui di banyak lokasi
pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
Bebatuan raksasa yang ada di kawasan pantai menjadi pelengkap
keindahan alam yang memang menawan.
Beberapa pantai yang telah dikelola sebagai tempat tujuan wisata
selalu mengundang pengunjung untuk datang dan datang kembali
menikmati kemolekannya.
Beberapa pantai di Bangka yang memesona telah dikelola dengan
baik, sebut saja misalnya Pantai Parai Indah Tengiri, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Matras, dan Pantai Batu Bedaun. Semua pantai itu
berada di Kabupaten Bangka. Pantai Pasir Padi di Kota Pangkal Pinang
juga merupakan obyek yang menawan.
Beberapa di antara sejumlah pantai indah di Pulau Bangka itu
telah dikelola dan menjadi tempat tujuan wisata. Sejumlah tempat
penginapan, seperti hotel dan cottage, pun menjadi bagian tak
terpisahkan dan pelengkap industri pariwisata tersebut. Di Pantai
Parai Indah Tengiri, misalnya, pengunjung juga bisa menikmati
perairan pantai dengan menggunakan jetsky sewaan.
Akan tetapi, kendati menyimpan potensi keindahan yang tidak
terbatas, tidak semua pantai bisa langgeng menjadi tempat wisata
memadai. Akibat kurang diurus, keindahan pantai berubah hingga tidak
bisa lagi menjadi lokasi untuk berekreasi, menghilangkan penat
setelah bekerja terus-menerus sepanjang minggu.
Inilah yang terjadi pada Pantai Romodong di kawasan Belinyu,
Kabupaten Bangka. Sudah bertahun-tahun pantai yang pernah menjadi
salah satu primadona wisata di Pulau Bangka tersebut berubah menjadi
kawasan kumuh. Pantai Romodong tidak lagi menjadi pantai yang
menyimpan pesona. Yang tampak justru kekumuhan, sampah, dan belukar
yang mengitarinya. Ibarat rumah, Romodong tak ubahnya bangunan lama
yang tidak dihuni sehingga rusak di sana-sini, porak-poranda akibat
diterjang hujan dan angin.
"Sudah lama pantai ini sepi. Orang tidak mau datang lagi ke sini
karena pantainya kotor. Dulu Romodong selalu ramai. Tapi, karena
tidak diurus lagi, pantai ini menjadi seperti ini. Saya tidak
mengerti, mengapa pemerintah daerah tidak membuka dan mengurus
kembali pantai ini," kata Nurman, nelayan yang ditemui di kawasan
pantai.
Pantai Romodong kini penuh sampah. Meskipun pantainya tetap
landai, banyaknya sampah tentu membuat pantai itu tidak lagi menjadi
lokasi yang nyaman, bahkan untuk duduk-duduk atau bermain pasir
sekali pun.
Di luar kawasan pasir landai, semak belukar kini mengitarinya.
Tumbuhan dengan bebas hidup di bekas primadona wisata pantai
tersebut. Sekilas, kesan yang muncul, Pantai Romodong merupakan
kawasan yang menyeramkan. Apalagi di antara semak terlihat adanya
bekas sejumlah rumah yang telah ambruk.
PUING bekas rumah-rumah itulah yang kini menjadi salah satu
penghias Pantai Romodong. Padahal, belasan tahun lalu cottage itulah
yang menjadi salah satu ciri khas dan kelebihan Romodong. Di bangunan
tembok dan kayu, dahulu pengunjung menginap dan beristirahat setelah
penat menikmati dan bermain di pantai.
Bekas puluhan cottage itu pula yang mencerminkan kehancuran
Pantai Romodong. Bekas bangunan-bangunan yang tidak berbentuk lagi
tersebut seolah menjadi peninggalan kejayaan masa lalu Romodong yang
aduhai.
Keterangan yang diperoleh menyebutkan, bekas bangunan itu semakin
menemui kehancurannya setelah tangan-tangan jahil beraksi. Setelah
ditinggalkan oleh pengelola pantai, kawanan penjahat beraksi dengan
menjarah apa pun yang ada di dalam cottage. Para penjarah mengganyang
habis kusen, daun jendela dan pintu, genteng, bahkan hingga engsel
pintu dan jendela. Penjarah itu konon datang dari laut.
Aksi penjarahan bangunan tersebut kabarnya bahkan berlangsung
secara terang-terangan pada siang hari. Lokasi pantai yang cukup jauh
dari permukiman penduduk terdekat membuat aksi para penjarah tidak
mendapat halangan apa pun, termasuk dari aparat penegak hukum.
Penduduk terdekat di sekitar pantai hanya bisa melihat aksi para
penjarah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sisa-sisa aksi penjarahan itu saat ini terlihat jelas dari tembok
bangunan atau kayu-kayu papan dinding. Genteng tidak terlihat lagi di
bangunan yang masih berdiri. Sebagian besar bekas bangunan juga sudah
ambruk dan telah ditumbuhi semak belukar. Bekas bangunan umumnya
telah tertutup tumbuhan dan terlihat menyembul di antara semak.
PANTAI Romodong berada di kawasan Belinyu, di bagian barat laut
Pulau Bangka. Untuk bisa ke lokasi ini, dari Pangkal Pinang, ibu kota
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pengunjung bisa menggunakan
kendaraan melalui Sungailiat hingga ke Belinyu. Dari kota kecamatan
ini, Pantai Romodong tinggal beberapa kilometer lagi. Jarak antara
Sungailiat ke Pantai Romodong sekitar 77 kilometer.
Ruas jalan yang dilalui, mulai dari Pangkal Pinang, Sungailiat,
hingga Romodong, semuanya mulus beraspal hotmix.
Kawasan Belinyu, sebagaimana banyak lokasi lain di Pulau Bangka,
telah hancur. Bumi telah dikupas para penambang untuk mencari timah.
Baik bekas tambang maupun lokasi tambang yang masih terus digali
telah rusak parah dan menyisakan kolam-kolam tak beraturan serta
sebaran tailing (limbah bekas galian) di sekitarnya.
Rusaknya sebagian bumi Bangka akibat penambangan timah yang tak
terkendali, seolah identik dengan rusak dan tidak terurusnya Pantai
Romodong. Akibat tidak diurus dengan benar, bumi Bangka kini di
ambang kehancuran. Seandainya penambangan timah terus tidak bisa
dikendalikan, bumi Bangka mungkin akan bernasib sama seperti Pantai
Romodong yang kini telantar dan tidak menawan lagi. (AGUS MULYADI)
Gedong, Desa Wisata yang Dihuni Warga Keturunan Cina
KOMPAS - Sabtu, 14 Feb 2004 Halaman: 35 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7408 Foto: 2
GEDONG, DESA WISATA YANG DIHUNI WARGA KETURUNAN CINA
SETIAP perayaan Imlek datang, kehidupan di Desa Gedong, Kecamatan
Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
berubah dibandingkan hari-hari biasa. Sanak saudara yang pergi
merantau ke kota atau daerah lain biasanya datang ke desa yang
terletak di kawasan utara Pulau Bangka itu.
Dengan membawa aneka macam barang oleh-oleh dan cerita segala
jenis kesuksesan, mereka datang ke kampung halaman. Pada saat Imlek,
mereka berbagi kebahagiaan dengan keluarga di desa kelahiran.
"Pada tahun baru Imlek desa kami ini ramai karena saudara yang
merantau pulang kampung," ujar Cie Sun Ti alias Santi (16), warga
Gedong yang juga pelajar di kelas II sebuah sekolah menengah kejuruan
(SMK) di Belinyu.
Informasi yang diberikan Santi diucapkan dalam bahasa Indonesia
yang lancar. Kenyataan itu sekaligus membuyarkan bayangan sebelumnya
ketika akan memasuki Gedong. Keterangan dari seorang staf di kantor
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan bahwa
hampir tidak ada warga Gedong yang bisa berbahasa Indonesia.
Mereka hingga kini masih menggunakan bahasa leluhur, yakni bahasa
Cina dengan dialek suku bangsa Khek. "Saya tidak tahu di bagian
daratan Cina mana daerah leluhur kami berasal," ujar Cie Khun Bui,
kakak Santi, juga dengan bahasa Indonesia, namun dengan logat Cina.
***
JALAN berlubang dan berlumpur sepanjang 300 meter menghadang laju
kendaraan saat hendak memasuki Gedong. Meskipun tidak sampai membuat
kendaraan terhenti, kerusakan jalan tersebut tetap mengganggu.
Sebelumnya, perjalanan sejauh 90 kilometer dari Pangkalpinang
melalui Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, cukup mulus. Jalan
rusak sebelum memasuki Gedong sama sekali tak terbayang. Soalnya,
desa yang dituju adalah sebuah desa wisata.
Gara-gara jalan rusak itulah, bayangan indahnya sebuah desa
wisata pun menjadi rusak. "Masak jalan menuju desa wisata seperti
ini. Seharusnya jalan ke tempat wisata dalam kondisi mulus," ujar
Chaidir, seorang teman yang ikut dalam perjalanan menuju Gedong.
Begitu pun saat melintasi gerbang masuk Desa Gedong selepas jalan
rusak, bayangan akan indahnya desa wisata juga belum muncul. Namun,
saat memasuki permukiman, gedung pertama yang tampak adalah sebuah
rumah tua berdinding kayu berarsitektur khas Cina. Ini rupanya salah
satu yang "dijual" di Gedong.
Akan tetapi, suasana pada siang hari pada bulan Desember 2003 itu
seperti tidak menggambarkan sebuah desa wisata. Gedong terlihat sepi.
Hampir tak ada orang lalu lalang di jalan desa yang umumnya berada di
antara dua barisan rumah di dua sisi berbeda.
Kesenyapan terasa makin lengkap karena rumah yang ada di Gedong
umumnya terlihat tua. Kesan buram mewarnai desa yang rumahnya rata-
rata bercat kusam.
Di tengah suasana sepi saat memasuki perkampungan Gedong itulah,
seorang gadis berambut model "buceri" (bule cat sendiri) melintas.
Dia berjalan ke salah satu rumah.
Dengan rasa waswas, khawatir si "buceri" tidak bisa berbahasa
Indonesia, Kompas pun menegurnya. Ternyata komunikasi berjalan
lancar. Gadis muda yang kemudian diketahui bernama Santi itu lancar
berbahasa Indonesia. Malah saat berbincang gaya bicaranya seperti ABG
(anak baru gede) di Jakarta.
Namun, kelancaran berkomunikasi dengan Santi, juga kakaknya Cie
Khun Bui, jangan harap muncul saat bertemu dengan ayah mereka, Cie
Sun Liong. "Orangtua saya memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Sehari-hari di sini bahasa yang digunakan memang bahasa Cina dari
suku Khek," kata Santi.
Warga Gedong dalam kesehariannya memang menggunakan bahasa negeri
leluhur mereka. Bagi warga yang sudah berumur dan tidak pernah duduk
di bangku sekolah, mereka hanya bisa berbahasa Cina.
Ketika ditanya mengapa Gedong ditetapkan sebagai desa wisata di
Kabupaten Bangka, laki-laki berusia 53 tahun itu menyatakan tidak
tahu. Penetapan desa wisata itu sendiri dilakukan pada tahun 2001
oleh Pemerintah Kabupaten Bangka.
Sejak Gedong ditetapkan sebagai desa wisata, dusun kecil
berpenghuni 50 keluarga itu akhirnya memang dikenal dunia luar.
Menurut Sun Liong, kadang datang wisatawan berombongan menggunakan
bus. Mereka tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga datang dari
mancanegara, seperti Taiwan.
Pengunjung yang datang ke Gedong umumnya hanya melihat-lihat
perkampungan tua yang tidak luas itu. Sebenarnya hampir tak ada yang
bisa "dijual" dari dusun itu sebagai daerah tujuan wisata. "Orang
yang datang ke sini paling-paling hanya melihat rumah tua itu dan
isinya," kata Santi sambil menunjuk satu rumah tua di depan rumah
mereka.
Rumah tua berdinding kayu dan beratap genting itu, menurut
penduduk setempat, dibangun lebih dari seabad lalu. Sejak awal rumah
itu berdiri, gedung itulah yang menjadi ciri khas Gedong. Nama dusun
itu pun mengambil nama dari rumah mentereng, besar, dan paling bagus
yang disebut warga setempat dengan nama rumah gedong.
***
TIDAK ada seorang pun warga Gedong mengetahui, sejak kapan nenek
moyang mereka tinggal di dusun itu. Mereka hanya menduga, leluhur
mereka datang ke kawasan itu sebagai penambang timah yang didatangkan
dan dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda sekitar tiga abad
lalu.
Para pendatang dari Cina daratan itu tidak hanya bekerja sebagai
penambang, tetapi juga bermukim di kawasan yang kini bernama Desa
Gedong tersebut. Penambangan timah terus berlangsung meskipun
kemudian Belanda pergi.
Kepala Dusun Gedong, Heri, yang juga warga keturunan Cina,
menyatakan, penduduknya memang mengandalkan hidup dari penambangan
timah. Namun, diakuinya hidup sebagai penambang timah tidaklah
menjanjikan sehingga sebagian besar generasi muda Gedong lebih
memilih mencari hidup ke berbagai daerah lain, termasuk merantau ke
Jakarta dan Bandung.
"Seorang anak saya sekarang bekerja di Jakarta, sedangkan adiknya
memilih tinggal di sini," katanya.
Para perantau biasanya hanya pulang setahun sekali, saat perayaan
Imlek. Ketika tahun baru Cina itu datang, mereka ingin merayakannya
bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Kampung halaman yang jauh
dari keramaian itu tetap dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi
sebagian warga Gedong. Ahin (25), misalnya, akhirnya pulang kampung
dan menjadi penambang timah meskipun sudah beberapa tahun tinggal di
Jakarta.
Gedong memang tetap memikat bagi sebagian penduduk setempat dan
wisatawan yang pernah berkunjung. (AGUS MULYADI)
Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
DESA WISATA GEDONG - Rumah-rumah tua berusia lebih dari satu abad
menjadi pemandangan khas di Gedong. Desa wisata yang dihuni warga
keturunan Cina sejak tiga abad lalu itu kini menjadi salah satu
tujuan wisata di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
JALAN RUSAK - Jalan masuk ke Desa Gedong, Kecamatan Belinyu,
Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rusak parah
seperti yang terlihat pada Desember 2003. Padahal, desa ini sejak dua
tahun lalu ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah
setempat. Jalan yang rusak menyebabkan wisatawan enggan mampir ke
desa yang dihuni oleh warga keturunan Cina tersebut.
Image: 1
Kecamatan Belinyu
GEDONG, DESA WISATA YANG DIHUNI WARGA KETURUNAN CINA
SETIAP perayaan Imlek datang, kehidupan di Desa Gedong, Kecamatan
Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
berubah dibandingkan hari-hari biasa. Sanak saudara yang pergi
merantau ke kota atau daerah lain biasanya datang ke desa yang
terletak di kawasan utara Pulau Bangka itu.
Dengan membawa aneka macam barang oleh-oleh dan cerita segala
jenis kesuksesan, mereka datang ke kampung halaman. Pada saat Imlek,
mereka berbagi kebahagiaan dengan keluarga di desa kelahiran.
"Pada tahun baru Imlek desa kami ini ramai karena saudara yang
merantau pulang kampung," ujar Cie Sun Ti alias Santi (16), warga
Gedong yang juga pelajar di kelas II sebuah sekolah menengah kejuruan
(SMK) di Belinyu.
Informasi yang diberikan Santi diucapkan dalam bahasa Indonesia
yang lancar. Kenyataan itu sekaligus membuyarkan bayangan sebelumnya
ketika akan memasuki Gedong. Keterangan dari seorang staf di kantor
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan bahwa
hampir tidak ada warga Gedong yang bisa berbahasa Indonesia.
Mereka hingga kini masih menggunakan bahasa leluhur, yakni bahasa
Cina dengan dialek suku bangsa Khek. "Saya tidak tahu di bagian
daratan Cina mana daerah leluhur kami berasal," ujar Cie Khun Bui,
kakak Santi, juga dengan bahasa Indonesia, namun dengan logat Cina.
***
JALAN berlubang dan berlumpur sepanjang 300 meter menghadang laju
kendaraan saat hendak memasuki Gedong. Meskipun tidak sampai membuat
kendaraan terhenti, kerusakan jalan tersebut tetap mengganggu.
Sebelumnya, perjalanan sejauh 90 kilometer dari Pangkalpinang
melalui Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, cukup mulus. Jalan
rusak sebelum memasuki Gedong sama sekali tak terbayang. Soalnya,
desa yang dituju adalah sebuah desa wisata.
Gara-gara jalan rusak itulah, bayangan indahnya sebuah desa
wisata pun menjadi rusak. "Masak jalan menuju desa wisata seperti
ini. Seharusnya jalan ke tempat wisata dalam kondisi mulus," ujar
Chaidir, seorang teman yang ikut dalam perjalanan menuju Gedong.
Begitu pun saat melintasi gerbang masuk Desa Gedong selepas jalan
rusak, bayangan akan indahnya desa wisata juga belum muncul. Namun,
saat memasuki permukiman, gedung pertama yang tampak adalah sebuah
rumah tua berdinding kayu berarsitektur khas Cina. Ini rupanya salah
satu yang "dijual" di Gedong.
Akan tetapi, suasana pada siang hari pada bulan Desember 2003 itu
seperti tidak menggambarkan sebuah desa wisata. Gedong terlihat sepi.
Hampir tak ada orang lalu lalang di jalan desa yang umumnya berada di
antara dua barisan rumah di dua sisi berbeda.
Kesenyapan terasa makin lengkap karena rumah yang ada di Gedong
umumnya terlihat tua. Kesan buram mewarnai desa yang rumahnya rata-
rata bercat kusam.
Di tengah suasana sepi saat memasuki perkampungan Gedong itulah,
seorang gadis berambut model "buceri" (bule cat sendiri) melintas.
Dia berjalan ke salah satu rumah.
Dengan rasa waswas, khawatir si "buceri" tidak bisa berbahasa
Indonesia, Kompas pun menegurnya. Ternyata komunikasi berjalan
lancar. Gadis muda yang kemudian diketahui bernama Santi itu lancar
berbahasa Indonesia. Malah saat berbincang gaya bicaranya seperti ABG
(anak baru gede) di Jakarta.
Namun, kelancaran berkomunikasi dengan Santi, juga kakaknya Cie
Khun Bui, jangan harap muncul saat bertemu dengan ayah mereka, Cie
Sun Liong. "Orangtua saya memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Sehari-hari di sini bahasa yang digunakan memang bahasa Cina dari
suku Khek," kata Santi.
Warga Gedong dalam kesehariannya memang menggunakan bahasa negeri
leluhur mereka. Bagi warga yang sudah berumur dan tidak pernah duduk
di bangku sekolah, mereka hanya bisa berbahasa Cina.
Ketika ditanya mengapa Gedong ditetapkan sebagai desa wisata di
Kabupaten Bangka, laki-laki berusia 53 tahun itu menyatakan tidak
tahu. Penetapan desa wisata itu sendiri dilakukan pada tahun 2001
oleh Pemerintah Kabupaten Bangka.
Sejak Gedong ditetapkan sebagai desa wisata, dusun kecil
berpenghuni 50 keluarga itu akhirnya memang dikenal dunia luar.
Menurut Sun Liong, kadang datang wisatawan berombongan menggunakan
bus. Mereka tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga datang dari
mancanegara, seperti Taiwan.
Pengunjung yang datang ke Gedong umumnya hanya melihat-lihat
perkampungan tua yang tidak luas itu. Sebenarnya hampir tak ada yang
bisa "dijual" dari dusun itu sebagai daerah tujuan wisata. "Orang
yang datang ke sini paling-paling hanya melihat rumah tua itu dan
isinya," kata Santi sambil menunjuk satu rumah tua di depan rumah
mereka.
Rumah tua berdinding kayu dan beratap genting itu, menurut
penduduk setempat, dibangun lebih dari seabad lalu. Sejak awal rumah
itu berdiri, gedung itulah yang menjadi ciri khas Gedong. Nama dusun
itu pun mengambil nama dari rumah mentereng, besar, dan paling bagus
yang disebut warga setempat dengan nama rumah gedong.
***
TIDAK ada seorang pun warga Gedong mengetahui, sejak kapan nenek
moyang mereka tinggal di dusun itu. Mereka hanya menduga, leluhur
mereka datang ke kawasan itu sebagai penambang timah yang didatangkan
dan dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda sekitar tiga abad
lalu.
Para pendatang dari Cina daratan itu tidak hanya bekerja sebagai
penambang, tetapi juga bermukim di kawasan yang kini bernama Desa
Gedong tersebut. Penambangan timah terus berlangsung meskipun
kemudian Belanda pergi.
Kepala Dusun Gedong, Heri, yang juga warga keturunan Cina,
menyatakan, penduduknya memang mengandalkan hidup dari penambangan
timah. Namun, diakuinya hidup sebagai penambang timah tidaklah
menjanjikan sehingga sebagian besar generasi muda Gedong lebih
memilih mencari hidup ke berbagai daerah lain, termasuk merantau ke
Jakarta dan Bandung.
"Seorang anak saya sekarang bekerja di Jakarta, sedangkan adiknya
memilih tinggal di sini," katanya.
Para perantau biasanya hanya pulang setahun sekali, saat perayaan
Imlek. Ketika tahun baru Cina itu datang, mereka ingin merayakannya
bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Kampung halaman yang jauh
dari keramaian itu tetap dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi
sebagian warga Gedong. Ahin (25), misalnya, akhirnya pulang kampung
dan menjadi penambang timah meskipun sudah beberapa tahun tinggal di
Jakarta.
Gedong memang tetap memikat bagi sebagian penduduk setempat dan
wisatawan yang pernah berkunjung. (AGUS MULYADI)
Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
DESA WISATA GEDONG - Rumah-rumah tua berusia lebih dari satu abad
menjadi pemandangan khas di Gedong. Desa wisata yang dihuni warga
keturunan Cina sejak tiga abad lalu itu kini menjadi salah satu
tujuan wisata di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
JALAN RUSAK - Jalan masuk ke Desa Gedong, Kecamatan Belinyu,
Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rusak parah
seperti yang terlihat pada Desember 2003. Padahal, desa ini sejak dua
tahun lalu ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah
setempat. Jalan yang rusak menyebabkan wisatawan enggan mampir ke
desa yang dihuni oleh warga keturunan Cina tersebut.
Image: 1
Kecamatan Belinyu
Pasir Padi, Pantai Menawan yang Nyaris Terlupakan
KOMPAS - Sabtu, 31 May 2003 Halaman: 31 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 10798 Foto: 4
PASIR PADI, PANTAI MENAWAN YANG NYARIS TERLUPAKAN
DINI, seorang mahasiswi asal Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, pernah merasa kesal karena kesasar justru di tempat
kelahirannya itu. Dalam perjalanan menuju ke kawasan wisata Pantai
Pasir Padi, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang
itu nyasar sampai sejauh empat kilometer.
SETELAH berputar-putar dan bertanya beberapa kali kepada warga
yang dilewati, Dini pun akhirnya tiba di pantai dengan hamparan pasir
putih landai tersebut. Pengalaman kesasar yang dialami itu tentu saja
membuat Dini malu dan menahan rasa kecewa kepada pengelola tempat
wisata pantai satu-satunya di ibu kota Provinsi Bangka Belitung itu.
"Masak, aku harus kesasar di kota kelahiran sendiri. Kalau aku
saja kesasar seperti itu, bagaimana orang dari daerah lain yang
hendak berkunjung ke Pasir Padi. Mereka pun tentu akan kesulitan
menemukannya," tutur Dini.
Apa yang dikemukakan Dini ada benarnya. Paling tidak, itu yang
dialami Kompas ketika hendak ke lokasi wisata yang memiliki rentang
pantai sepanjang empat kilometer itu. Perjalanan menuju Pasir Padi
terasa melelahkan dan menjengkelkan karena harus berulang kali
bertanya kepada warga di jalan yang dilintasi.
Dengan menggunakan mobil sewaan dari salah satu rental di
Pangkalpinang, perjalanan menuju Pasir Padi yang lokasinya tujuh
kilometer dari pusat kota itu menjadi terasa jauh dan melelahkan. Itu
semua terjadi karena di sepanjang jalan tidak ditemukan satu pun
rambu lalu lintas atau rambu wisata menuju Pasir Padi.
Satu-satunya rambu lalu lintas penunjuk arah hanya terdapat di
perempatan Jalan Mayor Syafri Rahman dan Jalan Bukit Intan-Jalan
Semabung. Rambu lalu lintas hanya menunjukkan arah ke Pasir Padi
melalui Jalan Semabung. Setelah itu, perjalanan hanya mengandalkan
feeling dan bertanya kepada warga yang dilintasi di jalan. Sunggguh
menyebalkan.
***
PASIR Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka.
Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa,
Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu.
Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki
sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari
sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang
membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.
Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai
Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang
menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu
dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.
"Keindahan pariwisata Pulau Bangka, terutama pantai-pantainya,
tidak kalah dengan Pulau Bali. Itu pernah dinyatakan peneliti pantai
dari beberapa negara yang pernah berkunjung ke sini," kata Irawati,
Kepala Seksi Data dan Promosi Subdinas Pariwisata Provinsi Bangka
Belitung.
Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka,
menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali
barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki
di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak
kagum melihat keindahan pantainya.
Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga
Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada
empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung
Pesona, dan Pantai Rebo.
Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu
khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata
dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar
seperti saat hendak ke Pasir Padi.
Irawati mengakui, pihaknya belum memikirkan penyediaan rambu
wisata pemberi petunjuk ke Pasir Padi. Dia memberi alasan, dengan
baru satu tahun Provinsi Bangka Belitung terbentuk, soal rambu wisata
belum masuk dalam hitungan. "Itu memang belum terpikirkan oleh kami,"
katanya.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Iziono
menyatakan hal senada. Soal rambu wisata yang begitu penting bagi
pengunjung tersebut memang masih terabaikan. Alasan yang
dikemukakannya tentu saja berbeda dengan Irawati. "Kami terbentur
masalah dana untuk menyediakan rambu-rambu wisata tersebut," ujarnya.
Menurut Iziono, instansinya akan bekerja sama dengan salah satu
bank untuk membuat rambu-rambu tersebut. Tawaran telah diberikan,
namun jawaban pasti kapan pemasangannya belum diketahui. "Pihak bank
bisa mencantumkan nama perusahaannya di rambu-rambu wisata yang
dipasang tersebut," ujarnya.
Tersedianya rambu-rambu wisata memadai yang bisa menunjukkan
lokasi Pasir Padi atau lokasi wisata lain di Pangkalpinang setidaknya
akan mengingatkan pendatang bahwa di kota itu ada tempat wisata
pantai. Bagi mereka yang tiba di Pangkalpinang dengan menggunakan
pesawat di Bandara Depati Umar, bisa pula mampir terlebih dahulu ke
Pasir Padi sebelum berkunjung ke lokasi lain.
Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena
lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah
atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan
Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang
melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir
Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.
***
KEINDAHAN Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan
karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan
keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk
Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping
sebagian kecil pendatang dari luar daerah.
Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab mengapa pantai itu
hanya ramai dikunjungi warga setempat. Itu pun hanya terjadi pada
setiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya datang
pada sore hari dengan jumlah rata-rata kurang dari 100 orang.
Pengunjung rutin yang menikmati keindahan pantai itu adalah
puluhan anak muda yang bertempat tinggal di desa-desa sekitar pantai.
Mereka datang bukan untuk mandi di pantai atau sekadar berjemur,
tetapi bermain sepak bola.
Pengunjung lain yang rutin pada sore hari bertandang ke Pasir
Padi juga berasal dari kalangan anak muda dengan berkendaraan sepeda
motor. Sambil mejeng mereka menikmati keindahan pantai, atau saling
tancap gas di atas pasir pantai yang tidak lembek saat dilindas roda
kendaraan.
Mobil-mobil pengunjung pun dengan bebas berlalu lalang di
hamparan pasir pantai. Kerasnya pasir pantai, baik yang basah maupun
yang kering, menyebabkan roda tidak amblas ke dalam pasir. Kondisi
seperti itu yang membuat mereka berani bermobilria di pantai. Malah,
sebagian pengunjung datang hanya untuk belajar menyetir mobil!
Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan
pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua
mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di
Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti
ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa
keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.
Keindahan alam yang ditopang kelebihan berupa pasir padat di
pantai itu ternyata belum mampu memancing lebih banyak wisatawan dari
luar daerah atau mancanegara. Wisatawan yang datang umumnya hanya
wisatawan lokal, Pangkalpinang maupun dari daerah sekitarnya saja.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim mengatakan, Pasir
Padi memang hanya banyak dikunjungi oleh
kalangan "wiski". "Pengunjung yang datang ke Pasir Padi memang masih
dari kalangan ÆwiskiÆ, wisatawan mriki," katanya sambil tertawa.
Wisatawan mriki yang dimaksudkan Zulkarnaen adalah wisatawan lokal.
Dia berharap, Pasir Padi tidak hanya dikunjungi wisatawan dari
kalangan warga setempat. Suatu saat, Pantai Pasir Padi akan dibanjiri
wisatawan dari provinsi lain dan dari mancanegara.
Pemerintah Kota Pangkalpinang, menurut Zulkarnaen Karim, akan
menjadikan Pasir Padi sebagai kawasan wisata dengan fasilitas memadai
agar bisa menarik wisatawan. Sejumlah perbaikan akan dilakukan untuk
mewujudkannya.
"Kalau turis yang datang ke Bali pasti berkunjung ke Pantai Kuta,
nantinya turis ke Bangka pun akan berkunjung ke Pasir Padi terlebih
dahulu sebelum ke lokasi lain. Pasir Padi akan menjadi ÆPantai KutaÆ-
nya Pulau Bangka," ucap Zulkarnaen.
Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas
memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan
sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat
tempat hiburan karaoke dan diskotek.
Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung,
seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula,
Pasir Padi menjadi tidak menarik bagi pengunjung.
Bagaimana mau menikmati pantai, melepas kepenatan, dan bergembira
jika untuk mencari toilet saja susahnya bukan main. Jika tidak
dikelola secara profesional, Pasir Padi tentu akan semakin
ditinggalkan, dan akhirnya dilupakan. (AGUS MULYADI)
Foto: 4
Kompas/Agus Mulyadi
LALU LALANG DI PANTAI - Pantai Pasir Padi yang tidak gembur membuat
kendaraan roda dua dan empat bisa melintas di atasnya. Pengunjung
berkendaraan dengan bebas berlalu lalang di pantai tanpa takut roda
kendaraan amblas ke dalam pasir. Di kejauhan di perairan pantai,
tampak melintas dua kapal yang sedang berlayar menuju ke Pelabuhan
Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, yang terletak di sebelah utara
kawasan pantai ini.
KANDAS - Perahu motor yang biasa membawa pengunjung Pantai Pasir Padi
untuk berperahu di perairan pantai kandas di hamparan pasir. Pemilik
perahu motor itu harus menunggu air pasang naik agar bisa kembali
melaut.
KINI JADI HOTEL - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok, Pulau
Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung yang
dibangun di atas Bukit Menumbing ini pada tahun 1949 menjadi tempat
pengasingan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing.
BERMAIN BOLA - Sekelompok pengunjung Pantai Pasir Padi memanfaatkan
waktu mereka dengan bermain sepak bola di pantai berpasir. Kerasnya
pasir di pantai itu membuat mereka bisa dengan bebas mempertontonkan
kebolehannya. Mereka bergembira bersama di atas pantai yang landai
dan indah.
Image: 1
Peta Provinsi Bangka Belitung
PASIR PADI, PANTAI MENAWAN YANG NYARIS TERLUPAKAN
DINI, seorang mahasiswi asal Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, pernah merasa kesal karena kesasar justru di tempat
kelahirannya itu. Dalam perjalanan menuju ke kawasan wisata Pantai
Pasir Padi, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang
itu nyasar sampai sejauh empat kilometer.
SETELAH berputar-putar dan bertanya beberapa kali kepada warga
yang dilewati, Dini pun akhirnya tiba di pantai dengan hamparan pasir
putih landai tersebut. Pengalaman kesasar yang dialami itu tentu saja
membuat Dini malu dan menahan rasa kecewa kepada pengelola tempat
wisata pantai satu-satunya di ibu kota Provinsi Bangka Belitung itu.
"Masak, aku harus kesasar di kota kelahiran sendiri. Kalau aku
saja kesasar seperti itu, bagaimana orang dari daerah lain yang
hendak berkunjung ke Pasir Padi. Mereka pun tentu akan kesulitan
menemukannya," tutur Dini.
Apa yang dikemukakan Dini ada benarnya. Paling tidak, itu yang
dialami Kompas ketika hendak ke lokasi wisata yang memiliki rentang
pantai sepanjang empat kilometer itu. Perjalanan menuju Pasir Padi
terasa melelahkan dan menjengkelkan karena harus berulang kali
bertanya kepada warga di jalan yang dilintasi.
Dengan menggunakan mobil sewaan dari salah satu rental di
Pangkalpinang, perjalanan menuju Pasir Padi yang lokasinya tujuh
kilometer dari pusat kota itu menjadi terasa jauh dan melelahkan. Itu
semua terjadi karena di sepanjang jalan tidak ditemukan satu pun
rambu lalu lintas atau rambu wisata menuju Pasir Padi.
Satu-satunya rambu lalu lintas penunjuk arah hanya terdapat di
perempatan Jalan Mayor Syafri Rahman dan Jalan Bukit Intan-Jalan
Semabung. Rambu lalu lintas hanya menunjukkan arah ke Pasir Padi
melalui Jalan Semabung. Setelah itu, perjalanan hanya mengandalkan
feeling dan bertanya kepada warga yang dilintasi di jalan. Sunggguh
menyebalkan.
***
PASIR Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka.
Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa,
Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu.
Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki
sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari
sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang
membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.
Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai
Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang
menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu
dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.
"Keindahan pariwisata Pulau Bangka, terutama pantai-pantainya,
tidak kalah dengan Pulau Bali. Itu pernah dinyatakan peneliti pantai
dari beberapa negara yang pernah berkunjung ke sini," kata Irawati,
Kepala Seksi Data dan Promosi Subdinas Pariwisata Provinsi Bangka
Belitung.
Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka,
menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali
barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki
di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak
kagum melihat keindahan pantainya.
Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga
Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada
empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung
Pesona, dan Pantai Rebo.
Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu
khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata
dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar
seperti saat hendak ke Pasir Padi.
Irawati mengakui, pihaknya belum memikirkan penyediaan rambu
wisata pemberi petunjuk ke Pasir Padi. Dia memberi alasan, dengan
baru satu tahun Provinsi Bangka Belitung terbentuk, soal rambu wisata
belum masuk dalam hitungan. "Itu memang belum terpikirkan oleh kami,"
katanya.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Iziono
menyatakan hal senada. Soal rambu wisata yang begitu penting bagi
pengunjung tersebut memang masih terabaikan. Alasan yang
dikemukakannya tentu saja berbeda dengan Irawati. "Kami terbentur
masalah dana untuk menyediakan rambu-rambu wisata tersebut," ujarnya.
Menurut Iziono, instansinya akan bekerja sama dengan salah satu
bank untuk membuat rambu-rambu tersebut. Tawaran telah diberikan,
namun jawaban pasti kapan pemasangannya belum diketahui. "Pihak bank
bisa mencantumkan nama perusahaannya di rambu-rambu wisata yang
dipasang tersebut," ujarnya.
Tersedianya rambu-rambu wisata memadai yang bisa menunjukkan
lokasi Pasir Padi atau lokasi wisata lain di Pangkalpinang setidaknya
akan mengingatkan pendatang bahwa di kota itu ada tempat wisata
pantai. Bagi mereka yang tiba di Pangkalpinang dengan menggunakan
pesawat di Bandara Depati Umar, bisa pula mampir terlebih dahulu ke
Pasir Padi sebelum berkunjung ke lokasi lain.
Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena
lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah
atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan
Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang
melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir
Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.
***
KEINDAHAN Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan
karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan
keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk
Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping
sebagian kecil pendatang dari luar daerah.
Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab mengapa pantai itu
hanya ramai dikunjungi warga setempat. Itu pun hanya terjadi pada
setiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya datang
pada sore hari dengan jumlah rata-rata kurang dari 100 orang.
Pengunjung rutin yang menikmati keindahan pantai itu adalah
puluhan anak muda yang bertempat tinggal di desa-desa sekitar pantai.
Mereka datang bukan untuk mandi di pantai atau sekadar berjemur,
tetapi bermain sepak bola.
Pengunjung lain yang rutin pada sore hari bertandang ke Pasir
Padi juga berasal dari kalangan anak muda dengan berkendaraan sepeda
motor. Sambil mejeng mereka menikmati keindahan pantai, atau saling
tancap gas di atas pasir pantai yang tidak lembek saat dilindas roda
kendaraan.
Mobil-mobil pengunjung pun dengan bebas berlalu lalang di
hamparan pasir pantai. Kerasnya pasir pantai, baik yang basah maupun
yang kering, menyebabkan roda tidak amblas ke dalam pasir. Kondisi
seperti itu yang membuat mereka berani bermobilria di pantai. Malah,
sebagian pengunjung datang hanya untuk belajar menyetir mobil!
Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan
pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua
mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di
Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti
ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa
keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.
Keindahan alam yang ditopang kelebihan berupa pasir padat di
pantai itu ternyata belum mampu memancing lebih banyak wisatawan dari
luar daerah atau mancanegara. Wisatawan yang datang umumnya hanya
wisatawan lokal, Pangkalpinang maupun dari daerah sekitarnya saja.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim mengatakan, Pasir
Padi memang hanya banyak dikunjungi oleh
kalangan "wiski". "Pengunjung yang datang ke Pasir Padi memang masih
dari kalangan ÆwiskiÆ, wisatawan mriki," katanya sambil tertawa.
Wisatawan mriki yang dimaksudkan Zulkarnaen adalah wisatawan lokal.
Dia berharap, Pasir Padi tidak hanya dikunjungi wisatawan dari
kalangan warga setempat. Suatu saat, Pantai Pasir Padi akan dibanjiri
wisatawan dari provinsi lain dan dari mancanegara.
Pemerintah Kota Pangkalpinang, menurut Zulkarnaen Karim, akan
menjadikan Pasir Padi sebagai kawasan wisata dengan fasilitas memadai
agar bisa menarik wisatawan. Sejumlah perbaikan akan dilakukan untuk
mewujudkannya.
"Kalau turis yang datang ke Bali pasti berkunjung ke Pantai Kuta,
nantinya turis ke Bangka pun akan berkunjung ke Pasir Padi terlebih
dahulu sebelum ke lokasi lain. Pasir Padi akan menjadi ÆPantai KutaÆ-
nya Pulau Bangka," ucap Zulkarnaen.
Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas
memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan
sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat
tempat hiburan karaoke dan diskotek.
Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung,
seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula,
Pasir Padi menjadi tidak menarik bagi pengunjung.
Bagaimana mau menikmati pantai, melepas kepenatan, dan bergembira
jika untuk mencari toilet saja susahnya bukan main. Jika tidak
dikelola secara profesional, Pasir Padi tentu akan semakin
ditinggalkan, dan akhirnya dilupakan. (AGUS MULYADI)
Foto: 4
Kompas/Agus Mulyadi
LALU LALANG DI PANTAI - Pantai Pasir Padi yang tidak gembur membuat
kendaraan roda dua dan empat bisa melintas di atasnya. Pengunjung
berkendaraan dengan bebas berlalu lalang di pantai tanpa takut roda
kendaraan amblas ke dalam pasir. Di kejauhan di perairan pantai,
tampak melintas dua kapal yang sedang berlayar menuju ke Pelabuhan
Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, yang terletak di sebelah utara
kawasan pantai ini.
KANDAS - Perahu motor yang biasa membawa pengunjung Pantai Pasir Padi
untuk berperahu di perairan pantai kandas di hamparan pasir. Pemilik
perahu motor itu harus menunggu air pasang naik agar bisa kembali
melaut.
KINI JADI HOTEL - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok, Pulau
Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung yang
dibangun di atas Bukit Menumbing ini pada tahun 1949 menjadi tempat
pengasingan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing.
BERMAIN BOLA - Sekelompok pengunjung Pantai Pasir Padi memanfaatkan
waktu mereka dengan bermain sepak bola di pantai berpasir. Kerasnya
pasir di pantai itu membuat mereka bisa dengan bebas mempertontonkan
kebolehannya. Mereka bergembira bersama di atas pantai yang landai
dan indah.
Image: 1
Peta Provinsi Bangka Belitung
Wisata Bangka Sudah Mentok?
KOMPAS - Sabtu, 31 May 2003 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 10181 Foto: 2
WISATA BANGKA, SUDAH MENTOK?
KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang
berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun
daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.
MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada
putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju
ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali
dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.
Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai
kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu
kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah
ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.
Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan
memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung
tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung
tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.
Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik
pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda
pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan
Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit
Menumbing.
Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah
pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang
bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.
Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua
yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862.
Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok
dan sekitarnya.
Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota
kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi
wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh
sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.
Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung
Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum
dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa
berkembang sebagaimana mestinya.
Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu
hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa
ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan
hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif
mahal.
Para tukang ojek sepeda motor, misalnya, memasang tarif Rp 50.000-
Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil sewaan memasang tarif Rp
250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat harus dilalui
jika hendak ke Menumbing.
Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan
mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus
melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. "Saya tidak berani
mengantar ke sana," ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda
motor ketika diajak ke Menumbing.
Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan
laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno
dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat
diasingkan Belanda di daerah itu.
Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu
sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok,
dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.
Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah
dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno
saat berada dalam pengasingan di Mentok.
Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota
kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana
terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun
yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.
Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang.
Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan
Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota
Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.
Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata,
diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia,
hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah
daerah dan pemerintah pusat masih kurang.
Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya
menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh
menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. "Mentok
ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan
menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok
akan jauh lebih maju," katanya.
Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan
Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang
berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor
pariwisata.
***
WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan
pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa
diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.
Sebut saja misalnya beberapa tempat-tempat pemandian air panas di
beberapa kabupaten. Salah satunya adalah tempat wisata pemandian air
panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.
Sama seperti beberapa pemandian ari panas lain di Bangka, sumber
mata air panas di Pemali juga berasal dari dalam perut bumi. Air
panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit kulit itu
keluar memancar dari perut bumi.
Namun, sayang, saat ini Pemali ditutup sementara karena di lokasi
itu tengah dibangun rumah makan dan gedung lainnya. Hanya warga
sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi atau sekadar
merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air panas
lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum
dikelola secara baik.
Selain Pantai Pasir Padi, masih banyak pantai lain yang
seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja misalnya Pantai
Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai
Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir
Kuning, dan Pantai Penyak.
Bagi penggemar lokasi wisata bukan pantai, Bangka juga memiliki
tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang suka wisata alam, di
Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan ini
terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung.
Tempat ini sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar
dan Pramuka.
Pulau Bangka yang sekitar 40 persen penduduknya warga keturunan
Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua yang indah. Bahkan,
kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah lokasi. Di
beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa
menjadi pemandangan tersendiri.
Beberapa kampung Cina yang terdapat di Pulau Bangka antara lain
di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu, Kampung Bintang, Pangkal
Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.
Desa wisata, tetapi dalam nuansa lain bisa pula ditemukan di
Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini adalah Trans VI Batu
Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk berasal
dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar,
dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.
Bangka seolah-olah diciptakan Tuhan menjadi tempat tujuan wisata.
Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati pengunjung antara lain air
terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Bahkan,
tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak
tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit,
bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.
Bagi penggemar buah nanas, hamparan perkebunan nanas yang luas
bisa disaksikan di Toboali, di bagian selatan Pulau Bangka. Di
perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung menikmati nanas segar
dan manis langsung dari kebun.
Membicarakan potensi wisata Pulau Bangka memang seakan tiada
habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata sejarah terdapat pula di
Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah Museum Timah yang
terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah penambangan
timah di Bangka.
Bangka masih pula menyimpan potensi wisata lain, misalnya kolam
ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas Cina di Belinyu, klenteng di
daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur khas Cina.
Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau
ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun,
pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti
terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga
Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan
berkunjung ke Bangka. (AGUS MULYADI)
Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
TEMPAT PENGASINGAN SOEKARNO - Wisma Ranggam di Desa Sungai Daeng,
Kecamatan Mentok, Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
kini kondisinya memprihatinkan. Gedung bersejarah itu pernah menjadi
tempat pengasingan Presiden RI yang pertama, Soekarno, dan sejumlah
pemimpin negara lainnya selama beberapa bulan sejak Februari 1949. Di
salah satu kamar di Wisma Ranggam, Soekarno mengisi hari-harinya
selama masa pengasingan oleh penjajah Belanda.
PESANGGRAHAN MENUMBING - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok,
Pulau Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung
yang dibangun di atas Bukit Menumbing pada tahun 1949 ini menjadi
tempat pembuangan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi Hotel Jati Menumbing.
Dari hotel yang terletak di puncak bukit dengan ketinggian 800 meter
di atas permukaan laut itu, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat
Bangka jelas terlihat.
WISATA BANGKA, SUDAH MENTOK?
KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang
berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun
daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.
MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada
putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju
ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali
dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.
Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai
kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu
kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah
ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.
Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan
memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung
tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung
tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.
Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik
pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda
pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan
Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit
Menumbing.
Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah
pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang
bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.
Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua
yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862.
Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok
dan sekitarnya.
Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota
kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi
wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh
sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.
Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung
Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum
dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa
berkembang sebagaimana mestinya.
Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu
hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa
ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan
hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif
mahal.
Para tukang ojek sepeda motor, misalnya, memasang tarif Rp 50.000-
Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil sewaan memasang tarif Rp
250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat harus dilalui
jika hendak ke Menumbing.
Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan
mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus
melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. "Saya tidak berani
mengantar ke sana," ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda
motor ketika diajak ke Menumbing.
Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan
laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno
dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat
diasingkan Belanda di daerah itu.
Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu
sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok,
dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.
Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah
dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno
saat berada dalam pengasingan di Mentok.
Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota
kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana
terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun
yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.
Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang.
Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan
Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota
Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.
Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata,
diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia,
hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah
daerah dan pemerintah pusat masih kurang.
Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya
menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh
menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. "Mentok
ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan
menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok
akan jauh lebih maju," katanya.
Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan
Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang
berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor
pariwisata.
***
WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan
pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa
diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.
Sebut saja misalnya beberapa tempat-tempat pemandian air panas di
beberapa kabupaten. Salah satunya adalah tempat wisata pemandian air
panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.
Sama seperti beberapa pemandian ari panas lain di Bangka, sumber
mata air panas di Pemali juga berasal dari dalam perut bumi. Air
panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit kulit itu
keluar memancar dari perut bumi.
Namun, sayang, saat ini Pemali ditutup sementara karena di lokasi
itu tengah dibangun rumah makan dan gedung lainnya. Hanya warga
sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi atau sekadar
merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air panas
lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum
dikelola secara baik.
Selain Pantai Pasir Padi, masih banyak pantai lain yang
seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja misalnya Pantai
Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai
Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir
Kuning, dan Pantai Penyak.
Bagi penggemar lokasi wisata bukan pantai, Bangka juga memiliki
tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang suka wisata alam, di
Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan ini
terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung.
Tempat ini sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar
dan Pramuka.
Pulau Bangka yang sekitar 40 persen penduduknya warga keturunan
Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua yang indah. Bahkan,
kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah lokasi. Di
beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa
menjadi pemandangan tersendiri.
Beberapa kampung Cina yang terdapat di Pulau Bangka antara lain
di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu, Kampung Bintang, Pangkal
Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.
Desa wisata, tetapi dalam nuansa lain bisa pula ditemukan di
Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini adalah Trans VI Batu
Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk berasal
dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar,
dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.
Bangka seolah-olah diciptakan Tuhan menjadi tempat tujuan wisata.
Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati pengunjung antara lain air
terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Bahkan,
tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak
tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit,
bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.
Bagi penggemar buah nanas, hamparan perkebunan nanas yang luas
bisa disaksikan di Toboali, di bagian selatan Pulau Bangka. Di
perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung menikmati nanas segar
dan manis langsung dari kebun.
Membicarakan potensi wisata Pulau Bangka memang seakan tiada
habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata sejarah terdapat pula di
Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah Museum Timah yang
terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah penambangan
timah di Bangka.
Bangka masih pula menyimpan potensi wisata lain, misalnya kolam
ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas Cina di Belinyu, klenteng di
daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur khas Cina.
Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau
ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun,
pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti
terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga
Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan
berkunjung ke Bangka. (AGUS MULYADI)
Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
TEMPAT PENGASINGAN SOEKARNO - Wisma Ranggam di Desa Sungai Daeng,
Kecamatan Mentok, Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
kini kondisinya memprihatinkan. Gedung bersejarah itu pernah menjadi
tempat pengasingan Presiden RI yang pertama, Soekarno, dan sejumlah
pemimpin negara lainnya selama beberapa bulan sejak Februari 1949. Di
salah satu kamar di Wisma Ranggam, Soekarno mengisi hari-harinya
selama masa pengasingan oleh penjajah Belanda.
PESANGGRAHAN MENUMBING - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok,
Pulau Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung
yang dibangun di atas Bukit Menumbing pada tahun 1949 ini menjadi
tempat pembuangan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi Hotel Jati Menumbing.
Dari hotel yang terletak di puncak bukit dengan ketinggian 800 meter
di atas permukaan laut itu, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat
Bangka jelas terlihat.
Kepentok Solar Mahal di Mentok
KOMPAS - Selasa, 29 Aug 2006 Halaman: 1 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5241 Foto: 1
Nelayan
KEPENTOK SOLAR MAHAL DI MENTOK
Oleh Agus Mulyadi
"Menjadi nelayan sekarang susah. Hasil tangkapan tidak tentu,
bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali, sedangkan solar mahal.
Tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan saya," ucap Sahrudin
(55), nelayan di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (27/8) pagi.
Sesudah mengucapkan keluhannya, Sahrudin mengisap rokok dalam-
dalam, lalu mengembuskan asapnya. Dia seakan mencoba melepaskan atau
sedikit mengurangi beban hidupnya.
Sahrudin adalah nelayan gurem yang hanya memiliki perahu dan
motor tempel berukuran kecil. Sekali melaut dia hanya memerlukan 10
liter solar."Saya biasanya berangkat pagi dan pulang siang atau
sore, setelah mencari ikan di perairan Selat Bangka ini," ujar
Sahrudin.
Bagi nelayan, mencari ikan seperti berjudi mempertaruhkan nasib.
Kalau sedang beruntung, hasil tangkapan ikan, udang, dan lainnya bisa
lumayan. Namun, sebagian dari mereka sering kurang beruntung. "Saya
sering tidak dapat ikan," ucap Sahrudin.
Jika tak dapat ikan, kerugianlah yang harus ditanggungnya. "Saya
membeli satu jeriken solar isi 20 liter untuk keperluan dua hari
melaut seharga Rp 130.000. Kalau beli di kios susah, harus antre
lama. Harganya pun tetapmahal," ujarnya.
Kios yang dimaksud Sahrudin adalah stasiun pengisian bahan bakar
untuk umum (SPBU) satu-satunya di Mentok. SPBU itu sepanjang hari
dipenuhi antrean jeriken, truk, bahkan drum. Jeriken itu milik orang-
orang yang mencari keuntungan dari laris-manisnya solar di Bangka
Barat khususnya, dan di Provinsi Bangka Belitung umumnya.
Solar diburu terutama oleh para penambang timah inkonvensional
yang jumlahnya ribuan di pulau itu. Jeriken antrean tidak hanya milik
penambang, tetapi juga warga yang tiba-tiba mencari nafkah dengan
berjualan solar eceran. Demikian pula sebagian pengemudi truk.
"Ibu-ibu pedagang nasi bahkan ada yang beralih menjadi pengantre
solar di SPBU. Menjual solar keuntungannya sudah pasti," ujar
seorang tukang ojek sepeda motor di Mentok.
Untuk mendapatkan solar di SPBU Mentok, para pembeli juga harus
mengeluarkan sejumlah uang untuk orang-orang yang "menjaga" SPBU.
Setiap satu jeriken dikenai pungutan Rp 1.000. "Pengemudi truk juga
harus membayar biaya tambahan Rp 100 untuk setiap liter yang
dibeli," kata seorang sopir truk saat antre, Minggu pagi.
Antre dan biaya tambahan seperti itulah yang membuat Sahrudin
malas ke "kios". Dia terpaksa membeli solar di pedagang eceran yang
juga pengantre di SPBU.
Kuota dikurangi
Antrean terjadi di semua SPBU di Bangka Belitung, paling tidak
dalam tiga tahun ini. Itu akibat meningkatnya kebutuhan bahan bakar
seiring maraknya tambang timah inkonvensional atau tambang liar.
Pada saat kebutuhan meningkat, pemerintah malah mengurangi kuota
BBM, termasuk untuk provinsi kepulauan itu. Menurut Pengawas Hubungan
Pemerintah dan Masyarakat PT Pertamina Unit Pemasaran II Wilayah
Sumatera Bagian Selatan Sidik Rosyidi, Senin (28/8), pengurangan
kuota premium,solar, dan minyak tanah di wilayah kerjanya, termasuk
Bangka Belitung, rata-rata 15 persen dibandingkan dengan tahun 2005.
Kuota BBM untuk wilayah Sumbagsel selama tahun 2006 dikurangi
lagi sejak pertengahan Juli lalu. Langkah itu dilakukan untuk menekan
subsidi. Kuota premium dikurangi dari 1.225.410 kiloliter (kl)
menjadi 1.225.310 kl; solar yang biasanya 644.900 kl dikurangi
menjadi 643.226 kl; dan minyak tanah dari 1.530.660 menjadi 1.115.422
kl. Pada kuota baru itu ada kenaikan dan ada penurunan.
Kuota premium untuk Bangka Belitung, misalnya, yang semula
128.511 kl malah dinaikkan menjadi 150.127 kl. Minyak tanah juga naik
tipis dari 40.604 kl menjadi 40.732 kl, sementara kuota solar turun
drastis dari 255.166 kl menjadi 162.768 kl. Pengurangan juga
dilakukan pada kuota BBM untuk Sumsel.
"Itu keputusan pemerintah," ujar Sidik. Turunnya kuota solar
itulah yang diduga menjadi penyebab utama antrean terus terjadi di
SPBU Mentok dan SPBU lainnya di Bangka Belitung.
Sarmad, nelayan di Mentok, mengaku membutuhkan 100 liter solar
sekali melaut selama lima hari bersama empat temannya, belum termasuk
bekal makanan dan es. Jika hasil tangkapan hanya bernilai Rp 2 juta,
maka itu hanya impas dengan modal yang dikeluarkan.
Kesulitan yang sama dirasakan oleh nelayan asal Sungsang,
Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Sebagian pencari ikan di perkampungan
nelayan berpenduduk sekitar 15.000 jiwa itu bahkan mencoba mengakali
kekurangan solar dengan menggunakan minyak tanah campur solar atau
oli bekas.
Ade serta nelayan Sungsang lain seperti Maulana, Asnawi, dan
Usman menyatakan, terbatasnya solar sangat menyulitkan mereka.
Apalagi perairan di Selat Bangka dua pekan ini diselimuti asap tebal.
Para nelayan hanya bisa pasrah sambil berharap pemerintah lebih
memerhatikan kebutuhan solar bagi mereka.
Foto:1
Kompas/Agus Mulyadi
Seorang nelayan dengan perahu motor kecilnya, Sabtu (26/8) pagi,
melintas di perairan Pantai Tanjung Kalian, Kecamatan Mentok,
Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
Nelayan
KEPENTOK SOLAR MAHAL DI MENTOK
Oleh Agus Mulyadi
"Menjadi nelayan sekarang susah. Hasil tangkapan tidak tentu,
bahkan kadang tidak dapat ikan sama sekali, sedangkan solar mahal.
Tetapi mau bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan saya," ucap Sahrudin
(55), nelayan di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (27/8) pagi.
Sesudah mengucapkan keluhannya, Sahrudin mengisap rokok dalam-
dalam, lalu mengembuskan asapnya. Dia seakan mencoba melepaskan atau
sedikit mengurangi beban hidupnya.
Sahrudin adalah nelayan gurem yang hanya memiliki perahu dan
motor tempel berukuran kecil. Sekali melaut dia hanya memerlukan 10
liter solar."Saya biasanya berangkat pagi dan pulang siang atau
sore, setelah mencari ikan di perairan Selat Bangka ini," ujar
Sahrudin.
Bagi nelayan, mencari ikan seperti berjudi mempertaruhkan nasib.
Kalau sedang beruntung, hasil tangkapan ikan, udang, dan lainnya bisa
lumayan. Namun, sebagian dari mereka sering kurang beruntung. "Saya
sering tidak dapat ikan," ucap Sahrudin.
Jika tak dapat ikan, kerugianlah yang harus ditanggungnya. "Saya
membeli satu jeriken solar isi 20 liter untuk keperluan dua hari
melaut seharga Rp 130.000. Kalau beli di kios susah, harus antre
lama. Harganya pun tetapmahal," ujarnya.
Kios yang dimaksud Sahrudin adalah stasiun pengisian bahan bakar
untuk umum (SPBU) satu-satunya di Mentok. SPBU itu sepanjang hari
dipenuhi antrean jeriken, truk, bahkan drum. Jeriken itu milik orang-
orang yang mencari keuntungan dari laris-manisnya solar di Bangka
Barat khususnya, dan di Provinsi Bangka Belitung umumnya.
Solar diburu terutama oleh para penambang timah inkonvensional
yang jumlahnya ribuan di pulau itu. Jeriken antrean tidak hanya milik
penambang, tetapi juga warga yang tiba-tiba mencari nafkah dengan
berjualan solar eceran. Demikian pula sebagian pengemudi truk.
"Ibu-ibu pedagang nasi bahkan ada yang beralih menjadi pengantre
solar di SPBU. Menjual solar keuntungannya sudah pasti," ujar
seorang tukang ojek sepeda motor di Mentok.
Untuk mendapatkan solar di SPBU Mentok, para pembeli juga harus
mengeluarkan sejumlah uang untuk orang-orang yang "menjaga" SPBU.
Setiap satu jeriken dikenai pungutan Rp 1.000. "Pengemudi truk juga
harus membayar biaya tambahan Rp 100 untuk setiap liter yang
dibeli," kata seorang sopir truk saat antre, Minggu pagi.
Antre dan biaya tambahan seperti itulah yang membuat Sahrudin
malas ke "kios". Dia terpaksa membeli solar di pedagang eceran yang
juga pengantre di SPBU.
Kuota dikurangi
Antrean terjadi di semua SPBU di Bangka Belitung, paling tidak
dalam tiga tahun ini. Itu akibat meningkatnya kebutuhan bahan bakar
seiring maraknya tambang timah inkonvensional atau tambang liar.
Pada saat kebutuhan meningkat, pemerintah malah mengurangi kuota
BBM, termasuk untuk provinsi kepulauan itu. Menurut Pengawas Hubungan
Pemerintah dan Masyarakat PT Pertamina Unit Pemasaran II Wilayah
Sumatera Bagian Selatan Sidik Rosyidi, Senin (28/8), pengurangan
kuota premium,solar, dan minyak tanah di wilayah kerjanya, termasuk
Bangka Belitung, rata-rata 15 persen dibandingkan dengan tahun 2005.
Kuota BBM untuk wilayah Sumbagsel selama tahun 2006 dikurangi
lagi sejak pertengahan Juli lalu. Langkah itu dilakukan untuk menekan
subsidi. Kuota premium dikurangi dari 1.225.410 kiloliter (kl)
menjadi 1.225.310 kl; solar yang biasanya 644.900 kl dikurangi
menjadi 643.226 kl; dan minyak tanah dari 1.530.660 menjadi 1.115.422
kl. Pada kuota baru itu ada kenaikan dan ada penurunan.
Kuota premium untuk Bangka Belitung, misalnya, yang semula
128.511 kl malah dinaikkan menjadi 150.127 kl. Minyak tanah juga naik
tipis dari 40.604 kl menjadi 40.732 kl, sementara kuota solar turun
drastis dari 255.166 kl menjadi 162.768 kl. Pengurangan juga
dilakukan pada kuota BBM untuk Sumsel.
"Itu keputusan pemerintah," ujar Sidik. Turunnya kuota solar
itulah yang diduga menjadi penyebab utama antrean terus terjadi di
SPBU Mentok dan SPBU lainnya di Bangka Belitung.
Sarmad, nelayan di Mentok, mengaku membutuhkan 100 liter solar
sekali melaut selama lima hari bersama empat temannya, belum termasuk
bekal makanan dan es. Jika hasil tangkapan hanya bernilai Rp 2 juta,
maka itu hanya impas dengan modal yang dikeluarkan.
Kesulitan yang sama dirasakan oleh nelayan asal Sungsang,
Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Sebagian pencari ikan di perkampungan
nelayan berpenduduk sekitar 15.000 jiwa itu bahkan mencoba mengakali
kekurangan solar dengan menggunakan minyak tanah campur solar atau
oli bekas.
Ade serta nelayan Sungsang lain seperti Maulana, Asnawi, dan
Usman menyatakan, terbatasnya solar sangat menyulitkan mereka.
Apalagi perairan di Selat Bangka dua pekan ini diselimuti asap tebal.
Para nelayan hanya bisa pasrah sambil berharap pemerintah lebih
memerhatikan kebutuhan solar bagi mereka.
Foto:1
Kompas/Agus Mulyadi
Seorang nelayan dengan perahu motor kecilnya, Sabtu (26/8) pagi,
melintas di perairan Pantai Tanjung Kalian, Kecamatan Mentok,
Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
Semuanya Bisa Dimulai dari Mentok
KOMPAS - Kamis, 15 Apr 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5139
SEMUANYA BISA DIMULAI DARI MENTOK
MENTOK adalah ibu kota Kabupaten Bangka Barat yang sudah
termasyhur sejak berabad silam. Kota pelabuhan ini sudah dikenal
sejak zaman Belanda dulu. Di kota ini terdapat Pelabuhan Muntok yang
begitu dikenal.
Dari pelabuhan inilah lada putih Bangka yang begitu tersohor
dikapalkan dan dikirim ke Eropa. Dari pelabuhan yang hingga kini
masih tetap dioperasikan itulah timah Bangka juga dikapalkan dan
dibawa dari bumi Nusantara oleh perusahaan-perusahaan milik bangsa
kulit putih dahulu kala.
Mentok juga masuk dalam catatan penting sejarah Indonesia. Di
kota inilah para pemimpin republik yang baru lahir, Indonesia, sempat
dibuang. Soekarno dan Hatta adalah dua di antara sejumlah pemimpin
yang pernah merasakan hidup di Mentok.
Pesanggrahan Menumbing di puncak Bukit Menumbing yang sempat
menjadi kediaman dua pendiri republik tersebut hingga kini masih
kokoh berdiri. Satu bangunan lain, Wisma Ranggam, yang juga menjadi
tempat tinggal Soekarno, masih berdiri megah, terlebih lagi sekarang
tengah dipugar.
Dua bangunan bersejarah itu seakan menjadi saksi kebesaran Mentok
dahulu kala. Bangunan tua lain di seantero pelosok kota seakan
menjadi bukti pelengkap kejayaan Mentok beberapa abad silam. Salah
satu bangunan tua itu adalah Mercu Suar Tanjung Kelian. Bangunan
tersebut dibangun lebih dari satu abad yang lalu.
Bukti-bukti sejarah perjalanan Mentok itu menjadi salah satu
potensi untuk mengembangkan Kabupaten Bangka Barat. Kabupaten yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tersebut
memisahkan diri dari induknya, Kabupaten Bangka.
Wisata sejarah dengan mengandalkan berbagai bangunan tua di
Mentok dapat menjadi salah satu andalan memajukan Bangka Barat.
Namun, sayang, potensi luar biasa tersebut hingga kini belum tergarap
dengan baik. Andalan wisata yang sudah digarap serius hanyalah
Pesanggrahan Menumbing.
Kejayaan Mentok masa lalu, hingga kini sebenarnya masih bisa
dilihat pula dari tetap beroperasinya pabrik timah PT Timah. Inilah
pabrik timah terbesar di dunia, dengan produksi yang tidak tersaingi
oleh pabrik sejenis di belahan bumi mana pun. Di pabrik ini bijih
timah dieksploitasi dari Pulau Bangka dan sekitarnya.
***
SAMA seperti kabupaten lain di Pulau Bangka, kabupaten baru ini
pun tidak bisa lepas dari sentuhan tangan-tangan nakal penambang
timah ilegal.
Beroperasinya para penambang timah ilegal tersebut tidak terlepas
dari keterlibatan para penadah alias cukong. Mereka inilah yang
menampung timah rakyat dan mendapatkan keuntungan besar setelah
menyelundupkan ke luar negeri.
Akan tetapi, penambangan timah inkonvensional itu dipercaya tidak
akan kekal, malah akan merusak bumi Bangka Barat dan kehidupan
rakyatnya. Jika tidak dihentikan, tambang timah ilegal yang hanya
memperkaya para cukongnya itu dipercaya akan membuahkan kemiskinan
bagi warga.
Demi kesejahteraan rakyat di masa depan itulah, Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Bangka Barat akan menggali semua potensi sumber
daya alam yang tergolong luar biasa dari daerah itu. Sejumlah potensi
yang akan dikembangkan adalah perikanan laut, perkebunan sawit, dan
tambang di luar timah, seperti granit dan pasir kuarsa.
Menurut Pejabat Bupati Bangka Barat Syaiful Rachman, satu potensi
tambang lain di daerahnya adalah bauksit. "PT Aneka Tambang telah
melakukan penelitian kandungan bauksit yang berada di daerah Jebus
tersebut," katanya.
Pengembangan Bangka Barat ke depan, menurut Syaiful Rachman,
tidak hanya mengandalkan hasil alam mentah. Industri pun akan
dibangun di daerah itu, dengan memanfaatkan hasil alam yang ada.
Pembangunan industri tersebut tentu saja mendapat dukungan dari
pelabuhan laut sehingga akan memudahkan distribusi produksinya ke
daerah atau negara lain. Pelabuhan baru yang kini tengah dalam tahap
penyelesaian telah dibangun di kawasan Pantai Tanjung Kelian.
Semua kapal besar, termasuk feri, nantinya akan berlabuh di
pelabuhan baru ini. Sementara itu, Pelabuhan Muntok akan dikhususkan
untuk pelabuhan kapal cepat yang melayani perjalanan Palembang-Mentok
dan perahu-perahu nelayan.
Saiful Rachman menyebutkan, segala upaya akan dilakukan demi
kesejahteraan rakyat. Dengan pendapatan asli daerah (PAD) pada tahun
anggaran 2004 ini hanya sebesar Rp 9 miliar, Kabupaten Bangka Barat
hendak melangkah lebih maju, sesuai dengan cita-cita pembentukannya.
Titik awal pembangunan Bangka Tengah itu sendiri bisa dimulai
dari Mentok. Dukungan pelabuhan laut akan lebih memudahkan memajukan
daerah ini dan menggoda para investor untuk datang menanamkan
modalnya di daerah ini.
Dari Mentok pula pembangunan demi kemajuan itu bisa dimulai,
salah satunya dengan mengoptimalkan wisata sejarah. Pesona kota tua
Mentok dengan banyak bangunan kunonya akan membuka mata siapa pun
untuk datang, termasuk para investor. Pembangunan Bangka Barat memang
bisa dimulai dari Mentok. (AGUS MULYADI)
SEMUANYA BISA DIMULAI DARI MENTOK
MENTOK adalah ibu kota Kabupaten Bangka Barat yang sudah
termasyhur sejak berabad silam. Kota pelabuhan ini sudah dikenal
sejak zaman Belanda dulu. Di kota ini terdapat Pelabuhan Muntok yang
begitu dikenal.
Dari pelabuhan inilah lada putih Bangka yang begitu tersohor
dikapalkan dan dikirim ke Eropa. Dari pelabuhan yang hingga kini
masih tetap dioperasikan itulah timah Bangka juga dikapalkan dan
dibawa dari bumi Nusantara oleh perusahaan-perusahaan milik bangsa
kulit putih dahulu kala.
Mentok juga masuk dalam catatan penting sejarah Indonesia. Di
kota inilah para pemimpin republik yang baru lahir, Indonesia, sempat
dibuang. Soekarno dan Hatta adalah dua di antara sejumlah pemimpin
yang pernah merasakan hidup di Mentok.
Pesanggrahan Menumbing di puncak Bukit Menumbing yang sempat
menjadi kediaman dua pendiri republik tersebut hingga kini masih
kokoh berdiri. Satu bangunan lain, Wisma Ranggam, yang juga menjadi
tempat tinggal Soekarno, masih berdiri megah, terlebih lagi sekarang
tengah dipugar.
Dua bangunan bersejarah itu seakan menjadi saksi kebesaran Mentok
dahulu kala. Bangunan tua lain di seantero pelosok kota seakan
menjadi bukti pelengkap kejayaan Mentok beberapa abad silam. Salah
satu bangunan tua itu adalah Mercu Suar Tanjung Kelian. Bangunan
tersebut dibangun lebih dari satu abad yang lalu.
Bukti-bukti sejarah perjalanan Mentok itu menjadi salah satu
potensi untuk mengembangkan Kabupaten Bangka Barat. Kabupaten yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tersebut
memisahkan diri dari induknya, Kabupaten Bangka.
Wisata sejarah dengan mengandalkan berbagai bangunan tua di
Mentok dapat menjadi salah satu andalan memajukan Bangka Barat.
Namun, sayang, potensi luar biasa tersebut hingga kini belum tergarap
dengan baik. Andalan wisata yang sudah digarap serius hanyalah
Pesanggrahan Menumbing.
Kejayaan Mentok masa lalu, hingga kini sebenarnya masih bisa
dilihat pula dari tetap beroperasinya pabrik timah PT Timah. Inilah
pabrik timah terbesar di dunia, dengan produksi yang tidak tersaingi
oleh pabrik sejenis di belahan bumi mana pun. Di pabrik ini bijih
timah dieksploitasi dari Pulau Bangka dan sekitarnya.
***
SAMA seperti kabupaten lain di Pulau Bangka, kabupaten baru ini
pun tidak bisa lepas dari sentuhan tangan-tangan nakal penambang
timah ilegal.
Beroperasinya para penambang timah ilegal tersebut tidak terlepas
dari keterlibatan para penadah alias cukong. Mereka inilah yang
menampung timah rakyat dan mendapatkan keuntungan besar setelah
menyelundupkan ke luar negeri.
Akan tetapi, penambangan timah inkonvensional itu dipercaya tidak
akan kekal, malah akan merusak bumi Bangka Barat dan kehidupan
rakyatnya. Jika tidak dihentikan, tambang timah ilegal yang hanya
memperkaya para cukongnya itu dipercaya akan membuahkan kemiskinan
bagi warga.
Demi kesejahteraan rakyat di masa depan itulah, Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Bangka Barat akan menggali semua potensi sumber
daya alam yang tergolong luar biasa dari daerah itu. Sejumlah potensi
yang akan dikembangkan adalah perikanan laut, perkebunan sawit, dan
tambang di luar timah, seperti granit dan pasir kuarsa.
Menurut Pejabat Bupati Bangka Barat Syaiful Rachman, satu potensi
tambang lain di daerahnya adalah bauksit. "PT Aneka Tambang telah
melakukan penelitian kandungan bauksit yang berada di daerah Jebus
tersebut," katanya.
Pengembangan Bangka Barat ke depan, menurut Syaiful Rachman,
tidak hanya mengandalkan hasil alam mentah. Industri pun akan
dibangun di daerah itu, dengan memanfaatkan hasil alam yang ada.
Pembangunan industri tersebut tentu saja mendapat dukungan dari
pelabuhan laut sehingga akan memudahkan distribusi produksinya ke
daerah atau negara lain. Pelabuhan baru yang kini tengah dalam tahap
penyelesaian telah dibangun di kawasan Pantai Tanjung Kelian.
Semua kapal besar, termasuk feri, nantinya akan berlabuh di
pelabuhan baru ini. Sementara itu, Pelabuhan Muntok akan dikhususkan
untuk pelabuhan kapal cepat yang melayani perjalanan Palembang-Mentok
dan perahu-perahu nelayan.
Saiful Rachman menyebutkan, segala upaya akan dilakukan demi
kesejahteraan rakyat. Dengan pendapatan asli daerah (PAD) pada tahun
anggaran 2004 ini hanya sebesar Rp 9 miliar, Kabupaten Bangka Barat
hendak melangkah lebih maju, sesuai dengan cita-cita pembentukannya.
Titik awal pembangunan Bangka Tengah itu sendiri bisa dimulai
dari Mentok. Dukungan pelabuhan laut akan lebih memudahkan memajukan
daerah ini dan menggoda para investor untuk datang menanamkan
modalnya di daerah ini.
Dari Mentok pula pembangunan demi kemajuan itu bisa dimulai,
salah satunya dengan mengoptimalkan wisata sejarah. Pesona kota tua
Mentok dengan banyak bangunan kunonya akan membuka mata siapa pun
untuk datang, termasuk para investor. Pembangunan Bangka Barat memang
bisa dimulai dari Mentok. (AGUS MULYADI)
Menciptakan Sumber Nafkah Warga Tanpa Henti
KOMPAS - Rabu, 14 Apr 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5239
MENCIPTAKAN SUMBER NAFKAH WARGA TANPA HENTI
KABUPATEN Bangka Tengah berhadapan dengan dua perairan berbeda
di sisi barat dan timur. Di bagian barat daratan kabupaten ini
berbatasan langsung dengan Selat Bangka, sedangkan di timur menghadap
Laut Natuna.
Oleh karena itu, tidaklah aneh pula jika kabupaten ini memiliki
sejumlah lokasi pantai yang menawan. Salah satunya bisa dilihat di
antara Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung,
dan Koba, ibu kota Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan pantai di perairan Laut Natuna itu berada di tepi
jalan. Saat melintas di ruas jalan itu, pengendara bisa melirik ke
arah pantai. Kalau penasaran, tentu bisa berhenti di sembarang lokasi
untuk melihat pantai. Perjalanan antara Pangkal Pinang dan Koba,
seperti saat melintas di antara Anyer dan Carita di Provinsi Banten.
Akan tetapi, bedanya dengan Anyer-Carita, pantai Pangka Pinang-
Koba benar-benar masih perawan. Kemolekan pantai di ruas itu belum
dilirik oleh investor. Padahal, keindahan pantai ini merupakan salah
satu potensi yang luar biasa bagi kabupaten yang dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003, tanggal 25 Februari 2003 itu.
Sebelumnya Bangka Tengah merupakan bagian Kabupaten Bangka.
Laut dan pantai merupakan bagian dari kehidupan warga Bangka
Tengah. Sebagian penduduk kabupaten itu yang berjumlah 126.140 orang
bertumpu pada hasil laut. Akan tetapi, tidak sepanjang tahun laut
memberikan sumber nafkah.
Ketika musim angin besar tiba, pada saat laut sedang tidak
bersahabat, ikan-ikan pun menjadi sulit ditangkap. Nelayan pun
umumnya tidak melaut.
Para nelayan di daerah ini umumnya adalah warga keturunan Bugis.
Mereka adalah keturunan ke sekian dari nenek moyang mereka yang
dahulu mendarat dan mendiami kemudian berusaha di kawasan itu.
Sebagian warga lain kabupaten itu menggantungkan hidupnya dari
berkebun lada dan karet serta beberapa jenis palawija. Akan tetapi,
yang paling banyak digeluti tentu saja kebun lada putih.
***
LADA tentu saja tidak bisa sepanjang tahun menjadi sumber nafkah
bagi warga setempat. Lada hanya mengenal satu kali musim panen setiap
tahun. Di luar masa panen lada, sebagian warga Bangka Tengah biasanya
pergi melaut mencari ikan.
Namun, sejak sekitar lima tahun lalu sebagian warga setempat
tergoda pula untuk mengupas permukaan bumi. Mereka tergoda untuk
mendapatkan uang secara cepat dengan menambang timah secara liar.
Buah dari aksi perusakan alam demi mencari bijih timah itu kini
jelas terlihat. Banyak kawasan di Kabupaten Bangka Tengah sudah porak-
poranda. Bekas-bekas lokasi galian penambangan bijih timah terdapat
di mana-mana, meninggalkan kolam-kolam besar dan lahan yang tidak
bisa ditanami lagi.
Akan tetapi, untuk menghentikan tambang timah rakyat ilegal yang
biasa disebut tambah timah inkonvensional itu, tentu bukan sesuatu
yang mudah dilakukan. Rakyat selalu berdalih bahwa mereka menambang
timah demi menjamin kebutuhan perut keluarga.
Oleh karena itu, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah
berupaya mencari solusi agar kegiatan menambang timah seperti itu
bisa dihentikan. Salah satunya adalah dengan membagikan sebanyak
100.000 bibit pohon karet secara cuma-cuma kepada seluruh warga.
"Tahap pertama pada tahun anggaran 2004 ini kami hendak
membagikan 100.000 bibit pohon karet kepada warga. Bibit sebanyak itu
bisa ditanam di lahan seluas 200 hektar," ujar Ibnu Saleh, Kepala
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bangka Tengah.
Pembukaan kebun karet rakyat dengan bantuan bibit dari pemerintah
daerah merupakan salah satu langkah awal untuk menghentikan tambang
timah ilegal. Rakyat diberi pilihan lain yang lebih menguntungkan,
yakni menanam pohon karet.
Langkah lain yang akan ditempuh Pemkab Bangka Tengah, menurut
Ibnu Saleh, adalah akan dibukanya perkebunan kelapa sawit. Untuk
tahap awal, pemkab menyediakan 15.000 hektar bagi investor swasta
yang hendak menanamkan modalnya.
Perkebunan kelapa sawit ini akan melibatkan rakyat karena lahan
yang digunakan adalah milik mereka. Bentuk kerja sama antara pemilik
modal dan rakyat dengan dijembatani pemkab tersebut kini masih
digodok.
Tujuan dari pembukaan perkebunan karet rakyat dan kelapa sawit
tersebut, menurut Ibnu, adalah agar rakyat mendapatkan sumber
penghasilan tetap yang menguntungkan. Dengan dibukanya usaha
perkebunan itu, diharapkan pula dapat menghentikan laju pembukaan
tambang timah-tambang timah baru di Bangka Tengah.
"Dengan berkebun karet dan sawit, rakyat akan mendapatkan
penghasilan tetap," kata Ibnu Saleh.
Seandainya kebun karet dan kebun kelapa sawit rakyat terwujud,
ungkap Ibnu, rakyat akan mendapat penghasilan secara terus-menerus
sepanjang tahun. Dari kebun karet mereka setiap hari bisa menyadap
dan menjualnya, dari kebun kelapa sawit rakyat pun setiap bulan
mendapat hasil dari panen yang diperoleh.
Sumber penghasilan tetap tersebut akan melengkapi sumber nafkah
lain yang tidak terputus, yakni penghasilan tahunan yang berasal dari
kebun lada. (Agus Mulyadi)
MENCIPTAKAN SUMBER NAFKAH WARGA TANPA HENTI
KABUPATEN Bangka Tengah berhadapan dengan dua perairan berbeda
di sisi barat dan timur. Di bagian barat daratan kabupaten ini
berbatasan langsung dengan Selat Bangka, sedangkan di timur menghadap
Laut Natuna.
Oleh karena itu, tidaklah aneh pula jika kabupaten ini memiliki
sejumlah lokasi pantai yang menawan. Salah satunya bisa dilihat di
antara Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung,
dan Koba, ibu kota Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan pantai di perairan Laut Natuna itu berada di tepi
jalan. Saat melintas di ruas jalan itu, pengendara bisa melirik ke
arah pantai. Kalau penasaran, tentu bisa berhenti di sembarang lokasi
untuk melihat pantai. Perjalanan antara Pangkal Pinang dan Koba,
seperti saat melintas di antara Anyer dan Carita di Provinsi Banten.
Akan tetapi, bedanya dengan Anyer-Carita, pantai Pangka Pinang-
Koba benar-benar masih perawan. Kemolekan pantai di ruas itu belum
dilirik oleh investor. Padahal, keindahan pantai ini merupakan salah
satu potensi yang luar biasa bagi kabupaten yang dibentuk berdasarkan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003, tanggal 25 Februari 2003 itu.
Sebelumnya Bangka Tengah merupakan bagian Kabupaten Bangka.
Laut dan pantai merupakan bagian dari kehidupan warga Bangka
Tengah. Sebagian penduduk kabupaten itu yang berjumlah 126.140 orang
bertumpu pada hasil laut. Akan tetapi, tidak sepanjang tahun laut
memberikan sumber nafkah.
Ketika musim angin besar tiba, pada saat laut sedang tidak
bersahabat, ikan-ikan pun menjadi sulit ditangkap. Nelayan pun
umumnya tidak melaut.
Para nelayan di daerah ini umumnya adalah warga keturunan Bugis.
Mereka adalah keturunan ke sekian dari nenek moyang mereka yang
dahulu mendarat dan mendiami kemudian berusaha di kawasan itu.
Sebagian warga lain kabupaten itu menggantungkan hidupnya dari
berkebun lada dan karet serta beberapa jenis palawija. Akan tetapi,
yang paling banyak digeluti tentu saja kebun lada putih.
***
LADA tentu saja tidak bisa sepanjang tahun menjadi sumber nafkah
bagi warga setempat. Lada hanya mengenal satu kali musim panen setiap
tahun. Di luar masa panen lada, sebagian warga Bangka Tengah biasanya
pergi melaut mencari ikan.
Namun, sejak sekitar lima tahun lalu sebagian warga setempat
tergoda pula untuk mengupas permukaan bumi. Mereka tergoda untuk
mendapatkan uang secara cepat dengan menambang timah secara liar.
Buah dari aksi perusakan alam demi mencari bijih timah itu kini
jelas terlihat. Banyak kawasan di Kabupaten Bangka Tengah sudah porak-
poranda. Bekas-bekas lokasi galian penambangan bijih timah terdapat
di mana-mana, meninggalkan kolam-kolam besar dan lahan yang tidak
bisa ditanami lagi.
Akan tetapi, untuk menghentikan tambang timah rakyat ilegal yang
biasa disebut tambah timah inkonvensional itu, tentu bukan sesuatu
yang mudah dilakukan. Rakyat selalu berdalih bahwa mereka menambang
timah demi menjamin kebutuhan perut keluarga.
Oleh karena itu, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah
berupaya mencari solusi agar kegiatan menambang timah seperti itu
bisa dihentikan. Salah satunya adalah dengan membagikan sebanyak
100.000 bibit pohon karet secara cuma-cuma kepada seluruh warga.
"Tahap pertama pada tahun anggaran 2004 ini kami hendak
membagikan 100.000 bibit pohon karet kepada warga. Bibit sebanyak itu
bisa ditanam di lahan seluas 200 hektar," ujar Ibnu Saleh, Kepala
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bangka Tengah.
Pembukaan kebun karet rakyat dengan bantuan bibit dari pemerintah
daerah merupakan salah satu langkah awal untuk menghentikan tambang
timah ilegal. Rakyat diberi pilihan lain yang lebih menguntungkan,
yakni menanam pohon karet.
Langkah lain yang akan ditempuh Pemkab Bangka Tengah, menurut
Ibnu Saleh, adalah akan dibukanya perkebunan kelapa sawit. Untuk
tahap awal, pemkab menyediakan 15.000 hektar bagi investor swasta
yang hendak menanamkan modalnya.
Perkebunan kelapa sawit ini akan melibatkan rakyat karena lahan
yang digunakan adalah milik mereka. Bentuk kerja sama antara pemilik
modal dan rakyat dengan dijembatani pemkab tersebut kini masih
digodok.
Tujuan dari pembukaan perkebunan karet rakyat dan kelapa sawit
tersebut, menurut Ibnu, adalah agar rakyat mendapatkan sumber
penghasilan tetap yang menguntungkan. Dengan dibukanya usaha
perkebunan itu, diharapkan pula dapat menghentikan laju pembukaan
tambang timah-tambang timah baru di Bangka Tengah.
"Dengan berkebun karet dan sawit, rakyat akan mendapatkan
penghasilan tetap," kata Ibnu Saleh.
Seandainya kebun karet dan kebun kelapa sawit rakyat terwujud,
ungkap Ibnu, rakyat akan mendapat penghasilan secara terus-menerus
sepanjang tahun. Dari kebun karet mereka setiap hari bisa menyadap
dan menjualnya, dari kebun kelapa sawit rakyat pun setiap bulan
mendapat hasil dari panen yang diperoleh.
Sumber penghasilan tetap tersebut akan melengkapi sumber nafkah
lain yang tidak terputus, yakni penghasilan tahunan yang berasal dari
kebun lada. (Agus Mulyadi)
Surga Lada dan Ikan Laut
KOMPAS - Selasa, 13 Apr 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5345
SURGA LADA DAN IKAN LAUT
ADA yang terlihat berbeda saat melintas di ruas jalan dari Koba
menuju Toboali, ibu kota Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung. Di sejumlah desa yang dilalui, kanan kiri jalan
sepanjang sekitar 60 kilometer itu berdiri rumah-rumah tembok milik
penduduk. Tentu saja rumah-rumah dengan bermacam-macam model.
Inilah lambang kemakmuran. Rumah terbuat dari tembok yang berdiri
kokoh menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang cukup mampu.
Di halaman sebagian rumah, dan ini terlihat cukup mencolok,
terpampang pula antena parabola. Ini satu lagi yang bisa dijadikan
bukti kemakmuran warga.
Pada saat melintas di jalan beraspal mulus tersebut, wujud
kemakmuran lain pun tampak. Lalu lalang sepeda motor seakan tidak
berhenti. Pengendaranya bukan hanya warga yang hendak menjalankan
aktivitasnya sehari-hari. Akan tetapi, anak-anak mereka yang sudah
remaja, baik yang pengangguran maupun yang masih sekolah, juga
melakukan aktivitasnya dengan menggunakan kendaraan roda dua bermesin
tersebut.
Kehidupan warga yang terlihat berkecukupan tersebut seakan
mengukuhkan fakta bahwa Bangka Selatan memang berbeda dari kabupaten
lain di Pulau Bangka. Daerah otonom berpenduduk 127.265 jiwa yang
terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 25
Februari 2003 ini memang merupakan daerah paling kaya. Kabupaten baru
ini sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Bangka.
Semuanya itu bersumber dari sumber daya alam yang memang memikat
dan menjanjikan. Di daratan, bumi Kabupaten Bangka Selatan merupakan
lahan yang subur ditumbuhi lada putih. Dari kabupaten inilah asal
lada putih bangka yang begitu terkenal di semua penjuru mata angin.
Lada putih tersebar di seantero Bangka Selatan, di kebun-kebun
milik rakyat. Inilah salah satu sumber utama kemakmuran warga
kabupaten baru tersebut. Lada sejak lama menjadi sumber utama
penghasilan warga Bangka Selatan.
Meskipun bagian perut bumi Kabupaten Bangka Selatan mengandung
timah yang juga menjadi sumber daya alam utama Pulau Bangka, lada
hingga sekarang masih tetap menjadi andalan. Setahun sekali warga
tetap bisa menikmati hasil dari kebun lada mereka. Kendati selama
tiga tahun ini harga lada kembali rendah menjadi sekitar Rp 19.000
per kilogram, lada tetap menjadi gantungan hidup rakyat banyak.
Berdirinya rumah-rumah berdinding tembok lengkap dengan antena
parabola di halaman, menurut Rusdar, seorang warga Bangka, terjadi
ketika harga lada melambung tahun 1998 hingga 2000. Pada kurun waktu
itu harga lada putih bangka sempat mencapai Rp 125.000 per kilogram.
Namun, sejak tahun 2002 harga lada putih bangka kembali anjlok di
kisaran Rp 19.000 per kilogram.
BANGKA Selatan pun memiliki potensi wisata alam. Selain pantainya
yang landai dan indah, di kabupaten ini pun terdapat kawasan perairan
dengan keindahan terumbu karangnya yang menawan di kawasan perairan
Pulau Pongok.
Potensi lain Kabupaten Bangka Selatan adalah kekayaan ikan laut
yang juga melambangkan kemakmuran daerah ini. Berbagai jenis ikan
setiap hari ditangkap nelayan dan menjadi sumber penghasilan mereka.
Setiap hari paling sedikit 20 truk besar mengangkut ikan laut untuk
dikirim ke Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung.
"Dari Pangkal Pinang, produksi ikan dari Bangka Selatan dikirim
ke berbagai kota lain di Indonesia," ungkap Syukur Rais, Asisten II
(Administrasi Ekonomi dan Pembangunan) Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Bangka Selatan.
Potensi tambang lain yang hingga sekarang ini belum dieksploitasi
juga masih melimpah di Kabupaten Bangka Selatan. Syukur menyebutkan,
pasir kuarsa dan kaolin adalah dua jenis tambang yang hingga kini
belum dilirik investor.
Mungkin karena Kabupaten Bangka Selatan memang merupakan daerah
kaya, pemerintah daerah setempat pun berani menetapkan target raihan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 30 miliar pada tahun anggaran
2004 ini.
"Sumber PAD berasal dari berbagai jenis pajak dan retribusi,"
ucap Syukur.
Dengan karunia Tuhan berupa tanah yang subur untuk ditanami lada,
Kabupaten Bangka Selatan pun memiliki kandungan timah yang tidak
sedikit pula. Bahkan, potensi timah pada akhirnya menjadi salah satu
persoalan yang serius di kabupaten ini. Sebagian warga ternyata
tergoda untuk menambang secara liar sehingga bumi Bangka Selatan pun
rusak, sama seperti sebagian besar wilayah di Pulau Bangka.
Apabila penambangan timah yang dilakukan secara liar ini tidak
bisa dihentikan, bisa dipastikan bahwa pada masa mendatang kemakmuran
akan menjauhi warga Bangka Selatan. Semakin luas lahan yang
dieksploitasi untuk penambangan timah, akan semakin sempit pula lahan
untuk pertanian, termasuk perkebunan rakyat seluas 26.000 hektar. Ini
berarti pula akan menyempitnya areal untuk tanaman lada.
Pemkab Bangka Selatan, menurut Syukur, sebenarnya tidak tinggal
diam. Beberapa bulan ini operasi terhadap penambangan timah liar
terus dilakukan. "Kami menyadari, jika penambangan timah tidak
dihentikan, bumi Bangka Selatan akan rusak. Rakyat nanti yang akan
sengsara. Seharusnya para penambang sadar, penambangan timah tidak
bisa membuat mereka kaya," tutur Syukur. (Agus Mulyadi)
SURGA LADA DAN IKAN LAUT
ADA yang terlihat berbeda saat melintas di ruas jalan dari Koba
menuju Toboali, ibu kota Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung. Di sejumlah desa yang dilalui, kanan kiri jalan
sepanjang sekitar 60 kilometer itu berdiri rumah-rumah tembok milik
penduduk. Tentu saja rumah-rumah dengan bermacam-macam model.
Inilah lambang kemakmuran. Rumah terbuat dari tembok yang berdiri
kokoh menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang cukup mampu.
Di halaman sebagian rumah, dan ini terlihat cukup mencolok,
terpampang pula antena parabola. Ini satu lagi yang bisa dijadikan
bukti kemakmuran warga.
Pada saat melintas di jalan beraspal mulus tersebut, wujud
kemakmuran lain pun tampak. Lalu lalang sepeda motor seakan tidak
berhenti. Pengendaranya bukan hanya warga yang hendak menjalankan
aktivitasnya sehari-hari. Akan tetapi, anak-anak mereka yang sudah
remaja, baik yang pengangguran maupun yang masih sekolah, juga
melakukan aktivitasnya dengan menggunakan kendaraan roda dua bermesin
tersebut.
Kehidupan warga yang terlihat berkecukupan tersebut seakan
mengukuhkan fakta bahwa Bangka Selatan memang berbeda dari kabupaten
lain di Pulau Bangka. Daerah otonom berpenduduk 127.265 jiwa yang
terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 25
Februari 2003 ini memang merupakan daerah paling kaya. Kabupaten baru
ini sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Bangka.
Semuanya itu bersumber dari sumber daya alam yang memang memikat
dan menjanjikan. Di daratan, bumi Kabupaten Bangka Selatan merupakan
lahan yang subur ditumbuhi lada putih. Dari kabupaten inilah asal
lada putih bangka yang begitu terkenal di semua penjuru mata angin.
Lada putih tersebar di seantero Bangka Selatan, di kebun-kebun
milik rakyat. Inilah salah satu sumber utama kemakmuran warga
kabupaten baru tersebut. Lada sejak lama menjadi sumber utama
penghasilan warga Bangka Selatan.
Meskipun bagian perut bumi Kabupaten Bangka Selatan mengandung
timah yang juga menjadi sumber daya alam utama Pulau Bangka, lada
hingga sekarang masih tetap menjadi andalan. Setahun sekali warga
tetap bisa menikmati hasil dari kebun lada mereka. Kendati selama
tiga tahun ini harga lada kembali rendah menjadi sekitar Rp 19.000
per kilogram, lada tetap menjadi gantungan hidup rakyat banyak.
Berdirinya rumah-rumah berdinding tembok lengkap dengan antena
parabola di halaman, menurut Rusdar, seorang warga Bangka, terjadi
ketika harga lada melambung tahun 1998 hingga 2000. Pada kurun waktu
itu harga lada putih bangka sempat mencapai Rp 125.000 per kilogram.
Namun, sejak tahun 2002 harga lada putih bangka kembali anjlok di
kisaran Rp 19.000 per kilogram.
BANGKA Selatan pun memiliki potensi wisata alam. Selain pantainya
yang landai dan indah, di kabupaten ini pun terdapat kawasan perairan
dengan keindahan terumbu karangnya yang menawan di kawasan perairan
Pulau Pongok.
Potensi lain Kabupaten Bangka Selatan adalah kekayaan ikan laut
yang juga melambangkan kemakmuran daerah ini. Berbagai jenis ikan
setiap hari ditangkap nelayan dan menjadi sumber penghasilan mereka.
Setiap hari paling sedikit 20 truk besar mengangkut ikan laut untuk
dikirim ke Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung.
"Dari Pangkal Pinang, produksi ikan dari Bangka Selatan dikirim
ke berbagai kota lain di Indonesia," ungkap Syukur Rais, Asisten II
(Administrasi Ekonomi dan Pembangunan) Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Bangka Selatan.
Potensi tambang lain yang hingga sekarang ini belum dieksploitasi
juga masih melimpah di Kabupaten Bangka Selatan. Syukur menyebutkan,
pasir kuarsa dan kaolin adalah dua jenis tambang yang hingga kini
belum dilirik investor.
Mungkin karena Kabupaten Bangka Selatan memang merupakan daerah
kaya, pemerintah daerah setempat pun berani menetapkan target raihan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 30 miliar pada tahun anggaran
2004 ini.
"Sumber PAD berasal dari berbagai jenis pajak dan retribusi,"
ucap Syukur.
Dengan karunia Tuhan berupa tanah yang subur untuk ditanami lada,
Kabupaten Bangka Selatan pun memiliki kandungan timah yang tidak
sedikit pula. Bahkan, potensi timah pada akhirnya menjadi salah satu
persoalan yang serius di kabupaten ini. Sebagian warga ternyata
tergoda untuk menambang secara liar sehingga bumi Bangka Selatan pun
rusak, sama seperti sebagian besar wilayah di Pulau Bangka.
Apabila penambangan timah yang dilakukan secara liar ini tidak
bisa dihentikan, bisa dipastikan bahwa pada masa mendatang kemakmuran
akan menjauhi warga Bangka Selatan. Semakin luas lahan yang
dieksploitasi untuk penambangan timah, akan semakin sempit pula lahan
untuk pertanian, termasuk perkebunan rakyat seluas 26.000 hektar. Ini
berarti pula akan menyempitnya areal untuk tanaman lada.
Pemkab Bangka Selatan, menurut Syukur, sebenarnya tidak tinggal
diam. Beberapa bulan ini operasi terhadap penambangan timah liar
terus dilakukan. "Kami menyadari, jika penambangan timah tidak
dihentikan, bumi Bangka Selatan akan rusak. Rakyat nanti yang akan
sengsara. Seharusnya para penambang sadar, penambangan timah tidak
bisa membuat mereka kaya," tutur Syukur. (Agus Mulyadi)
Kota Tanpa Gelandangan
KOMPAS - Selasa, 03 Jun 2003 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5783
KOTA TANPA GELANDANGAN
BEKERJA keras! Itulah motto hidup warga Pulau Bangka, termasuk
penduduk Kota Pangkalpinang. Mereka tidak mau menjadi pengangguran
yang menjadi parasit bagi orang lain. Membanting tulang sudah pasti
jauh lebih menjanjikan dan terhormat dibandingkan menjadi pengemis,
misalnya.
Mungkin karena penduduknya yang suka bekerja keras itulah di Kota
Pangkalpinang tidak dijumpai gelandangan dan pengemis. Paling tidak,
itulah yang terlihat ketika Kompas selama beberapa hari mengelilingi
ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada pertengahan Mei 2003.
Apakah tidak adanya gelandangan atau pengemis yang berkeliaran di
jalan-jalan dalam kota pertanda warga Pangkalpinang makmur? Ternyata
jawabannya belum tentu. Jika diukur, masih banyaknya warga setempat
yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Data dari Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota Pangkalpinang
disebutkan, di kota itu terdapat sekitar 3.177 keluarga yang
tergolong hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, warga yang hidupnya
pas-pasan itu pun ternyata tidak memilih menjadi pengemis. Mereka
memilih tetap bekerja sebagai buruh kasar, baik di lokasi-lokasi
penambangan timah, di pasar, atau tempat lainnya.
Jumlah penduduk kota yang akan berusia 47 tahun pada 16 November
2003 itu sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar 134.000 jiwa.
Mereka umumnya mengandalkan hidup dari sektor perdagangan, jasa, dan
industri.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim menyebutkan, 58
persen penduduk setempat mencari nafkah dari sektor primer, seperti
perdagangan, jasa, dan industri. Sementara yang menggantungkan
hidupnya dari sektor sekunder berupa bidang pengolahan seperti
kerajinan sebesar 22 persen. Sisanya, 20 persen, bergerak dalam
bidang pertanian, perikanan, dan peternakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, ungkap Zulkarnaen,
menyadari lilitan kemiskinan yang dialami sebagian warganya harus
dilepaskan. Upaya yang dilakukan pemkot di antaranya dengan
memberikan santunan Rp 50.000 per keluarga setiap bulannya.
"Anggarannya diambil dari dana abadi yang disimpan di bank. Uang
itu berasal dari bantuan masyarakat, seperti kalangan pengusaha,"
ujar Zulkarnaen.
Penghimpunan dana dan pemberian bantuan kemanusiaan seperti itu,
menurut Zulkarnaen, merupakan wujud dari kesetiakawanan sosial yang
ditunjukkan warganya. Pembinaan kesetiakawanan sosial seperti itu
diperlukan agar warga bersama-sama secara swadaya membantu sesamanya
yang hidup dalam kemiskinan.
Kesetiakawanan sosial itu ditanamkan kepada warga setempat sejak
mereka masih sekolah. "Setiap bulan Agustus, semua pelajar di
Pangkalpinang menghimpun beras. Jumlah beras yang dikumpulkan dari
setiap siswa tidak banyak, semampu mereka masing-masing. Pengumpulan
beras pada bulan Agustus itu sekaligus pula menanamkan jiwa
nasionalisme bagi pelajar," ucap Zulkarnaen.
***
TIDAK terlihatnya gelandangan atau pengemis berkeliaran di dalam
kota memang tidak menjadi tolok ukur wilayah itu makmur secara
keseluruhan. Seandainya bentuk "penyakit masyarakat" lain yakni
pelacuran juga menjadi acuan ketidakmakmuran warganya, Kota
Pangkalpinang sama seperti sebagian besar daerah lain di Indonesia,
masih miskin.
Praktik pelacuran begitu nyata di kota yang mempunyai motto
pembangunan Berarti (bersih, aman, rapi, tertib, dan indah) itu. Pada
malam hari, misalnya, puluhan wanita pekerja seks komersial (PSK)
bertebaran di seputar Lapangan Merdeka. Di kawasan pusat kota yang
terletak di depan rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang itu dengan
bebas wanita PSK menjajakan diri.
Berdampingan dengan Lapangan Merdeka, bentuk prostitusi lain juga
dengan mudah ditemukan di Kompleks Taman Sari. Namun, di lokasi ini
yang menjajakan diri berasal dari kalangan waria.
Praktik prostitusi di Pangkalpinang bisa ditemukan pula di dua
lokasi lain, yakni di kawasan Teluk Bayur dan Parit Enam. Mungkin,
sulitnya mencari nafkah di zaman yang masih serba sulit sekarang yang
mendorong sebagian perempuan muda menjadi PSK di Pangkalpinang.
Tak adanya gelandangan dan pengemis memang tak menjadi ukuran
Pangkalpinang adalah kota yang makmur. Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) Kota Pangkalpinang sampai tahun anggaran 2003
pun masih bergantung sepenuhnya ke pemerintah pusat.
Dari APBD sebesar Rp 141 miliar pada tahun 2003, hanya Rp 9
miliar yang ditargetkan berasal dari pendapatan asli daerah (PAD)
sendiri. Sebagian besar anggaran berasal dari DAU (dana alokasi umum)
yang diberikan pemerintah pusat. Rendahnya PAD tersebut diakui
Zulkarnaen Karim.
Menurut dia, Kota Pangkalpinang memang tidak
memiliki sumber daya alam memadai. PAD kota ini hanya mengandalkan
dari retribusi seperti izin tempat usaha dan izin mendirikan
bangunan. Lainnya berasal dari pajak penerangan jalan umum, pajak
hotel, dan restoran.
Pemkot Pangkalpinang sendiri tentu saja tidak tinggal diam. Salah
satu upaya mendongkrak PAD tersebut, misalnya, berasal dari pajak
sarang burung walet. Di kota itu sekarang terdapat lebih dari 70
lokasi sarang burung walet.
Di Pangkalpinang memang tidak ditemukan gelandangan, pengemis,
bahkan pengamen sekalipun. Di kota yang sebagian penduduknya hidup
miskin itu, kehidupan yang diwarnai pula praktik prostitusi, kerja
keras terus dilakukan warganya agar hidup layak dan lebih layak.
Pada era otonomi daerah sekarang, Pangkalpinang dianggap
Zulkarnaen lebih makmur dari pada tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun
masih dililit kesulitan ekonomi, itu lebih karena imbas keterpurukan
ekonomi secara nasional selama lima tahun ini. (Agus Mulyadi)
KOTA TANPA GELANDANGAN
BEKERJA keras! Itulah motto hidup warga Pulau Bangka, termasuk
penduduk Kota Pangkalpinang. Mereka tidak mau menjadi pengangguran
yang menjadi parasit bagi orang lain. Membanting tulang sudah pasti
jauh lebih menjanjikan dan terhormat dibandingkan menjadi pengemis,
misalnya.
Mungkin karena penduduknya yang suka bekerja keras itulah di Kota
Pangkalpinang tidak dijumpai gelandangan dan pengemis. Paling tidak,
itulah yang terlihat ketika Kompas selama beberapa hari mengelilingi
ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada pertengahan Mei 2003.
Apakah tidak adanya gelandangan atau pengemis yang berkeliaran di
jalan-jalan dalam kota pertanda warga Pangkalpinang makmur? Ternyata
jawabannya belum tentu. Jika diukur, masih banyaknya warga setempat
yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Data dari Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota Pangkalpinang
disebutkan, di kota itu terdapat sekitar 3.177 keluarga yang
tergolong hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, warga yang hidupnya
pas-pasan itu pun ternyata tidak memilih menjadi pengemis. Mereka
memilih tetap bekerja sebagai buruh kasar, baik di lokasi-lokasi
penambangan timah, di pasar, atau tempat lainnya.
Jumlah penduduk kota yang akan berusia 47 tahun pada 16 November
2003 itu sebenarnya tidak terlalu banyak, yakni sekitar 134.000 jiwa.
Mereka umumnya mengandalkan hidup dari sektor perdagangan, jasa, dan
industri.
Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim menyebutkan, 58
persen penduduk setempat mencari nafkah dari sektor primer, seperti
perdagangan, jasa, dan industri. Sementara yang menggantungkan
hidupnya dari sektor sekunder berupa bidang pengolahan seperti
kerajinan sebesar 22 persen. Sisanya, 20 persen, bergerak dalam
bidang pertanian, perikanan, dan peternakan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, ungkap Zulkarnaen,
menyadari lilitan kemiskinan yang dialami sebagian warganya harus
dilepaskan. Upaya yang dilakukan pemkot di antaranya dengan
memberikan santunan Rp 50.000 per keluarga setiap bulannya.
"Anggarannya diambil dari dana abadi yang disimpan di bank. Uang
itu berasal dari bantuan masyarakat, seperti kalangan pengusaha,"
ujar Zulkarnaen.
Penghimpunan dana dan pemberian bantuan kemanusiaan seperti itu,
menurut Zulkarnaen, merupakan wujud dari kesetiakawanan sosial yang
ditunjukkan warganya. Pembinaan kesetiakawanan sosial seperti itu
diperlukan agar warga bersama-sama secara swadaya membantu sesamanya
yang hidup dalam kemiskinan.
Kesetiakawanan sosial itu ditanamkan kepada warga setempat sejak
mereka masih sekolah. "Setiap bulan Agustus, semua pelajar di
Pangkalpinang menghimpun beras. Jumlah beras yang dikumpulkan dari
setiap siswa tidak banyak, semampu mereka masing-masing. Pengumpulan
beras pada bulan Agustus itu sekaligus pula menanamkan jiwa
nasionalisme bagi pelajar," ucap Zulkarnaen.
***
TIDAK terlihatnya gelandangan atau pengemis berkeliaran di dalam
kota memang tidak menjadi tolok ukur wilayah itu makmur secara
keseluruhan. Seandainya bentuk "penyakit masyarakat" lain yakni
pelacuran juga menjadi acuan ketidakmakmuran warganya, Kota
Pangkalpinang sama seperti sebagian besar daerah lain di Indonesia,
masih miskin.
Praktik pelacuran begitu nyata di kota yang mempunyai motto
pembangunan Berarti (bersih, aman, rapi, tertib, dan indah) itu. Pada
malam hari, misalnya, puluhan wanita pekerja seks komersial (PSK)
bertebaran di seputar Lapangan Merdeka. Di kawasan pusat kota yang
terletak di depan rumah dinas Wali Kota Pangkalpinang itu dengan
bebas wanita PSK menjajakan diri.
Berdampingan dengan Lapangan Merdeka, bentuk prostitusi lain juga
dengan mudah ditemukan di Kompleks Taman Sari. Namun, di lokasi ini
yang menjajakan diri berasal dari kalangan waria.
Praktik prostitusi di Pangkalpinang bisa ditemukan pula di dua
lokasi lain, yakni di kawasan Teluk Bayur dan Parit Enam. Mungkin,
sulitnya mencari nafkah di zaman yang masih serba sulit sekarang yang
mendorong sebagian perempuan muda menjadi PSK di Pangkalpinang.
Tak adanya gelandangan dan pengemis memang tak menjadi ukuran
Pangkalpinang adalah kota yang makmur. Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) Kota Pangkalpinang sampai tahun anggaran 2003
pun masih bergantung sepenuhnya ke pemerintah pusat.
Dari APBD sebesar Rp 141 miliar pada tahun 2003, hanya Rp 9
miliar yang ditargetkan berasal dari pendapatan asli daerah (PAD)
sendiri. Sebagian besar anggaran berasal dari DAU (dana alokasi umum)
yang diberikan pemerintah pusat. Rendahnya PAD tersebut diakui
Zulkarnaen Karim.
Menurut dia, Kota Pangkalpinang memang tidak
memiliki sumber daya alam memadai. PAD kota ini hanya mengandalkan
dari retribusi seperti izin tempat usaha dan izin mendirikan
bangunan. Lainnya berasal dari pajak penerangan jalan umum, pajak
hotel, dan restoran.
Pemkot Pangkalpinang sendiri tentu saja tidak tinggal diam. Salah
satu upaya mendongkrak PAD tersebut, misalnya, berasal dari pajak
sarang burung walet. Di kota itu sekarang terdapat lebih dari 70
lokasi sarang burung walet.
Di Pangkalpinang memang tidak ditemukan gelandangan, pengemis,
bahkan pengamen sekalipun. Di kota yang sebagian penduduknya hidup
miskin itu, kehidupan yang diwarnai pula praktik prostitusi, kerja
keras terus dilakukan warganya agar hidup layak dan lebih layak.
Pada era otonomi daerah sekarang, Pangkalpinang dianggap
Zulkarnaen lebih makmur dari pada tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun
masih dililit kesulitan ekonomi, itu lebih karena imbas keterpurukan
ekonomi secara nasional selama lima tahun ini. (Agus Mulyadi)
Bangka, antara Timah, Lada, dan Konservasi Hutan
KOMPAS - Selasa, 18 Apr 2000 Halaman: 22 Penulis: MULYADI, AGUS Ukuran: 6955
BANGKA, ANTARA TIMAH, LADA, DAN KONSERVASI HUTAN
EMPAT kapal milik VOC Belanda, kabarnya dahulu kala tenggelam di
perairan lepas pantai Muntok, Kabupaten Bangka. Empat kapal yang tidak
diketahui ukurannya itu, membawa muatan timah. Cerita tenggelamnya
empat kapal diyakini warga Bangka benar terjadi, meskipun bangkainya
di dasar laut sampai sekarang belum bisa ditemukan.
MEMBICARAKAN Pulau Bangka yang luasnya lebih dari 1,1 juta
hektar (sekitar 18 kali luas DKI Jakarta) dan berpenduduk 540.892 jiwa
pada tahun 1996, memang tidak pernah bisa lepas dari produksi timahnya.
Sejak zaman Belanda, bumi Bangka telah ditambang untuk mencari bijih
timah. Sampai sekarang pun, deposit timah tidak kunjung habis.
Di puluhan lokasi tambang di bawah pengelolaan PT Tambang Timah
dan sub-sub kontraktor pelaksana penambangannya sampai kini kandungan
timah terus digali.
Tidak mempedulikan rusaknya lingkungan alam sekitar, bumi Bangka
terus digali. Meskipun lahan yang dieksplorasi dan kemudian
dieksploitasi berada di kawasan hutan, penambangan terus dilakukan.
"Timah memang nomor satu di Bangka. Mungkin timah lebih penting,
dibandingkan konservasi hutan yang juga penting bagi kelanjutan umat
manusia," kata Temtem Hermawan, Kepala Cabang Departemen Kehutanan
Kabupaten Bangka, 20 Maret.
Salah satu lokasi penambangan timah di kawasan hutan, dengan
sistem pinjam pakai, terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat
I. Di kawasan hutan dengan tanaman jenis Acacia mangium, terdapat
lahan penambangan timah di wilayah Perwakilan Kecamatan Riau Silip.
Saat ini sekitar 20 hektar areal hutan, telah berubah menjadi kawasan
padang pasir dan danau. Hamparan pasir, berasal dari limbah buangan
pertambangan timah.
"Sudah empat tahun penambangan timah di lokasi ini. Setiap tahun
lokasi tambang bertambah luas ke lahan di sekitarnya, mengikuti urat
bijih timah yang ada di dalam Bumi. Lokasi penambangan yang telah
digali, ditinggalkan begitu saja, tanpa direhabilitasi dengan menanam
pohon kembali," ujar Agus Trenggono, Kepala Bagian Kesatuan Pemangku
Hutan (BKPH) Bangka Utara.
***
TIDAK diketahui pasti, mengapa dana rehabilitasi hutan yang
disetorkan perusahaan penambang ke Departemen Pertambangan dan Energi,
tidak digunakan untuk keperluan itu. Di wilayah BKPH Bangka Utara
dengan luas hutan 66.000 hektar, terdapat sekitar 62 lokasi bekas dan
lokasi galian yang masih dioperasikan. Akibatnya, di tengah-tengah
kawasan hutan, banyak terdapat hamparan padang pasir, dan danau-danau
bekas penambangan timah.
Upaya untuk menghutankan kembali lahan bekas tambang timah
sendiri, tidak semudah seperti saat merusaknya. Pepohonan -bahkan dari
jenis Acacia mangium yang mudah tumbuh dan besar- sulit tumbuh karena
sudah hilangnya lapisan tanah. Kalau pun dipaksa ditanam, pohon akan
tetap kerdil seperti bonsai.
Sulitnya menghutankan kembali lahan bekas lokasi penambangan
timah, misalnya terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat I
Blok K. Lahan gersang bekas lokasi tambang di zaman Belanda, sampai
saat ini tetap gundul. Bibit Acacia mangium yang ditanam tujuh tahun
lalu, tetap kerdil setinggi satu meter. Padahal di kawasan sekitarnya,
tumbuh subur tanaman sejenis yang ditanam pada waktu yang sama di atas
lahan 11.000 hektar.
Di kawasan Air Jeliti, Acacia mangium juga tetap kerdil di lahan
bekas tambang timah. Upaya penghutanan kembali lahan bekas tambang
timah, umumnya hampir dipastikan gagal. "Di lokasi bekas tambang timah
yang kini telah menjadi danau, lumut pun tidak bisa hidup. Akibat
tidak adanya pythoplankton, ikan tidak dapat hidup pula," kata Dr Ir
Dwi Sudharto MSi, Kepala Bagian Program dan Anggaran, Badan Planologi
Perkebunan dan Kehutanan, Dephut.
***
LUAS hutan di Pulau Bangka saat ini sekitar 434.000 hektar,
terdiri atas hutan produksi seluas 392.750 hektar dan hutan lindung
40.250 hektar. Kondisi hutan saat ini sungguh memprihatinkan, karena
198.655 hektar di antaranya dalam keadaan rusak. Kerusakan terjadi
akibat aktivitas pertambangan, penebangan liar, dan perladangan.
Sejak krisis ekonomi dan moneter mendera negara ini, perladangan
liar ini semakin menjadi-jadi. Akibat kurangnya lahan milik sendiri
warga setempat masuk ke dan hutan, membabat semak belukar untuk
menyulapnya menjadi kebun lada putih.
Meningkatnya pembukaan kebun lada baru, merupakan dampak dari
melambungnya harga lada pada saat puncak krisis ekonomi dua tahun
lalu. Saat itu harga lada melambung sampai Rp 150.000/kg. Padahal
sebelum krisis, harga pasaran lada putih di Pulau Bangka hanya Rp
5.000/kg.
Hamparan hutan yang banyak dibabat warga untuk dijadikan kebun
lada, umumnya terdapat di BKPH Bangka Selatan. Abdul Malik, Kepala
BKPH Bangka Selatan, menyebutkan, di wilayahnya di kawasan Toboali
dan sekitarnya, ribuan hektar hutan telah dirambah dan diubah menjadi
kebun lada.
Saat ini, kebun lada yang baru berusia sekitar dua tahun, belum
memasuki masa panen. "Buah lada baru bisa dipanen ketika tanaman
berusia tiga tahun. Dan setiap tahun berikutnya sampai usia lima
tahun, lada masih bisa dipanen. Produksinya, satu sampai dua kilogram
setiap rumpun," kata Temtem Hermawan.
Bangka saat ini memang tidak hanya mengandalkan dan bertumpu pada
timah. Tanah Bangka-di luar kawasan pertambangan timah-juga masih
menjadi tempat tumbuh subur tanaman lada untuk bumbu-bumbuan itu.
Produksi lada putih (Piper nigrum) Bangka pada 1999 tercatat sekitar
30.000 ton.
Melambungnya harga lada putih juga telah mengubah hidup warga
Bangka menjadi lebih makmur. Meskipun saat ini harga lada putih
tinggal sekitar Rp 30.000-Rp 40.000 per ton, petani setempat masih
tetap merasakan kesejahteraan hidup. Salah satu indikator kemakmuran
itu, terlihat dari masih banyaknya warga Bangka yang menunaikan ibadah
haji. Menurut Sekwilda Bangka, Usman Saleh, tahun 2000 ini warganya
yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sebanyak 668 orang.
Melihat kenyataan timah dan lada tetap menjadi andalan bagi
Bangka, konservasi hutan di Bangka yang juga penting bagi kelangsungan
hidup umat manusia, tetap terancam. Lahan hutan masih tetap diincar,
untuk membuka tambang timah atau kebun lada baru. Di sisi lain,
Departemen Kehutanan tentu tidak bisa menghentikan kemakmuran bagi
warga yang terus berlangsung itu. (agus mulyadi)
Foto
Kompas/agus mulyadi
GUSUR HUTAN -- Sekitar 20 hektar hutan produksi di dalam kawasan
Register 12 Sungailiat di Perwakilan Kecamatan Riau Silip, Kabupaten
Bangka, Sumatera Selatan, sejak empat tahun lalu berubah menjadi
padang pasir yang berasal dari limbah (tailing) penambangan timah.
Demi menambang timah, kawasan hutan yang telah direhabilitasi itu
digusur.
Peta
BANGKA, ANTARA TIMAH, LADA, DAN KONSERVASI HUTAN
EMPAT kapal milik VOC Belanda, kabarnya dahulu kala tenggelam di
perairan lepas pantai Muntok, Kabupaten Bangka. Empat kapal yang tidak
diketahui ukurannya itu, membawa muatan timah. Cerita tenggelamnya
empat kapal diyakini warga Bangka benar terjadi, meskipun bangkainya
di dasar laut sampai sekarang belum bisa ditemukan.
MEMBICARAKAN Pulau Bangka yang luasnya lebih dari 1,1 juta
hektar (sekitar 18 kali luas DKI Jakarta) dan berpenduduk 540.892 jiwa
pada tahun 1996, memang tidak pernah bisa lepas dari produksi timahnya.
Sejak zaman Belanda, bumi Bangka telah ditambang untuk mencari bijih
timah. Sampai sekarang pun, deposit timah tidak kunjung habis.
Di puluhan lokasi tambang di bawah pengelolaan PT Tambang Timah
dan sub-sub kontraktor pelaksana penambangannya sampai kini kandungan
timah terus digali.
Tidak mempedulikan rusaknya lingkungan alam sekitar, bumi Bangka
terus digali. Meskipun lahan yang dieksplorasi dan kemudian
dieksploitasi berada di kawasan hutan, penambangan terus dilakukan.
"Timah memang nomor satu di Bangka. Mungkin timah lebih penting,
dibandingkan konservasi hutan yang juga penting bagi kelanjutan umat
manusia," kata Temtem Hermawan, Kepala Cabang Departemen Kehutanan
Kabupaten Bangka, 20 Maret.
Salah satu lokasi penambangan timah di kawasan hutan, dengan
sistem pinjam pakai, terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat
I. Di kawasan hutan dengan tanaman jenis Acacia mangium, terdapat
lahan penambangan timah di wilayah Perwakilan Kecamatan Riau Silip.
Saat ini sekitar 20 hektar areal hutan, telah berubah menjadi kawasan
padang pasir dan danau. Hamparan pasir, berasal dari limbah buangan
pertambangan timah.
"Sudah empat tahun penambangan timah di lokasi ini. Setiap tahun
lokasi tambang bertambah luas ke lahan di sekitarnya, mengikuti urat
bijih timah yang ada di dalam Bumi. Lokasi penambangan yang telah
digali, ditinggalkan begitu saja, tanpa direhabilitasi dengan menanam
pohon kembali," ujar Agus Trenggono, Kepala Bagian Kesatuan Pemangku
Hutan (BKPH) Bangka Utara.
***
TIDAK diketahui pasti, mengapa dana rehabilitasi hutan yang
disetorkan perusahaan penambang ke Departemen Pertambangan dan Energi,
tidak digunakan untuk keperluan itu. Di wilayah BKPH Bangka Utara
dengan luas hutan 66.000 hektar, terdapat sekitar 62 lokasi bekas dan
lokasi galian yang masih dioperasikan. Akibatnya, di tengah-tengah
kawasan hutan, banyak terdapat hamparan padang pasir, dan danau-danau
bekas penambangan timah.
Upaya untuk menghutankan kembali lahan bekas tambang timah
sendiri, tidak semudah seperti saat merusaknya. Pepohonan -bahkan dari
jenis Acacia mangium yang mudah tumbuh dan besar- sulit tumbuh karena
sudah hilangnya lapisan tanah. Kalau pun dipaksa ditanam, pohon akan
tetap kerdil seperti bonsai.
Sulitnya menghutankan kembali lahan bekas lokasi penambangan
timah, misalnya terdapat di hutan produksi Register 12 Sungailiat I
Blok K. Lahan gersang bekas lokasi tambang di zaman Belanda, sampai
saat ini tetap gundul. Bibit Acacia mangium yang ditanam tujuh tahun
lalu, tetap kerdil setinggi satu meter. Padahal di kawasan sekitarnya,
tumbuh subur tanaman sejenis yang ditanam pada waktu yang sama di atas
lahan 11.000 hektar.
Di kawasan Air Jeliti, Acacia mangium juga tetap kerdil di lahan
bekas tambang timah. Upaya penghutanan kembali lahan bekas tambang
timah, umumnya hampir dipastikan gagal. "Di lokasi bekas tambang timah
yang kini telah menjadi danau, lumut pun tidak bisa hidup. Akibat
tidak adanya pythoplankton, ikan tidak dapat hidup pula," kata Dr Ir
Dwi Sudharto MSi, Kepala Bagian Program dan Anggaran, Badan Planologi
Perkebunan dan Kehutanan, Dephut.
***
LUAS hutan di Pulau Bangka saat ini sekitar 434.000 hektar,
terdiri atas hutan produksi seluas 392.750 hektar dan hutan lindung
40.250 hektar. Kondisi hutan saat ini sungguh memprihatinkan, karena
198.655 hektar di antaranya dalam keadaan rusak. Kerusakan terjadi
akibat aktivitas pertambangan, penebangan liar, dan perladangan.
Sejak krisis ekonomi dan moneter mendera negara ini, perladangan
liar ini semakin menjadi-jadi. Akibat kurangnya lahan milik sendiri
warga setempat masuk ke dan hutan, membabat semak belukar untuk
menyulapnya menjadi kebun lada putih.
Meningkatnya pembukaan kebun lada baru, merupakan dampak dari
melambungnya harga lada pada saat puncak krisis ekonomi dua tahun
lalu. Saat itu harga lada melambung sampai Rp 150.000/kg. Padahal
sebelum krisis, harga pasaran lada putih di Pulau Bangka hanya Rp
5.000/kg.
Hamparan hutan yang banyak dibabat warga untuk dijadikan kebun
lada, umumnya terdapat di BKPH Bangka Selatan. Abdul Malik, Kepala
BKPH Bangka Selatan, menyebutkan, di wilayahnya di kawasan Toboali
dan sekitarnya, ribuan hektar hutan telah dirambah dan diubah menjadi
kebun lada.
Saat ini, kebun lada yang baru berusia sekitar dua tahun, belum
memasuki masa panen. "Buah lada baru bisa dipanen ketika tanaman
berusia tiga tahun. Dan setiap tahun berikutnya sampai usia lima
tahun, lada masih bisa dipanen. Produksinya, satu sampai dua kilogram
setiap rumpun," kata Temtem Hermawan.
Bangka saat ini memang tidak hanya mengandalkan dan bertumpu pada
timah. Tanah Bangka-di luar kawasan pertambangan timah-juga masih
menjadi tempat tumbuh subur tanaman lada untuk bumbu-bumbuan itu.
Produksi lada putih (Piper nigrum) Bangka pada 1999 tercatat sekitar
30.000 ton.
Melambungnya harga lada putih juga telah mengubah hidup warga
Bangka menjadi lebih makmur. Meskipun saat ini harga lada putih
tinggal sekitar Rp 30.000-Rp 40.000 per ton, petani setempat masih
tetap merasakan kesejahteraan hidup. Salah satu indikator kemakmuran
itu, terlihat dari masih banyaknya warga Bangka yang menunaikan ibadah
haji. Menurut Sekwilda Bangka, Usman Saleh, tahun 2000 ini warganya
yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci sebanyak 668 orang.
Melihat kenyataan timah dan lada tetap menjadi andalan bagi
Bangka, konservasi hutan di Bangka yang juga penting bagi kelangsungan
hidup umat manusia, tetap terancam. Lahan hutan masih tetap diincar,
untuk membuka tambang timah atau kebun lada baru. Di sisi lain,
Departemen Kehutanan tentu tidak bisa menghentikan kemakmuran bagi
warga yang terus berlangsung itu. (agus mulyadi)
Foto
Kompas/agus mulyadi
GUSUR HUTAN -- Sekitar 20 hektar hutan produksi di dalam kawasan
Register 12 Sungailiat di Perwakilan Kecamatan Riau Silip, Kabupaten
Bangka, Sumatera Selatan, sejak empat tahun lalu berubah menjadi
padang pasir yang berasal dari limbah (tailing) penambangan timah.
Demi menambang timah, kawasan hutan yang telah direhabilitasi itu
digusur.
Peta
Bangka Belitung, Calon Provinsi Baru
KOMPAS - Selasa, 18 Apr 2000 Halaman: 22 Penulis: MUL Ukuran: 5719
BANGKA BELITUNG, CALON PROPINSI BARU
"KAWIN dulu, baru setelah itu mempersiapkan segalanya untuk
memiliki rumah, kendaraan, dan keperluan rumah tangga
lainnya. Kalau menunggu mempunyai rumah dan lainnya lebih dulu,
mungkin tidak akan pernah bisa kawin (maksudnya menikah-Red). Begitu
juga dengan Propinsi Bangka-Belitung. Terlebih dulu terbentuk
propinsinya, baru sesudah itu dengan segala potensi yang ada
membangun propinsi ini," tutur Sekwilda Kabupaten Bangka, Usman
Saleh, di ruang kerjanya, belum lama ini.
Usman Saleh diminta pendapatnya tentang kesiapan Bangka, menuju
pembentukan Propinsi Bangka-Belitung, terpisah dari induknya Sumatera
Selatan. Gubernur dan DPRD Sumatera Selatan pun telah memberi restu.
Saat ini RUU pembentukan propinsi baru itu, tengah digodok oleh wakil
rakyat di DPR RI.
Sama seperti daerah lain yang ingin membentuk propinsi sendiri,
salah satunya Banten yang terpisah dari Jawa Barat, keraguan sebagian
kalangan di negara ini pada kemampuan daerah baru itu untuk membangun
jika telah menjadi propinsi, juga muncul. Terlebih lagi jika melihat
masih kecilnya PAD (pendapatan asli daerah) yang dapat dihimpun
kabupaten/kota yang ada di Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
PAD Kabupaten Bangka, misalnya, pada tahun 1999 hanya sebesar
Rp 6,9 milyar. Angka sebesar itu, jauh dari mencukupi bahkan untuk
belanja rutin sekalipun.
Data dari Pemda Kabupaten Bangka menyebutkan, realisasi APBD
setempat tahun anggaran 1997/1998 sebesar Rp 63,7 milyar. Di dalam
APBD tahun 1997/1998 itu, anggaran untuk belanja rutin mencapai Rp
31,8 milyar. Untuk belanja (gaji) pegawai pemda saja sebesar Rp 23,3
milyar. Jadi dari mana nanti dana untuk belanja rutin dan pembangunan
berasal? Apalagi tidak lama lagi UU No 22/1999 tentang otonomi daerah
diberlakukan.
Pertanyaan yang akan muncul di kalangan masyarakat awam,
bagaimana mungkin dengan PAD hanya Rp 6,9 milyar roda pembangunan
bisa berjalan? Dari PAD yang dapat dihimpun sekarang ini, untuk
membayar gaji pegawai pemda saja sama sekali tidak mencukupi.
Padahal Pulau Bangka sejak lama dikenal memiliki sumber daya alam
yang luar biasa besarnya. Timah telah sejak zaman Belanda ditambang
dari bumi Bangka. Lada putih yang tumbuh subur di daerah itu, sejak
dulu kala pula telah menjadi sumber devisa andalan. Hasil kebun
lainnya yang sekarang menjadi primadona, karet, telah cukup lama pula
diproduksi dari perkebunan di pulau itu.
***
TIMAH adalah komoditas pertambangan yang telah sejak dulu kala
dihasilkan dari Pulau Bangka. Sampai saat ini pertambangan timah di
pulau itu masih terus berlangsung, dan tetap menjadi penghasil devisa
andalan. Di seantero pulau, masih banyak ditemui lokasi tambang timah
dengan deposit dan produksi tetap membanggakan.
Pada tahun 1997 lalu, dengan volume produksi sebanyak 30.000 ton,
timah Bangka meraih devisa senilai 218,2 juta dollar AS. Devisa
sebesar itu baru dari produksi timah yang hanya menduduki urutan
kedua.
Padahal penghasil devisa utama Pulau Bangka, berasal dari karet.
Pada tahun 1997 produksi karet Bangka mencapai volume sebanyak
334.000 ton. Sedangkan produksi lada putih Bangka yang pasarannya
kembali berada di atas angin, pada tahun 1999 lalu mencapai sekitar
30.000 ton.
Melihat angka-angka yang cukup fantastis tersebut, tentu muncul
sejumlah pertanyaan mengapa PAD Kabupaten Bangka sedemikian kecilnya,
hanya Rp 6,9 milyar?
Usman Saleh menyebutkan penyebab rendahnya PAD, merupakan akibat
langsung dipangkasnya sejumlah restribusi yang bisa ditarik daerah,
sejak diberlakukannya UU No 18/1997. Sama seperti semua daerah di
Indonesia, bermilyar-milyar rupiah uang dari retribusi daerah hilang
setelah diberlakukannya UU itu.
Namun berkaitan dengan akan diberlakukannya UU No 22/1999 dan UU
No 25/1999 nanti, Usman Saleh berharap retribusi daerah bisa
dihidupkan kembali. "Dari lada saja dengan produksi saat ini sekitar
30.000 ton (30 juta kilogram-Red), seandainya setiap kilogram diambil
Rp 1.000 untuk retribusi, Kabupaten Bangka akan memperoleh dana Rp 30
milyar," ujarnya.
Jika ditambah dengan pendapatan dari retribusi-retribusi dari
produksi karet serta hasil alam dan tambang lain seperti pasir
kuarsa, kaolin, dan lainnya, tentu pundi-pundi APBD Kabupaten Bangka
akan semakin menggelembung. Dana APBD pada tahun 1997/1998 yang
sebesar Rp 63,7 milyar tentu akan dengan mudah terlampaui. Belum lagi
pendapatan yang bakal diperoleh dari hasil bumi seperti timah,
seperti yang diatur dalam UU No 25/1999. Dengan kondisi seperti itu,
pembangunan daerah pun akan lancar-lancar saja dan pasti akan lebih
maju.
Padahal di Pulau Bangka yang menjadi tulang punggung calon
propinsi baru Bangka-Belitung, terdapat pula satu daerah lain yakni
Kota Pangkalpinang. Salah satu indikator majunya wilayah kota ini
adalah semakin sibuknya Pelabuhan Pangkalanbalam. Pada tahun 1998
lalu, di pelabuhan itu sudah semakin banyak kapal bongkar muat. Pada
1998 setiap hari bongkar muat barang mencapai sebanyak enam kapal.
Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya, yang
hanya bongkar muat barang sebanyak tiga kapal.
Selain Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang yang terdapat di
Pulau Bangka, di wilayah itu (bakal propinsi) itu masih terdapat pula
Kabupaten Belitung dengan ibu kotanya Tanjungpandan. Kekayaan alamnya
pun sama seperti yang ada Pulau Bangka. Dengan luas wilayah sepertiga
Bangka, Pulau Belitung akan menjadi penunjang andal propinsi yang
diidamkan warga setempat, Bangka-Belitung. (agus mulyadi)
BANGKA BELITUNG, CALON PROPINSI BARU
"KAWIN dulu, baru setelah itu mempersiapkan segalanya untuk
memiliki rumah, kendaraan, dan keperluan rumah tangga
lainnya. Kalau menunggu mempunyai rumah dan lainnya lebih dulu,
mungkin tidak akan pernah bisa kawin (maksudnya menikah-Red). Begitu
juga dengan Propinsi Bangka-Belitung. Terlebih dulu terbentuk
propinsinya, baru sesudah itu dengan segala potensi yang ada
membangun propinsi ini," tutur Sekwilda Kabupaten Bangka, Usman
Saleh, di ruang kerjanya, belum lama ini.
Usman Saleh diminta pendapatnya tentang kesiapan Bangka, menuju
pembentukan Propinsi Bangka-Belitung, terpisah dari induknya Sumatera
Selatan. Gubernur dan DPRD Sumatera Selatan pun telah memberi restu.
Saat ini RUU pembentukan propinsi baru itu, tengah digodok oleh wakil
rakyat di DPR RI.
Sama seperti daerah lain yang ingin membentuk propinsi sendiri,
salah satunya Banten yang terpisah dari Jawa Barat, keraguan sebagian
kalangan di negara ini pada kemampuan daerah baru itu untuk membangun
jika telah menjadi propinsi, juga muncul. Terlebih lagi jika melihat
masih kecilnya PAD (pendapatan asli daerah) yang dapat dihimpun
kabupaten/kota yang ada di Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
PAD Kabupaten Bangka, misalnya, pada tahun 1999 hanya sebesar
Rp 6,9 milyar. Angka sebesar itu, jauh dari mencukupi bahkan untuk
belanja rutin sekalipun.
Data dari Pemda Kabupaten Bangka menyebutkan, realisasi APBD
setempat tahun anggaran 1997/1998 sebesar Rp 63,7 milyar. Di dalam
APBD tahun 1997/1998 itu, anggaran untuk belanja rutin mencapai Rp
31,8 milyar. Untuk belanja (gaji) pegawai pemda saja sebesar Rp 23,3
milyar. Jadi dari mana nanti dana untuk belanja rutin dan pembangunan
berasal? Apalagi tidak lama lagi UU No 22/1999 tentang otonomi daerah
diberlakukan.
Pertanyaan yang akan muncul di kalangan masyarakat awam,
bagaimana mungkin dengan PAD hanya Rp 6,9 milyar roda pembangunan
bisa berjalan? Dari PAD yang dapat dihimpun sekarang ini, untuk
membayar gaji pegawai pemda saja sama sekali tidak mencukupi.
Padahal Pulau Bangka sejak lama dikenal memiliki sumber daya alam
yang luar biasa besarnya. Timah telah sejak zaman Belanda ditambang
dari bumi Bangka. Lada putih yang tumbuh subur di daerah itu, sejak
dulu kala pula telah menjadi sumber devisa andalan. Hasil kebun
lainnya yang sekarang menjadi primadona, karet, telah cukup lama pula
diproduksi dari perkebunan di pulau itu.
***
TIMAH adalah komoditas pertambangan yang telah sejak dulu kala
dihasilkan dari Pulau Bangka. Sampai saat ini pertambangan timah di
pulau itu masih terus berlangsung, dan tetap menjadi penghasil devisa
andalan. Di seantero pulau, masih banyak ditemui lokasi tambang timah
dengan deposit dan produksi tetap membanggakan.
Pada tahun 1997 lalu, dengan volume produksi sebanyak 30.000 ton,
timah Bangka meraih devisa senilai 218,2 juta dollar AS. Devisa
sebesar itu baru dari produksi timah yang hanya menduduki urutan
kedua.
Padahal penghasil devisa utama Pulau Bangka, berasal dari karet.
Pada tahun 1997 produksi karet Bangka mencapai volume sebanyak
334.000 ton. Sedangkan produksi lada putih Bangka yang pasarannya
kembali berada di atas angin, pada tahun 1999 lalu mencapai sekitar
30.000 ton.
Melihat angka-angka yang cukup fantastis tersebut, tentu muncul
sejumlah pertanyaan mengapa PAD Kabupaten Bangka sedemikian kecilnya,
hanya Rp 6,9 milyar?
Usman Saleh menyebutkan penyebab rendahnya PAD, merupakan akibat
langsung dipangkasnya sejumlah restribusi yang bisa ditarik daerah,
sejak diberlakukannya UU No 18/1997. Sama seperti semua daerah di
Indonesia, bermilyar-milyar rupiah uang dari retribusi daerah hilang
setelah diberlakukannya UU itu.
Namun berkaitan dengan akan diberlakukannya UU No 22/1999 dan UU
No 25/1999 nanti, Usman Saleh berharap retribusi daerah bisa
dihidupkan kembali. "Dari lada saja dengan produksi saat ini sekitar
30.000 ton (30 juta kilogram-Red), seandainya setiap kilogram diambil
Rp 1.000 untuk retribusi, Kabupaten Bangka akan memperoleh dana Rp 30
milyar," ujarnya.
Jika ditambah dengan pendapatan dari retribusi-retribusi dari
produksi karet serta hasil alam dan tambang lain seperti pasir
kuarsa, kaolin, dan lainnya, tentu pundi-pundi APBD Kabupaten Bangka
akan semakin menggelembung. Dana APBD pada tahun 1997/1998 yang
sebesar Rp 63,7 milyar tentu akan dengan mudah terlampaui. Belum lagi
pendapatan yang bakal diperoleh dari hasil bumi seperti timah,
seperti yang diatur dalam UU No 25/1999. Dengan kondisi seperti itu,
pembangunan daerah pun akan lancar-lancar saja dan pasti akan lebih
maju.
Padahal di Pulau Bangka yang menjadi tulang punggung calon
propinsi baru Bangka-Belitung, terdapat pula satu daerah lain yakni
Kota Pangkalpinang. Salah satu indikator majunya wilayah kota ini
adalah semakin sibuknya Pelabuhan Pangkalanbalam. Pada tahun 1998
lalu, di pelabuhan itu sudah semakin banyak kapal bongkar muat. Pada
1998 setiap hari bongkar muat barang mencapai sebanyak enam kapal.
Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya, yang
hanya bongkar muat barang sebanyak tiga kapal.
Selain Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang yang terdapat di
Pulau Bangka, di wilayah itu (bakal propinsi) itu masih terdapat pula
Kabupaten Belitung dengan ibu kotanya Tanjungpandan. Kekayaan alamnya
pun sama seperti yang ada Pulau Bangka. Dengan luas wilayah sepertiga
Bangka, Pulau Belitung akan menjadi penunjang andal propinsi yang
diidamkan warga setempat, Bangka-Belitung. (agus mulyadi)
97.577 Keluarga di Palembang Miskin!
Rabu, 17 Maret 2004
97.577 Keluarga di Palembang Miskin!
HASIL survei yang dilakukan pada tahun 2003 mencatat, sebanyak 97.577 keluarga di Kota Palembang, Sumatera Selatan, saat ini hidup miskin. Mereka hidup di dalam ketidakpastian sumber nafkah karena tidak memiliki pekerjaan tetap.
"Sebagian dari mereka adalah para pendatang dari berbagai daerah lain di Sumatera Selatan. Sebagian malah berasal dari Pulau Jawa," kata Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Keluarga (BKB-PK) Kota Palembang KH Kamaluddin.
BKB-PK adalah instansi yang melakukan survei. Dari data yang dihimpun diketahui, jumlah orang miskin di Palembang meningkat dibandingkan dengan tahun 2002, sebanyak 93.602 keluarga.
Dengan asumsi rata-rata setiap keluarga mempunyai anak dua orang, jumlah orang miskin di Palembang 390.308 jiwa.
Jumlah penduduk miskin tersebut tentu bukanlah angka yang kecil jika dibandingkan dengan penduduk Palembang yang sebanyak 1.284.492 jiwa. Penduduk miskin Kota Pempek yang juga ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu mencapai sekitar 30 persen!
Kamaluddin sendiri membagi penduduk miskin itu dalam dua kategori, yakni prakeluarga sejahtera (Pra-KS) dan keluarga sejahtera 1 (KS-1). Dalam pembagian kategori tersebut, data menunjukkan penduduk Pra-KS pada tahun 2003 sebanyak 24.718 keluarga dan KS-1 68.884 keluarga.
Pada tahun 2002, jumlah Pra-KS di Palembang 23.885 keluarga, sedangkan KS-1 sebanyak 73.692 keluarga. "Penduduk yang termasuk dalam Pra-KS dan KS-1 itulah yang tergolong miskin," kata Kamaluddin ketika ditemui di di Palembang, pekan lalu.
Indikator Pra-KS, menurut Kamaluddin, ada lima, yakni kekurangan sandang, pangan, papan (rumah), pendidikan, dan kesehatan. Setingkat sedikit lebih baik di atasnya adalah yang termasuk KS-1, dengan kondisi yang dicukup-cukupkan.
Mereka yang masuk ke dalam dua kategori ini adalah penduduk yang rata-rata tidak memiliki pekerjaan dan sumber nafkah tetap. Hari ini bisa mendapatkan sumber nafkah, hari-hari berikutnya bisa saja mereka tidak menemukannya. Mereka hidup dalam kondisi paspasan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Setingkat lebih baik di atasnya adalah golongan penduduk yang termasuk dalam kategori KS-2. Mereka yang masuk dalam kelompok ini, antara lain, adalah buruh pabrik.
Dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang, mereka mudah sekali terpental dan masuk ke dalam kelompok penduduk KS-1. "Buruh pabrik, misalnya. Mereka sebelumnya masuk dalam kelompok KS-2, tapi ketika terkena PHK mereka akan turun ke dalam kelompok KS-1," ujar Kamaluddin.
KEMISKINAN yang membelenggu sebagian penduduk Palembang tidak lepas dari kondisi perekonomian nasional yang tidak kunjung menentu enam tahun terakhir ini. Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di mana-mana menyebabkan jumlah penduduk miskin di negara ini, termasuk di Palembang, meningkat tajam.
Di Palembang sendiri peningkatan penduduk miskin itu di antaranya karena terus bertambahnya penduduk urban. Mereka datang dari daerah lain di Sumsel atau dari luar pulau, seperti Jawa, dengan membawa kemiskinan. Ketika mereka bermukim di Palembang dan mencari sumber nafkah dari sektor informal, kemiskinan tetap melekat di tubuh keluarga-keluarga ini.
"Banyak pendatang yang masuk ke Palembang adalah orang-orang miskin. Mereka membawa kemiskinan dari daerahnya sehingga jumlah penduduk miskin di kota ini semakin bertambah," ucap Kamaluddin.
BKB-PK sendiri, menurut Kamaluddin, tidak tinggal diam. Upaya yang dilakukan selama bertahun-tahun ini adalah dengan menekan jumlah penduduk melalui keluarga berencana. "Kalau makin banyak anak-anak yang lahir dari keluarga miskin tersebut, tentu akan menambah jumlah penduduk miskin di Palembang," katanya.
Upaya yang dilakukan secara terus-menerus tersebut, menurut Kamaluddin, telah membuahkan hasil. Kini jumlah anak di kalangan penduduk miskin telah menurun dari 2,7 jiwa pada tahun 2000 menjadi 2,1 jiwa per keluarga pada tahun 2003. "Tugas kami adalah agar mereka tidak sampai menambah anak lagi. Kalau kelahiran anak-anak keluarga miskin tidak dibendung, akan semakin menambah banyak penduduk miskin," katanya.
Upaya lain pengentasan kemiskinan yang dilakukan BKB- PK adalah dengan memberdayakan keluarga-keluarga itu. Data yang diperoleh dari survei yang dilakukan diserahkan kepada instansi lain di Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk ditindaklanjuti. Instansi lainlah yang berkompeten mengentaskan kemiskinan keluarga-keluarga tidak mampu itu.
JUMLAH penduduk miskin di Palembang, seperti yang dikemukakan Kamaluddin, sebenarnya berbeda dengan angka yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel.
Menurut Kepala BPS Sumsel Sunari Sarwono, sebenarnya Palembang berada dalam urutan paling bawah jumlah penduduk miskinnya dibandingkan kabupaten atau kota lain di Sumsel.
Sunari menyebutkan, dari hasil survei tahun 2003 diketahui penduduk miskin Palembang tercatat 9,7 persen dari jumlah penduduk kota itu. Dengan perhitungan tersebut, penduduk miskin Palembang sekitar 124.595 jiwa.
Kabupaten atau kota lain di Sumsel yang berada di atas Palembang dalam jumlah penduduk miskin, antara lain, tertinggi Musi Rawas (31 persen dari jumlah penduduknya), Musi Banyuasin dan Banyuasin (28,43 persen), Lahat (27,68 persen), Muaraenim dan Prabumulih (22,33 persen), Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir (14,5 persen), serta Ogan Komering Ulu/OKU (termasuk OKU Timur dan OKU Selatan) sebanyak 17,89 persen.
Penduduk miskin dalam hitung-hitungan yang dilakukan BPS Sumsel adalah dengan menghitung jumlah kalori yang mereka konsumsi.
"Batas garis kemiskinan adalah jika jumlah makanan yang dikonsumsi di bawah 2.100 kalori per hari. Kalau dihitung dengan uang, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan adalah yang berpenghasilan di bawah Rp 126.206 per bulan," ucap Sunari.
Terlepas dari hitung-hitungan yang berbeda antara BKB-PK Palembang dan BPS Sumsel, angka yang muncul dan fakta yang ada tetap menunjukkan masih banyaknya penduduk miskin di Palembang. Di tengah perekonomian yang belum membaik, hidup mereka semakin tenggelam di dalam kubangan kemiskinan.
Kini di tengah-tengah para politisi, mulai tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota ramai-ramai "menjual kecap" pada masa kampanye, sebagian penduduk Palembang hidup dalam impitan kemiskinan. Apakah penderitaan sebagian warga Palembang itu hadir dalam benak orang-orang partai politik yang kini tengah rajin "menjual kecap" nomor satu itu? Entahlah, mereka sendiri yang tahu. (AGUS MULYADI)
97.577 Keluarga di Palembang Miskin!
HASIL survei yang dilakukan pada tahun 2003 mencatat, sebanyak 97.577 keluarga di Kota Palembang, Sumatera Selatan, saat ini hidup miskin. Mereka hidup di dalam ketidakpastian sumber nafkah karena tidak memiliki pekerjaan tetap.
"Sebagian dari mereka adalah para pendatang dari berbagai daerah lain di Sumatera Selatan. Sebagian malah berasal dari Pulau Jawa," kata Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Keluarga (BKB-PK) Kota Palembang KH Kamaluddin.
BKB-PK adalah instansi yang melakukan survei. Dari data yang dihimpun diketahui, jumlah orang miskin di Palembang meningkat dibandingkan dengan tahun 2002, sebanyak 93.602 keluarga.
Dengan asumsi rata-rata setiap keluarga mempunyai anak dua orang, jumlah orang miskin di Palembang 390.308 jiwa.
Jumlah penduduk miskin tersebut tentu bukanlah angka yang kecil jika dibandingkan dengan penduduk Palembang yang sebanyak 1.284.492 jiwa. Penduduk miskin Kota Pempek yang juga ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel) itu mencapai sekitar 30 persen!
Kamaluddin sendiri membagi penduduk miskin itu dalam dua kategori, yakni prakeluarga sejahtera (Pra-KS) dan keluarga sejahtera 1 (KS-1). Dalam pembagian kategori tersebut, data menunjukkan penduduk Pra-KS pada tahun 2003 sebanyak 24.718 keluarga dan KS-1 68.884 keluarga.
Pada tahun 2002, jumlah Pra-KS di Palembang 23.885 keluarga, sedangkan KS-1 sebanyak 73.692 keluarga. "Penduduk yang termasuk dalam Pra-KS dan KS-1 itulah yang tergolong miskin," kata Kamaluddin ketika ditemui di di Palembang, pekan lalu.
Indikator Pra-KS, menurut Kamaluddin, ada lima, yakni kekurangan sandang, pangan, papan (rumah), pendidikan, dan kesehatan. Setingkat sedikit lebih baik di atasnya adalah yang termasuk KS-1, dengan kondisi yang dicukup-cukupkan.
Mereka yang masuk ke dalam dua kategori ini adalah penduduk yang rata-rata tidak memiliki pekerjaan dan sumber nafkah tetap. Hari ini bisa mendapatkan sumber nafkah, hari-hari berikutnya bisa saja mereka tidak menemukannya. Mereka hidup dalam kondisi paspasan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.
Setingkat lebih baik di atasnya adalah golongan penduduk yang termasuk dalam kategori KS-2. Mereka yang masuk dalam kelompok ini, antara lain, adalah buruh pabrik.
Dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang, mereka mudah sekali terpental dan masuk ke dalam kelompok penduduk KS-1. "Buruh pabrik, misalnya. Mereka sebelumnya masuk dalam kelompok KS-2, tapi ketika terkena PHK mereka akan turun ke dalam kelompok KS-1," ujar Kamaluddin.
KEMISKINAN yang membelenggu sebagian penduduk Palembang tidak lepas dari kondisi perekonomian nasional yang tidak kunjung menentu enam tahun terakhir ini. Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di mana-mana menyebabkan jumlah penduduk miskin di negara ini, termasuk di Palembang, meningkat tajam.
Di Palembang sendiri peningkatan penduduk miskin itu di antaranya karena terus bertambahnya penduduk urban. Mereka datang dari daerah lain di Sumsel atau dari luar pulau, seperti Jawa, dengan membawa kemiskinan. Ketika mereka bermukim di Palembang dan mencari sumber nafkah dari sektor informal, kemiskinan tetap melekat di tubuh keluarga-keluarga ini.
"Banyak pendatang yang masuk ke Palembang adalah orang-orang miskin. Mereka membawa kemiskinan dari daerahnya sehingga jumlah penduduk miskin di kota ini semakin bertambah," ucap Kamaluddin.
BKB-PK sendiri, menurut Kamaluddin, tidak tinggal diam. Upaya yang dilakukan selama bertahun-tahun ini adalah dengan menekan jumlah penduduk melalui keluarga berencana. "Kalau makin banyak anak-anak yang lahir dari keluarga miskin tersebut, tentu akan menambah jumlah penduduk miskin di Palembang," katanya.
Upaya yang dilakukan secara terus-menerus tersebut, menurut Kamaluddin, telah membuahkan hasil. Kini jumlah anak di kalangan penduduk miskin telah menurun dari 2,7 jiwa pada tahun 2000 menjadi 2,1 jiwa per keluarga pada tahun 2003. "Tugas kami adalah agar mereka tidak sampai menambah anak lagi. Kalau kelahiran anak-anak keluarga miskin tidak dibendung, akan semakin menambah banyak penduduk miskin," katanya.
Upaya lain pengentasan kemiskinan yang dilakukan BKB- PK adalah dengan memberdayakan keluarga-keluarga itu. Data yang diperoleh dari survei yang dilakukan diserahkan kepada instansi lain di Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk ditindaklanjuti. Instansi lainlah yang berkompeten mengentaskan kemiskinan keluarga-keluarga tidak mampu itu.
JUMLAH penduduk miskin di Palembang, seperti yang dikemukakan Kamaluddin, sebenarnya berbeda dengan angka yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel.
Menurut Kepala BPS Sumsel Sunari Sarwono, sebenarnya Palembang berada dalam urutan paling bawah jumlah penduduk miskinnya dibandingkan kabupaten atau kota lain di Sumsel.
Sunari menyebutkan, dari hasil survei tahun 2003 diketahui penduduk miskin Palembang tercatat 9,7 persen dari jumlah penduduk kota itu. Dengan perhitungan tersebut, penduduk miskin Palembang sekitar 124.595 jiwa.
Kabupaten atau kota lain di Sumsel yang berada di atas Palembang dalam jumlah penduduk miskin, antara lain, tertinggi Musi Rawas (31 persen dari jumlah penduduknya), Musi Banyuasin dan Banyuasin (28,43 persen), Lahat (27,68 persen), Muaraenim dan Prabumulih (22,33 persen), Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir (14,5 persen), serta Ogan Komering Ulu/OKU (termasuk OKU Timur dan OKU Selatan) sebanyak 17,89 persen.
Penduduk miskin dalam hitung-hitungan yang dilakukan BPS Sumsel adalah dengan menghitung jumlah kalori yang mereka konsumsi.
"Batas garis kemiskinan adalah jika jumlah makanan yang dikonsumsi di bawah 2.100 kalori per hari. Kalau dihitung dengan uang, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan adalah yang berpenghasilan di bawah Rp 126.206 per bulan," ucap Sunari.
Terlepas dari hitung-hitungan yang berbeda antara BKB-PK Palembang dan BPS Sumsel, angka yang muncul dan fakta yang ada tetap menunjukkan masih banyaknya penduduk miskin di Palembang. Di tengah perekonomian yang belum membaik, hidup mereka semakin tenggelam di dalam kubangan kemiskinan.
Kini di tengah-tengah para politisi, mulai tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota ramai-ramai "menjual kecap" pada masa kampanye, sebagian penduduk Palembang hidup dalam impitan kemiskinan. Apakah penderitaan sebagian warga Palembang itu hadir dalam benak orang-orang partai politik yang kini tengah rajin "menjual kecap" nomor satu itu? Entahlah, mereka sendiri yang tahu. (AGUS MULYADI)
Langganan:
Komentar (Atom)
