Selasa, 09 Desember 2008

SUASANA NYAMAN DI TEPI SUNGAI RHINE
















KOMPAS - Senin, 01 Dec 2008 Halaman: 37 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5779 Foto: 1
Jalan-Jalan
SUASANA NYAMAN DI TEPI SUNGAI RHINE
Kerumunan orang yang berdiri di tepi jalan kecil itu membuat dua
nenek yang masing-masing sedang mengayuh sepeda itu mengurangi
kecepatan. Saat saya mengarahkan kamera ke arah mereka, nenek pesepeda
di belakang tersenyum. "Pret." dua perempuan sepuh itu pun berlalu ke
tujuan mereka.

Beberapa menit kemudian, seorang kakek melintas di lokasi yang
sama, juga menggunakan sepeda kayuh. Menit-menit berikutnya, pesepeda
melaju atau pejalan kaki berjalan santai di jalan bantaran Sungai
Rhine di kawasan tempat sandar kapal penelitian (lab ship) Max Pruss
di Leverkusen, Jerman. Tidak sedikit para pejalan kaki ditemani anjing-
anjing kesayangan mereka.

Kapal-kapal pengangkut berbagai jenis barang tampak tak putus-
putus berlayar di Sungai Rhine. Sebagian di antaranya adalah kapal
berbendera Belanda. Melalui Sungai Rhine, kapal-kapal itu mengangkut
segala macam kebutuhan, baik yang hendak dikirim ke luar benua melalui
pelabuhan di Belanda maupun dikirim ke kota-kota di Jerman, Swiss,
Luksemburg, dan Belgia. Di jembatan di atas sungai, mobil-mobil
berseliweran tak putus-putus.

Di jalanan tepi Sungai Rhine di pusat kota antara Museum Cokelat
(Schokoladen Museum) dan jembatan utama di kota Koln bahkan lebih
ramai lagi. Turis dari banyak negara juga ikut menikmati jalanan tepi
sungai untuk sekadar berjalan-jalan, berfoto-foto ria, sekalian
berjalan kaki menuju berbagai obyek wisata di tengah kota.

Jalan beraspal selebar empat meter di Koln itu di sana-sini
diseraki daun, termasuk daun maple berwarna kuning yang berguguran
dari pepohonan. Musim gugur menjelang musim dingin di kota terbesar
keempat di Jerman itu membuat pepohonan mulai meranggas.

Katedral Dom di tengah kota Koln adalah pusat tujuan turis. Salah
satu katedral tertua di Eropa, yang mulai dibangun tahun 1248 dan
selesai secara keseluruhan tahun 1880, menjadi magnet bagi turis yang
datang ke Koln. Lokasi bangunan dengan dua menara kembar itu
bersebelahan dengan sentral stasiun (hauptbahnhof) kereta, kurang dari
100 meter dari tepian Sungai Rhine.

Bumi dan langit
"Nyaman sekali pesepeda kayuh di sini. Mereka bisa ke tempat
bekerja, pulang kerja, atau melakukan aktivitas lain melalui jalan di
bantaran sungai ini. Pejalan kaki pun nyaman berjalan- jalan karena
tidak ada sepeda motor atau mobil yang melintas. Ini berbeda sekali
dengan di Jakarta bagaikan bumi dan langit," ucap Doni, mahasiswa asal
Indonesia yang tengah berkunjung ke Koln, awal November 2008.

"Di Jakarta saat ini Sungai Ciliwung bahkan sudah menyebabkan
banjir. Selalu saja begitu setiap musim hujan tiba karena bantaran
sungai tidak ditata untuk menjadi tempat publik," kata Doni.
Bantaran Sungai Rhine di Koln, misalnya, telah puluhan tahun
ditata menjadi tempat yang nyaman bagi warganya.

Sejumlah foto yang dibuat saat Perang Dunia II tahun 1945
menunjukkan bantaran Rhine di Koln telah ditata menjadi jalan yang
nyaman bagi warganya. Di gambar-gambar yang menunjukkan kehancuran
kota akibat perang, bantaran Rhine tampak kosong dari bangunan dan
ditata menjadi jalur pedestrian.

Sungai Rhine adalah salah satu sungai terpanjang di Eropa dengan
panjang 1.320 kilometer, melintasi sejumlah negara, seperti Swiss,
Jerman, dan Belanda, serta Luksemburg, Perancis, dan Belgia. Sungai
dengan bagian hulu di Swiss dipelihara dengan sangat serius oleh
negara- negara itu. Komisi khusus dibentuk untuk mengurusi sungai,
terutama dari pencemaran.

Padahal, hingga tahun 1970-an, Rhine adalah sungai dengan tingkat
pencemaran tinggi. Hewan sungai menyingkir, termasuk salah satu ikan
khas, yakni ikan salmon. Banyaknya industri yang ada di daerah aliran
sungai, termasuk di Koln, menjadi penyebabnya.

Di semua negara yang dilintasi Rhine lalu dibentuk komisi
penyelamat sungai. Mereka bekerja sama untuk kembali memulihkan,
menyehatkan sungai. Hal itu dilakukan pula di negara bagian North
Rhine Westphalia, Jerman, dengan ibu kota Koln.

Brigitte von Danwitz, State Agency for Nature, Environment and
Consumer Protection North Rhine Westphalia (LANUV- NRW), kepada para
duta muda lingkungan dari 18 Negara pada 6 November lalu di
Leverkusen, mengatakan, penanganan Rhine dimulai pada tahun 1963
dengan dibuat perjanjian oleh negara- negara yang dilalui sungai itu.

Dibentuklah International Commission for the Protection of the Rhine
(ICPR). "Organisme yang hidup di Sungai Rhine pada tahun 1965 hingga
1975 turun drastis. Lalu, naik lagi hingga menjadi 160 spesies pada
tahun 1995," ucap Brigitte. Kondisi itu serupa dengan tahun 1900-an
ketika di Sungai Rhine hidup sekitar 160 spesies.

Upaya penyelamatan sungai secara bersama-sama telah memetik hasil.
Saat ini Rhine menjadi tempat yang nyaman, juga bagi hewan yang
sebelum terjadinya pencemaran berat hidup di sepanjang aliran sungai
itu.

Hari Kamis (6/11) sekitar pukul 19.00, misalnya, di dekat Katedral
Dom, sekelompok anak muda berlari-lari kecil di jalan bantaran sungai.
Sejumlah warga lain juga joging di tepi sungai, bersepeda, berjalan
kaki, pulang dari tempat kerja atau hendak melakukan aktivitas lain
pada malam hari.

Kendati di beberapa bagian, jalanan di tepi sungai gelap, mereka
tetap merasa nyaman dan aman melakukan aktivitas mereka. Kapan kondisi
seperti itu bisa dinikmati warga Jakarta?(agus mulyadi)

Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Bantaran Sungai Rhine di Koln, Jerman, ditata menjadi jalan kecil
khusus untuk pesepeda kayuh dan pejalan kaki. Di tepi sungai ini pula,
warga dan para turis yang datang ke kota itu bisa berolahraga atau
sekadar berjalan-jalan.

Selasa, 18 November 2008

Inovasi Para Duta Muda Lingkungan















KOMPAS - Jumat, 14 Nov 2008 Halaman: 38 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7855 Foto: 1
BYEE 2008
INOVASI PARA DUTA MUDA LINGKUNGAN

Empat anak muda dari empat perguruan tinggi negeri berbeda
tersebut mencoba melakukan dan menciptakan sesuatu yang berguna
terkait dengan masalah lingkungan hidup. Aktivitas itulah yang membuat
mereka mewakili Indonesia ke forum Bayer Young Environment Envoy di
Jerman, 2-7 November lalu.

Empat duta muda lingkungan itu adalah Doni Pabhassaro dari
Universitas Indonesia, Fernando Zetrialdi (Institut Teknologi
Bandung), Veni Sevia Febrianti (Universitas Jember, Jawa Timur), dan
Sri Rezeki (Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat).

"Mereka adalah empat terbaik dari yang lolos ke final untuk
mengikuti BYEE di Jerman," ujar Asmara Pusparani, Corporate
Communication Manager PT Bayer Indonesia. Pemenang Bayer Young
Environment Envoy (BYEE) 2008 tersebut dipilih dari 15 anak muda yang
menjadi finalis dan telah mengikuti kegiatan Bayer Eco-Camp di Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Inovasi terkait pemecahan masalah lingkungan yang membawa mereka
berjalan-jalan ke Jerman, khususnya di lingkungan kantor pusat Bayer
di Leverkusen. Bersama mereka hadir pula 46 duta muda lingkungan dari
17 negara lain, yakni Brasil, China, Kolombia, Ekuador, India, Kenya,
Korea Selatan, Malaysia, Peru, Polandia, Singapura, Afrika Selatan,
Thailand, Filipina, Turki, Venezuela, dan Vietnam. Kecuali dari
Polandia, duta-duta itu berasal dari negara-negara Asia, Amerika
Latin, dan Afrika.

Di tempat itu mereka saling berbagi pengalaman, baik tentang
kondisi lingkungan negara masing-masing maupun yang telah mereka
lakukan untuk ikut berperan menanggulangi masalah itu. Anak-anak muda
dari berbagai penjuru dunia urun rembuk masalah sampah, penghijauan,
hingga mencari energi alternatif yang sangat dibutuhkan umat manusia.

Doni Pabhassaro, misalnya, mencoba mengubah sampah organik tak
berguna menjadi biobriket. Energi alternatif ini dapat digunakan untuk
keperluan memasak para ibu rumah tangga. Bentuknya kira-kira seperti
briket batu bara.

"Namun, saya jamin harganya jauh lebih murah dan lebih mudah untuk
memproduksinya. Bahan baku sampah organik ada di mana-mana, mudah
didapat. Kompor untuk menyalakan biobriket ini pun mudah untuk dibuat
dan murah," kata anak muda lulusan Teknik Kimia, yang baru diwisuda
pada September lalu tersebut.

Gagasan Doni itu sempat digugat oleh duta muda (envoy) asal
Brasil, Carolina Arruda, dalam diskusi di salah satu ruangan di kantor
pusat Bayer itu. Mahasiswi Pernmambuco University itu mempersoalkan
asap dari pembakaran briket yang mengancam lingkungan. Doni sekali
lagi melontarkan gagasan bahwa sebagian besar asap dari pembakaran
briket tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet.

Mencoba menciptakan energi alternatif dilakukan pula oleh Sri
Rezeki. Mahasiswi Universitas Tanjungpura Pontianak itu memanfaatkan
tandan kosong sawit di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ini
adalah buah kelapa sawit yang tidak berisi sehingga tidak dimanfaatkan.

"Sebanyak 23 persen dari tandan buah segar kelapa sawit umumnya
kosong dan dibuang. Saya mencoba memanfaatkannya untuk membuat biogas.
Bahan bakar ini dapat digunakan ibu rumah tangga untuk memasak," ujar
mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan
Kimia yang tengah menyelesaikan skripsinya tersebut.

Proses pembuatan biogas dilakukan dengan cara sederhana dengan
menggunakan drum dan pipa. Tandan kosong sawit dimasukkan ke dalam
drum, lalu dicampur air dan soda api. Kemudian, untuk mempercepat
fermentasi, dicampur pula dengan katalis berupa kotoran ayam. Setelah
didiamkan satu bulan, terciptalah gas dari drum yang siap disalurkan
menggunakan pipa ke kompor.

Banyaknya sampah yang tidak dimanfaatkan pula yang mendorong
Fernando Zetrialdi, mahasiswa semester lima Fakultas Teknologi
Industri Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung, mencoba
turut memecahkannya. Berbeda dengan Doni dan Sri, dia mencoba mendaur
ulang sampah bungkus teh kotak atau kemasan sejenis yang biasa disebut
tetrapack. Dari daur ulang kemasan ini diciptakanlah bahan material
baru yang dapat dimanfaatkan untuk kertas seni serta bahan baku mebel,
ukiran, dan lainnya.

Edo, demikian panggilannya, bahkan tengah membangun pabrik mini
untuk pengolahan dan daur sampah itu di Bandung.

Menyadarkan
Lain lagi yang dilakukan Veni Sevia Febrianti. Terdorong oleh
maraknya penebangan liar serta bencana banjir dan tanah longsor,
mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember
tersebut tertarik untuk melakukan penghijauan di lahan-lahan kritis di
Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Pembibitan pun dia lakukan,
mendompleng ayahnya yang telah terlebih dahulu melakukan hal itu.

Dengan menghijaukan kawasan gundul, masyarakat mendapat dua
keuntungan. Pertama, lingkungannya menjadi hijau dan lebih aman dari
bahaya longsor. Kedua, mereka mendapatkan nilai lebih dari pohon yang
ditanam. Pohon jenis sengon, misalnya, dapat ditebang lima tahun
kemudian dan bisa dijual. Lahan itu pun lalu ditanami lagi dengan
bibit baru.
Namun, tidak semua warga lantas menyadari keuntungan dengan
melakukan penghijauan. Veni lalu terdorong untuk melakukan sosialisasi
soal penanaman kembali tersebut. Tentu saja kegiatan itu dibantu
sejumlah tokoh masyarakat di daerah sasaran. Hasilnya, masyarakat
akhirnya mau menanami lahan kosong. Sebanyak 5.000 bibit tanaman
berbagai jenis yang disemai oleh Veni saat ini telah ditanam di
Bondowoso.

Berbagai inovasi yang dilakukan anak-anak muda dari berbagai
belahan dunia merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap
kelangsungan hidup di bumi ini.

"Kunjungan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia ini memberi
kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan pengetahuan tentang
lingkungan," kata Wolfgang PlischkeWolfgang Pischke, Member of The
Board of Management of Bayer AG, saat menerima para duta muda tersebut.
Wolfgang Pischke menyebutkan, BYEE adalah program kerja sama Bayer
dengan United Nation Environment Programme (UNEP). Program BYEE
dimulai tahun 1998 di Thailand.

Pada tahun 2001, Bayer memperluas program tersebut dengan
melibatkan para peserta dari Filipina dan Singapura. India mulai
melaksanakannya tahun 2002, sedangkan Indonesia memulainya tahun 2004.

Kesuksesan BYEE juga dapat dilihat dari banyaknya peserta BYEE
yang kemudian berperan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan
tingkat dunia, seperti World Environment Day, Earth Day, Ozone Day,
dan dalam berbagai proyek lingkungan di negara masing-masing.

Selama di Jerman, para duta muda lingkungan mengunjungi beberapa
lokasi di lingkungan pabrik Bayer dan berdiskusi dengan pakar
lingkungan. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke
North Rhine-Westphalia State Environmental Protection Agency dan AVEA,
sebuah fasilitas pembuangan dan daur ulang di Leverkusen. Di AVEA
mereka mendengar langsung penjelasan pengolahan dan daur ulang sampah
dari Hamid Shakoor, pemimpin perusahaan itu.

Mereka pun mendapat kesempatan melihat beberapa proyek penelitian
di Bayer CropScience di Monheim serta melakukan eksperimen di
laboratorium di kompleks penelitian itu. Anak-anak muda tersebut pun
mendapat kesempatan melakukan penelitian di laboratorium Lumbricus di
tepi Sungai Rhine setelah sebelumnya menyusuri sebagian sungai itu
menggunakan kapal Max Pruss. (Agus Mulyadi)

Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Empat duta muda lingkungan dari Indonesia, Sri Rezeki (berkerudung),
Doni Pabhasarro, Veni Sevia Febrianti, dan Fernando Zetrialdi,
menjawab pertanyaan dalam forum Bayer Young Environment Enjoy
2008 di Leverkusen, Jerman (3/11).

Rabu, 22 Oktober 2008











KOMPAS - Minggu, 13 May 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7025 Foto: 3
MELONGOK OASE, MELINTASI SAHARA
Oleh Agus Mulyadi





Angin kencang yang menerbangkan debu pasir tebal menghadang
perjalanan kami dari Kebili menuju Tozeur, dua kota di bagian selatan
Tunisia. Debu yang mengalangi jalan berasal dari hamparan pasir
mahaluas di Chott El Jerid, bekas danau garam yang telah mengering,
pekan kedua April lalu.
Namun, sopir yang membawa kami tetap menjalankan kendaraan pada
kecepatan sekitar 100 kilometer per jam, mengikuti mobil di depan
kami. Beberapa kilometer selepas itu, Fatih, sopir asal Djebra, pulau
di Laut Tengah di pantai timur Tunisia, menghentikan mobil Nissan
Patrol yang saya tumpangi, sekadar untuk beristirahat selama 15 menit.
Demikian pula empat mobil lain, semuanya jenis Toyota Land
Cruiser, yang membawa rombongan Fam Trip dari Indonesia.
Lokasi peristirahatan tersebut terletak persis di rambu jalan
yang menunjukkan negara tetangga Aljazair terletak 150 kilometer lagi
di depan. Sementara lokasi Kebili Tozeur berjarak 526 kilometer dan
620 kilometer perjalanan darat dari Kota Tunis.
Perjalanan melalui jalan mulus yang membelah Chott El Jerid
adalah awal dari perjalanan memukau di sebagian kecil Gurun Sahara.
Tur di gurun terbesar di Benua Afrika tersebut diawali dari tempat
kami menginap di Douz, kota yang terletak 28 kilometer selatan Kebili.
Perjalanan mobil-mobil dengan kapasitas besar tersebut kerap
berpapasan dengan mobil sejenis yang membawa wisatawan mancanegara,
kebanyakan dari Perancis, Jerman, Italia, dan Inggris. Bahkan dalam
perjalanan kami siang hari itu sempat berpapasan pula dengan mobil-
mobil peserta reli gurun.
Di sejumlah lokasi, terdapat rambu-rambu yang mengingatkan
pengendara terhadap bahaya hewan unta menyeberang jalan. Kerap
ditemui pula sekumpulan hewan itu di padang pasir di kanan dan kiri
jalan.
Sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri hanya terhampar padang
pasir yang sebagian ditumbuhi rumput khas di kawasan seperti itu.
Setelah melewati tiga kota kecil di ujung Chott El Jerid, yakni El
M'hassen, Deguache, dan Hammet El Jerid, beberapa kilometer sebelum
memasuki Tozeur, mobil yang kami tumpangi berbelok ke kanan menuju ke
arah Tamerza, kota yang terletak di dekat perbatasan Aljazair. Namun,
sebelum tiba di lokasi itu, kami terlebih dahulu mampir di Chebiki.
Di perbukitan ini terdapat satu oase yang masih mengucurkan air.
Sulit dipercaya, di tengah hamparan gurun itu masih terdapat mata air
yang terus mengalir, di tengah-tengah pepohonan kurma yang saat itu
kebetulan tengah berbuah.
Oase di tengah padang pasir seperti inilah yang berabad-abad lalu
menjadi tempat para musafir atau kafilah pedagang beristirahat.
Setelah dipanggang terik matahari dan diterpa badai gurun, oase
menjadi tempat beristirahat yang sangat mahal. Air yang diambil dari
oase seperti itulah yang menjadi perbekalan dalam perjalanan
selanjutnya, termasuk untuk unta yang mereka naiki.
"Inilah kebesaran Tuhan. Di tengah padang pasir seperti ini
terdapat oase dengan air tawar yang jernih," ucap Silviana, peserta
Fam Trip dari Avia Tour.
Ketika kami tiba di oase Chebiki, ratusan wisatawan yang
menggunakan puluhan mobil sejenis dengan yang kami naiki telah
terlebih dahulu tiba. Dari lokasi parkir di tepi jalan, kami berjalan
kaki menuju oase melalui jalan setapak bebatuan sempit, tetapi bisa
dilewati pengunjung secara berpapasan.
Di Chebiki, pengunjung dapat pula melakukan pendakian di lereng
perbukitan bebatuan terjal. Di lokasi tertinggi yang dapat didaki,
sejauh mata memandang terlihat hamparan gurun.
Beberapa kilometer dari Chebiki terdapat pula satu oase lain. Air
mengalir, terjun dari ketinggian sekitar 10 meter, membentuk danau
dengan luas hanya sekitar lima meter persegi di bawahnya.
"Star Wars Episode I"
Dari kawasan Chebiki, perjalanan selanjutnya menembus kawasan
Sahara bagian utara yang terletak di antara kota-kota Tozeur, Nefta,
dan Tamerza. Sebelumnya kami sempat singgah di Tamerza Palace untuk
makan siang sambil menikmati pemandangan bekas rumah-rumah penduduk
masa lalu yang telah hancur diterpa badai di bukit seberang.
Tamerza kami tinggalkan, lalu mampir di perkampungan suku Berber,
penduduk asli padang pasir Tunisia. Lokasi permukiman terbuat dari
batu tersebut berada persis di tepi ngarai menawan. Lereng alam
tersebut terlihat berlapis-lapis seperti susunan batu bata.
"Luar biasa, ini benar-benar indah," kata Lulu, peserta Fam Trip
lain dari Pan Travel, sambil memandang ke arah lereng berliku di
bawahnya.
Dari ngarai itu, perjalanan kami selanjutnyalah yang paling
mengesankan. Kali ini, perjalanan tidak lagi melalui jalan mulus,
tetapi langsung menembus sebagian kecil Gurun Sahara. Jalan yang kami
lalui hanya berupa lapisan pasir paling keras karena setiap hari
dilalui ratusan mobil yang membawa wisatawan dalam perjalanan di
gurun.
Di beberapa lokasi gundukan pasir, Fatih kadang sengaja menyeret
kami dalam ketegangan yang cukup mencekam, dengan membawa mobil ke
arah bukit-bukit kecil dengan kemiringan hingga 80 derajat. Di lokasi
lain, mobil yang kami lalui kadang menaiki atau menuruni bukit
berpasir.
Teriakan-teriakan kekhawatiran dari empat penumpang di dalam
mobil tidak menyurutkan Fatih untuk terus mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi di atas pasir.
Kadang-kadang Fatih malah menghentikan mobil di tepi lereng
pasir, dengan risiko kendaraan terguling ke bawah. Laki- laki yang
hanya bisa berbahasa Arab itu cuma senyum-senyum melihat kekhawatiran
para penumpangnya.
Setelah kembali menembus perjalanan tetap melalui hamparan pasir
mahaluas di bawah terik matahari, kami tiba di lokasi yang dari
kejauhan terlihat seperti rumah-rumah penduduk terbuat dari batu
berplester lumpur. Saat tiba di lokasi itu, 10 mobil Toyota Land
Cruiser lain telah diparkir dan penumpangnya telah turun untuk
melihat-lihat bangunan tua di tengah gurun tersebut.
Lokasi yang menjadi tempat peristirahatan sekitar 15 menit mobil-
mobil wisata gurun tersebut adalah bekas tempat shooting salah satu
episode film layar lebar Star Wars Episode I, The Phantom Menace.
Bekas lokasi shooting film itu dibiarkan utuh dan menjadi tujuan
wisata petualangan di bagian utara Gurun Sahara yang terdapat di
wilayah Tunisia.
Dari lokasi itu perjalanan selanjutnya kembali melalui gurun
pasir dan di beberapa tempat kami menemui sekumpulan unta. Akhir dari
perjalanan di gurun tersebut adalah ruas jalan mulus yang
menghubungkan antara kota Nefta dan Tozeur.
Image: 1
Peta Tunisia
Foto: 3
Foto-foto: Kompas/Agus Mulyadi
1. Dihadang debu pasir tebal saat melintasi Chott El Jerid, bekas
danau air garam.
2. Mobil-mobil berkapasitas mesin besar yang digunakan untuk Tur
Sahara.










KOMPAS - Minggu, 13 May 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 1425 Foto: 1



KETEGANGAN DI PUNGGUNG UNTA



Perjalanan di Gurun Sahara tentu tidaklah lengkap jika tidak
dilakukan dengan naik di punggung unta seperti para musafir dahulu
kala. Maka, keesokan harinya, saat kami kembali berada di Douz,
perjalanan di gurun dengan menggunakan hewan khas gurun pasir itu
dilakukan.
Unta yang kami naiki dipandu oleh seorang penduduk setempat.
Perjalanan lambat di atas pasir di punggung hewan-hewan berpunuk
tersebut tidak kalah menegangkan. Hamparan gurun pasir yang tidak
rata, berbukit-bukit kecil, membuat penumpang di atas punggung unta
kerap terguncang.
Tanpa pegangan kuat di pegangan kayu di punggung unta, niscaya
akan membuat saya atau penumpang lainnya terjatuh, terguling di atas
pasir, atau terinjak kaki hewan yang konon memiliki sifat pendendam
terhadap orang yang menyakitinya.
"Orang-orang zaman dahulu kala tentu seperti ini saat melintasi
gurun pasir. Semua yang terlihat hanyalah hamparan pasir. Di mana-
mana pasir," kata Meriana Wiriadi, peserta Fam Trip dari Vayatour.
Semua yang terlihat memang hanyalah pasir. Para musafir dahulu
kala tentu tersiksa dalam perjalanan dan selalu berharap dapat
bertemu oase seperti di Chebika, yang dapat memperpanjang hidup dan
perjalanan mereka.
Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Di tengah gurun, di perbukitan bebatuan, terdapat oase yang masih
terus mengucurkan air, di kawasan Chebiki.

Dari Carthage Hingga Sahara





































KOMPAS - Sabtu, 28 Apr 2007 Halaman: 39 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 8614 Foto: 1
Wisata Tunisia









DARI CARTHAGE HINGGA SAHARA
Oleh Agus Mulyadi

Sungguh eksotik. Perpaduan budaya beberapa bangsa di dunia telah
membuat Tunisia sedikit berbeda dengan bngsa-bangsa di sekitarnya.
Warna lain begitu kental memengaruhi kehidupan negara ini sehingga
membuatnya sedikit berbeda dengan negara Arab lainnya di Afrika Utara.
Perpaduan berbagai budaya berbeda tersebut paling tidak terlihat
dari banyaknya peninggalan peradaban masa lampau di berbagai kawasan
di negara dengan luas 164.150 kilometer persegi itu. Kuatnya pengaruh
budaya asing di negara berpenduduk sekitar 10 juta itu saat ini
adalah pemakaian bahasa Perancis sebagai bahasa kedua sehari-hari
selain bahasa Arab.

Banyaknya peninggalan masa lalu dapat dengan mudah dijumpai,
bahkan di pusat kota Tunis, ibu kota Tunisa, sekalipun. Saat berjalan-
jalan di dua jalan utama pusat kota, yakni Habib Bourguiba Avenue dan
Avenue de France, pengunjung dapat langsung bertemu dengan salah satu
peninggalan itu, yakni Bab Bahr atau lebih dikenal dengan sebutan
Pourte de France.

Ini adalah pintu masuk menuju Masjid Ezzitouna yang dibangun pada
tahun 732 Masehi oleh Ubaidillah bin al-Habhab, Gubernur Afrika pada
masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah. Masjid
di tengah pasar di kota tua Medina ini punya nilai sejarah sebagai
pusat dakwah Islam.

Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Tunis menyempatkan
diri melihat Masjid Ezzitouna, selain berbelanja suvenir di kawasan
Medina.

Masih di Tunis, perjalanan wisata dapat dilakukan sambil
mengenang perjalanan sejarah negara itu dengan mundur ke belakang
sebelum masa Islam. Museum Bardo menyimpan peninggalan peradaban-
peradaban yang hidup di Tunisia, mulai dari masa prasejarah hingga
masa kekuasaan kerajaan Phoenician dan Romawi. Sejumlah arca
peninggalan bisa ditemui di museum ini.

Sementara peninggalan paling nyata dari kekuasaan dua penguasa
berbeda tersebut dapat dengan jelas ditemui di kompleks reruntuhan
Carthage yang terletak di bagian utara Tunis. Bekas reruntuhan ini
memiliki pemandangan menawan karena berada di tepi pantai Laut Tengah
(Mediterania).

Sejumlah peninggalan masa kekuasaan Phoenician dan Romawi bisa
disaksikan di sini, berupa reruntuhan bangunan kuno bekas istana
berarsitektur Romawi, amfiteater, pemandian Antoni, dan bekas
pelabuhan Phoenic. Carthage atau juga disebut Kartago adalah kerajaan
yang berdiri sekitar tahun 814 Sebelum Masehi (SM). Kemunduran
Carthage terjadi pada abad ke-2 SM sehingga menyebabkan saling
bergantinya kekuasaan di sana.

Ketika Romawi melakukan ekspansi ke seberang lautan, ke benua
Afrika, wilayah Tunisia menjadi pusat kerajaan di selatan.
Teritorinya meliputi bekas wilayah kekuasaan Carthage. Pada tahun 439
Masehi hingga 533 Masehi, Tunisia dikuasai pasukan Vandal. Namun,
kemudian kembali ditaklukkan oleh Kerajaan Roma Byzantium pada 533-
647 Masehi.

Peninggalan masa lalu sebelum masuknya Islam itu dapat disaksikan
di kompleks Cartaghe atau juga di El Jem, kota di bagian selatan
Tunisia, berupa amfiteater yang masih digunakan untuk sejumlah konser
musik hingga sekarang.

Masih di bagian utara Tunis yang terletak menghadap ke timur ke
arah Laut Tengah, terdapat pula obyek wisata Sidi Bou Said. Nama ini
adalah nama seorang ulama sufi yang diabadikan menjadi nama kompleks
permukiman penduduk. Bangunan di kawasan ini terlihat khas
bermotifkan Andalusia (Spanyol), dengan dominasi warna putih di
dinding dan warna biru di pintu dan jendela. Dari perbukitan inilah,
pemandangan teluk di bawahnya jelas terlihat.

Penyebaran Islam
Peninggalan sejarah lain di Tunisia yang dapat disaksikan tentu
saja tentang perjalanan penyebaran agama Islam di Afrika itu sendiri.
Selain di kawasan kota tua Medina, lokasi penting lain adalah di kota
Kairouan (153 kilometer selatan Tunis). Kota bersejarah ini didirikan
Uqbah bin Nafi RA, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang
memimpin penyebaran Islam di benua Afrika pada tahun 670 Masehi atau
50 Hijriah.

Wisatawan dapat melihat peninggalannya berupa masjid tertua di
Afrika, yang dinamai Masjid Uqbah bin Nafi. Sumber lain menyebut,
masjid ini adalah masjid tertua kedua di benua Afrika setelah masjid
Amr bin Asd di Fushfat, Mesir. Peninggalan lain di Kairouan yang
sekarang menjadi pusat pendidikan agama Islam di Tunisia adalah
kompleks makam sahabat Abu Zam'a Balawi. Kairouan juga dikenal
sebagai daerah penghasil kerajinan permadani.

Para penyebar agama Islam di Afrika itu masuk ke Kairouan melalui
Sousse (143 kilometer selatan Tunis), kota di pesisir timur Tunisia.

Wisata belanja
Pariwisata Tunisia tentu saja tidak terlepas dari wisata belanja.
Berbagai macam jenis kerajinan, yang sebagian mungkin diimpor dari
negara lain termasuk Indonesia dan China, dapat ditemui di berbagai
lokasi wisata.

Selain di Medina, wisata belanja aneka suvenir dapat ditemukan
juga di, antara lain, Hammamet, Sousse, Carthage, Sidi Bou Said,
Kairouan, Douz, Touzer, Tamerza, Matmata, dan Pulau Djerba.
Di Hammamet (60 kilometer selatan Tunis) terdapat kompleks wisata
dan perbelanjaan suvenir, tidak ubahnya seperti Dunia Fantasi di
Ancol, Jakarta. Sementara di Sousse malah terdapat pusat perbelanjaan
cenderamata cukup besar. Di tempat-tempat ini, wisatawan bisa
mendapatkan aneka suvenir, mulai dari patung unta, gelang, gantungan
kunci, t-shirt, hingga jaket kulit.

"Ini cocok untuk turis asal Indonesia yang suka belanja. Tawaran
wisata belanja harus dimasukkan dalam paket wisata yang ditawarkan,"
kata Evi Prabandari, dari Gullivers Travel Associates (GTA).
Rombongan agen perjalanan dari Indonesia yang berkunjung ke
Tunisia dua pekan pertama April lalu membuktikan ucapan Evi. Di
hampir semua obyek wisata, perjalanan ke tempat berikutnya selalu
molor karena rombongan pengelola agen perjalanan itu pun selalu saja
lupa waktu saat berbelanja suvenir.

Amel, dosen perempuan berusia 32 tahun di salah satu perguruan
tinggi di Tunis yang menjadi pemandu, kerap merasa kesal karena
keasyikan belanja para turis dadakan tersebut.

Belanja suvenir memang memanjakan wisatawan dan telah lama
menjadi obyek yang ditawarkan kepada turis. Namun, wisata belanja di
Tunisia hanyalah pelengkap dari bermacam jenis wisata yang dapat
dinikmati, termasuk oleh wisatawan asal Indonesia nanti.
Gurun Sahara
Klimaks kunjungan wisata di Tunisia tentunya adalah perjalanan di
sebagian kecil Gurun Sahara, selain melihat oase di tengah gurun,
pantai, dan hamparan perkebunan zaitun, atau tarian khas seperti tari
perut.

Tarian yang dipersembahkan perempuan-perempuan cantik berwajah
campuran Arab dan Eropa tersebut dapat ditemui di tempat-tempat
khusus di Tunis, misalnya, atau dalam acara-acara tertentu. Ini tentu
menjadi pengalaman tidak terlupakan dari negara itu.
Sementara sepanjang perjalanan menyusuri wilayah timur Tunisia
yang berbatasan dengan pantai Laut Tengah, serta antara selepas
Matmata dan sebelum memasuki penyeberangan ke Pulau Djerba, hamparan
perkebunan zaitun terlihat di mana-mana. Tanaman khas itu umumnya
terdapat di kawasan timur Tunisia, berbatasan dengan pantai Laut
Tengah.

Pantai di beberapa kota, seperti Hammamet, Sousse, Sfax, Pulau
Djerba, serta di kawasan Sidi Bou Side dan Carthage, pun sungguh
indah. Keindahannya seperti paras cantik perempuan-perempuan Tunisia
yang dijumpai di segala tempat.

Namun, segala kecantikan itu tentu akan lenyap dan mungkin
sejenak terlupakan saat memasuki tur di kawasan gurun. Salah satunya
adalah oase di perbukitan batu di tengah gurun di kawasan Chebiki.
Puncak dari keindahan perjalanan di Tunisia adalah tur Sahara
dengan menggunakan mobil-mobil bermesin besar keluaran Toyota,
Nissan, dan Mitsubishi. Dengan sopir-sopir penduduk setempat yang
andal, sebagian gurun dimasuki dalam reli yang mendebarkan di kawasan
antara Tamerza, Nefta, dan Tozeur.

Apabila belum puas, perjalanan di bagian utara Gurun Sahara itu
dapat dinikmati dengan menggunakan unta di kawasan sebelah selatan
kota Douz, yang terletak 480 kilometer selatan Tunis.

Foto:
KOMPAS/AGUS MULYADI
Di tengah Gurun Sahara di kawasan Chebika, Tunisia, terdapat oase
yang masih terus mengucurkan air.
"Puncak dari keindahan perjalanan di Tunisia adalah tur Sahara
dengan menggunakan mobil-mobil bermesin besar."

Selasa, 21 Oktober 2008

Medina, Kota Tua yang Selalu Dijejali Turis







KOMPAS - Senin, 23 Apr 2007 Halaman: 27 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 3565 Foto: 1
Tujuan Wisata
MEDINA, KOTA TUA YANG SELALU DIJEJALI TURIS
Penataan kawasan kota tua di Jakarta mungkin harus dilakukan pula
dengan membandingkannya terlebih dulu dengan Medina, kota tua di
Tunis, ibu kota Tunisia.
Magnet bagi pengujung untuk datang ke kawasan itu adalah
berbelanja cendera mata. Segala macam suvenir khas dapat dibeli
jutaan turis yang datang ke Tunis. Ketika belakangan kemudian
diketahui suvenir tersebut buatan China, Indonesia, atau negara lain,
itu urusan nanti.

Medina adalah bukti bahwa kota tua dapat dijual sebagai tempat
tujuan wisata. Hampir semua wisatawan ke Tunisia yang datang melalui
Tunis dipastikan mengunjungi kawasan Medina. Kawasan ini terletak di
pusat kota dan berada di ujung Avenue de France, salah satu jalan
utama di kota itu.

Pengunjung umumnya menjejali lorong-lorong di antara bangunan tua
di Medina sekadar untuk membeli oleh-oleh khas dari negara itu.
Suvenir berbagai jenis bisa didapatkan di ribuan toko yang menempati
bangunan-bangunan tua dan dipisahkan lorong-lorong dengan lebar
kurang dari 1,5 meter.

Gelang, kalung, cincin, jaket, selendang, dan banyak macam hasil
kerajinan rakyat dengan mudah dapat ditemui di semua toko. Harganya
bervariasi mulai dari yang termurah seharga satu dinar Tunisia
(sekitar Rp 8.000) hingga ribuan dinar untuk karpet kualitas terbaik,
misalnya.

Untuk memasuki kawasan Medina, terdapat tiga pintu utama meskipun
sebenarnya kota tua itu dapat dimasuki dari lorong mana saja.
Salah satu pintu masuk utamanya terletak di ujung Avenue de
France dan disebut Bab al Bahr atau Porte de France yang menghadap ke
arah timur. Sementara tiga pintu lainnya adalah Bab Souika, Bab
Carthage, dan Bab Jazirah.

Masjid Ezzitouna
Selain belanja aneka cenderamata, pengunjung ke kawasan kota tua
Medina umumnya berkunjung ke Masjid Ezzitouna yang berada di tengah-
tengah pasar. Masjid itu dibangun pada tahun 732 Masehi atau 114
Hijriah oleh Ubaidillah an al-Habhab, Gubernur Afrika pada masa
pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah.

Selain masjid itu, di Medina banyak bangunan lain yang selalu
dikunjungi wisatawan. Salah satunya adalah rumah makan Dar Bel Hadj
yang terletak di salah satu lorong kecil dalam kawasan kota tua itu.

Dari luar, bangunan terlihat kumuh seperti banyak bangunan tua
lain di Medina. Namun, saat berada di dalam, kondisinya sungguh
mencengangkan. Semua dinding ruangan ditempeli keramik kuno. Ruangan
tanpa penyejuk udara itu pun terasa sejuk. Di Dar Bel Hadj pengunjung
bisa memesan masakan khas Tunisia, masakan daging kambing sepiring
penuh nan lezat.

Medina telah menjadi salah satu tujuan utama wisatawan yang
datang ke Tunis. "Medina memang menjadi salah satu tempat tujuan
wisata di Tunis, termasuk Masjid Ezzitouna di dalamnya," ucap Amel,
dosen di salah satu perguruan tunggi di Tunis yang sempat memandu
beberapa wisatawan asal Indonesia, pekan pertama April lalu.

Dengan terus dipelihara dan dikelola dengan baik, kota tua
peninggalan sejarah masa lalu Tunisia itu dapat menjadi daya tarik
bagi pengunjung untuk datang. Perekonomian warga setempat dan
sekitarnya pun terus bergerak, seiring terus berdatangannya jutaan
turis dari berbagai negara.

Kapan kondisi serupa bisa terwujud di kawasan kota tua Jakarta?
(agus mulyadi)

Foto: 1
kompas/agus mulyadi
Bab al Bahratau biasa disebut Porte de France adalah salah satu pintu
masuk ke kawasan kota tua Medina.



KOMPAS - Senin, 16 Apr 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 3446 Foto: 1
Jalur Pedestrian
BERJALAN-JALAN NYAMAN DI TUNIS
Oleh Agus Mulyadi
Angin bertiup perlahan di jalan Habib Bourguiba Avenue, Tunis,
pada pekan pertama April lalu. Suhu yang masih sekitar 12 derajat
Celsius menyebabkan rasa dingin masih terasa menusuk kulit.
Namun, rasa itu tidak terlalu mengganggu pejalan kaki di
sepanjang jalan utama di ibu kota Tunisa tersebut. Begitu banyak
manusia yang berjalan kaki di kedua sisi jalan dan bagian tengah
jalan seakan menimbulkan kehangatan pengusir dingin, selain jaket
kulit atau pakaian tebal yang mereka pakai.

Manusia yang berlalu lalang merasa nyaman berjalan kaki karena
tidak ada gangguan, seperti yang terjadi di Jakarta. Jalur pedestrian
yang ada di kota itu cukup memanjakan para pejalan kaki karena dibuat
lebih lebar dari jalan di tengah-tengahnya.

Di Habib Bourguiba Avenue dengan panjang sekitar satu kilometer
hingga jalan terusannya Avenue de France dengan panjang sekitar 300
meter, tak henti orang hilir mudik berjalan kaki. Jalur pedestrian
lebih luas terdapat di ujung jalan yang berakhir di gerbang Bab Bhar
atau yang lebih dikenal dengan nama Porte de France. Di antara
gerbang itu dengan kawasan Medina, kota tua di Tumis, terdapat jalur
pedestrian lebih luas, yang dilengkapi dua kafe terbuka.

Di beberapa lokasi di jalur pedestrian Avenue de France dan Habib
Bourguiba Avenue terdapat kafe-kafe terbuka, menjadikan tempat itu
lebih nyaman. Pejalan kaki dapat melepas lelah, baik sekadar minum
kopi maupun menikmati makanan ringan, sambil duduk-duduk di kafe
terbuka.
Kondisi yang hampir sama dapat dijumpai di beberapa ruas jalan
lebih kecil di sekitar dua jalan utama Tunis itu, antara lain Paris
de Avenue dan Mohamed V Avenue.

Namun, berbeda dengan suasana di kota lain di dunia, seperti
Singapura dan Milan, di jalur pedestrian di ibu kota Tunisia
berpenduduk kurang dari satu juta jiwa itu banyak ditemui puntung
rokok. Sebagian pejalan kaki memang dengan bebas merokok dan kadang
seenaknya membuang puntung di mana pun.

"Satu persamaan antara Tunis dan Jakarta adalah sama-sama bebas
untuk merokok, lainnya beda," kata Teguh, kamerawan televisi swasta
di Jakarta.

Sebagai sama-sama negara berkembang, Pemerintah Tunisia lebih
memerhatikan kenyamanan warganya, termasuk warga Kota Tunis.
Pemerintah tahu betul bagaimana menjadikan kota sebagai tempat
tinggal yang nyaman, termasuk bagi jutaan turis per tahun yang datang.

Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia, khususnya Jakarta. Jalur
pedestrian yang lebar, teduh, dan nyaman hanya tetap impian. Bahkan,
jalur pedestrianalias trotoar yang menjadi hak pejalan kaki secara
semena-mena dikuasai pengendara sepeda motor pada saat jam sibuk.
Orang pun seenaknya membuka warung, bengkel, dan lainnya. Trotoar
yang sempit pun habis diambil alih.

Jakarta dengan luas 650 kilometer persegi dan penduduk 7,5 juta
lebih memang tidak bisa dibandingkan dengan Tunis yang luasnya 346
kilometer persegi. Namun, kenyamanan jalur pedestrian di kota itu,
juga kota lain di dunia, bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya
tempat khusus pejalan kaki itu dikelola.

Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Jalur pedestrian di Avenue de France, Tunis, yang lebar membuat
nyaman pejalan kaki, seperti terlihat 10 April lalu. Kondisi ini
berbeda jauh dengan Jakarta.

Indonesia, Oh Tsubami ya....











KOMPAS - Sabtu, 28 Apr 2007 Halaman: 39 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5110





Indonesia
OH, TSUNAMI YA...

"From China...? Taiwan...? Japan...? Filipina...?" Berkali-kali
sapaan seperti itu muncul selama beberapa hari menyempatkan diri
berputar-putar di Medina, kawasan kota tua di Tunis, ibu kota
Tunisia, pada pekan pertama dan kedua April lalu.

Terkadang, para penegur yang umumnya pedagang cendera mata malah
menyapa dengan pertanyaan "Kamboja?" Kadang-kadang pula, mereka pun
menambahkan "Jet Lee", mengacu kepada bintang laga asal Hongkong.

Saat sapaan-sapaan itu dijawab dengan jawaban bahwa saya dan
beberapa kawan berasal dari Indonesia, mereka memang langsung
mengetahuinya. Namun, bukan langsung menyebut ke negara kita yang
begini besar, tetapi dengan mengucapkan kalimat, "Oh, tsunami. ya.
tsunami."

Bencana besar
Bencana alam terbesar sepanjang masa di Bumi itulah yang rupanya
mengingatkan pedagang-pedagang di kawasan Medina terhadap Indonesia.
Pengalaman yang sama kami jumpai pula saat berkunjung ke beberapa
kota di negara Afrika utara itu, seperti Hammamet, Sousse, Kairouan,
Douz, Matmata, dan Djerba. Semuanya mengenal atau mengingat Indonesia
dari bencana alam terbesar yang terjadi di Aceh pada Desember 2004
itu.

Warga Tunisia yang hampir semuanya beragama Islam (sekitar 99,5
persen), saat bertemu di tempat wisata, hotel, atau rumah makan,
bahkan tidak tahu kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk
beragama Islam terbesar di dunia. Mereka terlihat sedikit terkejut
saat diberi tahu bahwa warga Muslim di Indonesia sekitar 200 juta!

Kenyataan ini menyadarkan saya serta empat wartawan lain dan juga
belasan pengelola agen perjalanan dari Indonesia bahwa negara kita
tidak begitu dikenal di Tunisia. Meskipun punya kedekatan sejak
sebelum negara itu merdeka dari penjajahan Perancis pada Juli 1957,
nyatanya saat ini Indonesia kurang begitu dikenal. Entah salah siapa
ini.

Dari sekian banyak warga Tunisia sekarang yang bertemu dalam
perjalanan Fam Trip dari Indonesia tersebut, hanya seorang yang
sedikit mengenal Indonesia. Dia adalah Solah (37), sopir yang
mengemudikan salah satu mobil yang mengantar kami sedikit
berpetualang di sebagian kecil Gurun Sahara. Solah bahkan mengaku
mengenal sosok Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama RI.

Kembali saling mengenalkan
Fakta tidak begitu dikenalnya Indonesia oleh warga negara sahabat
lama tersebut yang mendorong Konsul Kehormatan Tunisia di Yogyakarta
Moetaryanto Poerwoaminoto membuka jalur wisata ke negara itu.
Dengan tujuan meningkatkan hubungan antarmanusia kedua negara itu
pula, Pemerintah Tunisa mengangkat Moetaryanto sebagai konsul
kehormatan pada 15 Juni 2005. Pilihan penunjukan sebagai konsul
kehormatan kepada warga negara Indonesia itu tentu dengan
pertimbangan matang, terutama karena jauh lebih mengenal karakter
bangsanya sendiri.

Pariwisata Tunisa adalah salah satu yang hendak diperkenalkan
kepada Indonesia. Alasannya, di negara itu terdapat banyak
peninggalan sejarah penyebaran dan perkembangan Islam. Kedekatan
inilah yang mendorong Pemerintah Tunisia mencoba menjual pariwisata
negaranya kepada Indonesia.

Kesempatan untuk itu terbuka dan sangat memungkinkan karena
setiap tahun banyak umat Islam asal Indonesia yang melakukan ibadah
umroh di Tanah Suci. Sebagian di antara mereka, melakukannya dalam
perjalanan umroh plus yang dikelola agen-agen perjalanan di Tanah Air.

Menurut Tinny Prayogi dari agen perjalanan Tima Wisata, paket
dengan tawaran ke Tunisia bukan hal yang tidak mungkin. Dia malah
menganggapnya sebagai peluang baru untuk menjaring lebih banyak orang
melaksanakan ibadah umroh plus wisata ke Tunisia itu.

Optimisme menjaring wisatawan dari Indonesia tidak hanya datang
dari pengelola perjalanan umroh. Meriani Widiari dari Vaya Tour dan
Elfita Sigarlaki Tan dari Bayu Buana yang biasa menyelenggarakan
perjalanan wisata ke negara-negara di Eropa pun menyatakan optimisme
yang sama.

Mereka merasa yakin keindahan bumi Tunisia dapat dijual kepada
wisatawan asal Indonesia. Perjalanan ke Tunisia dapat dijadikan satu
paket dengan wisata ke Eropa. Apalagi perjalanan udara dari Roma,
Italia, ke Tunis hanya 45 menit.

Tawaran wisata yang ditawarkan pengelola perjalanan umroh tentu
saja berbeda dengan wisata umum. Tinny, misalnya, menyatakan rasa
optimismenya karena di Tunisia banyak ditemui masjid-masjid
bersejarah, seperti di Medina dan Kairouan.

Dengan akan berdatangannya wisatawan asal Indonesia ke Tunisia,
beberapa tahun ke depan niscaya tidak ada lagi sapaan-sapaan
menyebalkan saat bertemu orang Indonesia. Masak negara yang begini
besar kalah dikenal dibandingkan dengan Kamboja, misalnya.
Sebaliknya, dengan berdatangannya wisatawan Indonesia ke Tunisia,
bakal menjaring warga negara itu untuk berkunjung ke Indonesia,
termasuk ke Nanggroe Aceh Darussalam yang mereka kenal dengan bencana
tsunaminya.

"Dari Indonesia...? Ya, saya dari Indonesia, salah satu negara
terbesar di dunia." (AGUS MULYADI)

Rabu, 13 Agustus 2008

Danau MAs Rejang Lebong Bengkulu Belum Berkilau

KOMPAS - Sabtu, 15 Jan 2005 Halaman: 31 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6385 Foto: 1

DANAU MAS REJANG LEBONG BENGKULU BELUM BERKILAU

KABUT cukup tebal menyelimuti kawasan pegunungan itu pada Minggu
pagi pekan terakhir Desember 2004. Di jalan, pengendara kendaraan
bermotor beroda empat dan dua menyalakan lampu.

DI sebuah lembah yang dikitari oleh perbukitan, sekelompok ibu-
ibu pedagang tengah menata dagangan mereka di atas meja-meja.
Sekelompok pemuda berjaket tengah berkerumun di tempat parkir
kendaraan yang masih kosong. Beberapa orang di antara mereka tengah
merokok, mungkin untuk mengurangi udara dingin. Dua orang di antara
mereka lalu mencoba menyalakan api di setumpukan kayu, persis di
batas luar lahan parkir.

Kecuali ibu-ibu pedagang dan kelompok pemuda, tidak ada orang
lain terlihat di kawasan itu. Kesan sepi terasa menaungi kawasan
berhawa sejuk tersebut. Di kejauhan, di punggung-punggung bukit yang
mengelilingi danau dan kebetulan tidak diselimuti kabut, tanaman
sayuran berbagai jenis terlihat hijau subur. Samar-samar terlihat
sejumlah petani tengah memetik sayuran di kebun mereka. Pemandangan
dan udara pagi terasa segar.

"Pada hari Minggu seperti sekarang ini biasanya pada siang nanti
pasti akan datang banyak pengunjung. Akan tetapi mungkin saja hari
ini sepi, tergantung hujan turun atau tidak," ucap Darmawan, salah
seorang pemuda di tempat parkir.

Kendati senyap masih menyergap, kawasan wisata Danau Mas di Desa
Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong,
Provinsi Bengkulu, itu terasa menyimpan potensi keindahan alami yang
menawan. Meskipun obyek wisata yang ditawarkan hanyalah berupa danau
di perbukitan, kawasan itu tetap menawan bagi pengunjung yang datang.
Terlebih lagi, kawasan Rejang Lebong sedikit memiliki obyek wisata.
Kawah Bukit Kaba dan Air Panas Suban hanyalah dua lokasi wisata lain
yang menjadi pilihan wisatawan di daerah itu.

Danau Mas terletak sekitar 19 kilometer dari Curup, ibu kota
Kabupaten Rejang Lebong, atau sekitar 25 kilometer dari Lubuk
Linggau, Sumatera Selatan. Danau ini terletak di tepi jalan yang
menghubungkan dua kota bertetangga tetapi lain provinsi tersebut.

Lokasi Danau Mas akan dengan mudah terlihat oleh para pengguna
jalan yang tengah melintas. Letak danau yang berada di lembah, persis
di bagian bawah tepi jalan, memudahkan pemakai jalan untuk melihatnya.

"Pengunjung yang datang ke sini, sebagian memang pemakai jalan
yang tengah melintas, baik ke arah Lubuk Linggau maupun ke arah Curup
dan Bengkulu," kata seorang tukang parkir.
***

DANAU Mas memang menjadi pilihan yang menarik untuk sekadar
menghilangkan penat, terutama bagi warga Kota Bengkulu dan daerah
pantai lain di Bengkulu. Dengan datang ke lokasi wisata ini, paling
tidak warga yang umumnya berdiam tak jauh dari pantai mendapatkan
suasana lain, yakni pegunungan, termasuk udaranya yang sejuk dan
segar.

Warga Lubuk Linggau pun hanya memiliki pilihan lokasi wisata
berhawa sejuk di Danau Mas. Perbedaan iklim dan suhu udara menjadikan
kawasan wisata ini menjadi pilihan yang tidak boleh ditinggalkan.
Apalagi di Lubuk Linggau tidak ada lokasi wisata berudara sejuk
seperti Danau Mas.

Namun sayang, potensi begitu besar yang dapat mendukung
berkembangnya bisnis wisata danau tersebut rupanya belum menjadi
prioritas pemerintah daerah setempat untuk mengembangkannya.
Fasilitas pendukung tempat wisata itu jauh dari memadai.

Untuk penunjang wisata utama, yaitu danau, misalnya, saat ini
hanya tersedia beberapa sepeda air. Terbatasnya fasilitas pendukung
itu menyebabkan pengunjung yang hendak bermain-main di danau kerap
harus lama antre bersama pengunjung lain.

Fasilitas pendukung lain hanya berupa taman di bawah pepohonan di
sisi timur danau. Di lokasi ini terdapat pula beberapa kursi ayun
besi, yang biasa digunakan bermain oleh anak- anak atau pasangan muda-
mudi yang tengah berpacaran. Meski dengan fasilitas terbatas, tempat
di tepi danau ini tetap cukup lumayan bagi keluarga yang hendak
melepas penat dan bagi anak-anak mereka yang mendapat hiburan sehat.

Dengan fasilitas yang masih terbatas, Danau Mas tetap menjadi
pilihan warga untuk berkunjung karena memang tidak ada pilihan tempat
wisata sejenis di kawasan itu. Menurut Burmawi, pengelola Danau Mas,
pada hari Minggu atau hari libur rata-rata 300 pengunjung datang ke
tempat wisata alam tersebut.

"Jumlah pengunjung akan semakin banyak pada waktu digelar
panggung hiburan di tempat ini," katanya.

Pada hari-hari biasa, ungkap Burmawi, jumlah pengunjung tak
terlalu banyak. Jumlahnya hanya puluhan orang. Ia mengakui, masih
sedikitnya pengunjung yang datang ke danau dengan nama resmi Danau
Mas Harun Bastari itu memang karena masih terbatasnya fasilitas
pendukung.

Saat ini di sekitar kawasan danau seluas 36 hektar yang dibuka
sebagai tempat wisata pada tahun 1980-an tersebut hanya terdapat tiga
vila dan satu hotel. Semuanya itu dikelola oleh swasta.

Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong sendiri sebenarnya tak tinggal
diam. Malah pemerintah kabupaten telah mengalokasikan anggaran
belasan miliar rupiah untuk membangun kawasan wisata Danau Mas yang
lebih representatif. Selain akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas
pendukung danau dan taman di sekelilingnya, sebanyak 100 vila juga
akan dibangun di perbukitan di atas danau.

Hingga pembangunan terhenti, seperti yang terlihat pada akhir
Desember 2004, sebanyak 53 vila telah dibangun. Dari lokasi di
ketinggian itu, Danau Mas dan sekitarnya bisa terlihat. Sementara
untuk kawasan danau sendiri belum ada penambahan fasilitas pendukung,
termasuk rencana membangun rumah makan di pulau yang ada di tengah
danau. Belum jelas mengapa rencana besar itu terhenti.

Terhentinya proyek pembangunan Danau Mas tentu saja menyebabkan
danau tersebut tetap merana. Pengunjung pun tetap hanya bisa
menikmati fasilitas wisata yang terbatas. Danau Mas memang belum
sekemilau seperti namanya. Kemilau Danau Mas masih tertutup kabut
setumpuk permasalahan pengelolaannya. (AGUS MULYADI)


Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
BELUM BERKILAU-Danau Mas yang dikelilingi keindahan perbukitan Rejang
Lebong hingga kini masih merana. Tempat wisata alam ini belum memiliki
fasilitas pendukung yang memadai.
Peta: 1

Jumat, 01 Agustus 2008

Romodong, Pantai Menawan yang Telantar

KOMPAS - Sabtu, 03 Jul 2004 Halaman: 32 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 6024

ROMODONG, PANTAI MENAWAN YANG TELANTAR

PANTAI-pantai di Pulau Bangka tidak lebih jelek dibandingkan
dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Dewata, Bali.

Demikian kalimat yang kerap diucapkan warga Pulau Bangka dengan
nada bangga. Pasir putih landai dipagari nyiur yang setiap saat
melambai akibat diembus angin laut bisa ditemui di banyak lokasi
pulau di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.

Bebatuan raksasa yang ada di kawasan pantai menjadi pelengkap
keindahan alam yang memang menawan.
Beberapa pantai yang telah dikelola sebagai tempat tujuan wisata
selalu mengundang pengunjung untuk datang dan datang kembali
menikmati kemolekannya.

Beberapa pantai di Bangka yang memesona telah dikelola dengan
baik, sebut saja misalnya Pantai Parai Indah Tengiri, Pantai Tanjung
Pesona, Pantai Matras, dan Pantai Batu Bedaun. Semua pantai itu
berada di Kabupaten Bangka. Pantai Pasir Padi di Kota Pangkal Pinang
juga merupakan obyek yang menawan.

Beberapa di antara sejumlah pantai indah di Pulau Bangka itu
telah dikelola dan menjadi tempat tujuan wisata. Sejumlah tempat
penginapan, seperti hotel dan cottage, pun menjadi bagian tak
terpisahkan dan pelengkap industri pariwisata tersebut. Di Pantai
Parai Indah Tengiri, misalnya, pengunjung juga bisa menikmati
perairan pantai dengan menggunakan jetsky sewaan.

Akan tetapi, kendati menyimpan potensi keindahan yang tidak
terbatas, tidak semua pantai bisa langgeng menjadi tempat wisata
memadai. Akibat kurang diurus, keindahan pantai berubah hingga tidak
bisa lagi menjadi lokasi untuk berekreasi, menghilangkan penat
setelah bekerja terus-menerus sepanjang minggu.

Inilah yang terjadi pada Pantai Romodong di kawasan Belinyu,
Kabupaten Bangka. Sudah bertahun-tahun pantai yang pernah menjadi
salah satu primadona wisata di Pulau Bangka tersebut berubah menjadi
kawasan kumuh. Pantai Romodong tidak lagi menjadi pantai yang
menyimpan pesona. Yang tampak justru kekumuhan, sampah, dan belukar
yang mengitarinya. Ibarat rumah, Romodong tak ubahnya bangunan lama
yang tidak dihuni sehingga rusak di sana-sini, porak-poranda akibat
diterjang hujan dan angin.

"Sudah lama pantai ini sepi. Orang tidak mau datang lagi ke sini
karena pantainya kotor. Dulu Romodong selalu ramai. Tapi, karena
tidak diurus lagi, pantai ini menjadi seperti ini. Saya tidak
mengerti, mengapa pemerintah daerah tidak membuka dan mengurus
kembali pantai ini," kata Nurman, nelayan yang ditemui di kawasan
pantai.

Pantai Romodong kini penuh sampah. Meskipun pantainya tetap
landai, banyaknya sampah tentu membuat pantai itu tidak lagi menjadi
lokasi yang nyaman, bahkan untuk duduk-duduk atau bermain pasir
sekali pun.

Di luar kawasan pasir landai, semak belukar kini mengitarinya.
Tumbuhan dengan bebas hidup di bekas primadona wisata pantai
tersebut. Sekilas, kesan yang muncul, Pantai Romodong merupakan
kawasan yang menyeramkan. Apalagi di antara semak terlihat adanya
bekas sejumlah rumah yang telah ambruk.

PUING bekas rumah-rumah itulah yang kini menjadi salah satu
penghias Pantai Romodong. Padahal, belasan tahun lalu cottage itulah
yang menjadi salah satu ciri khas dan kelebihan Romodong. Di bangunan
tembok dan kayu, dahulu pengunjung menginap dan beristirahat setelah
penat menikmati dan bermain di pantai.

Bekas puluhan cottage itu pula yang mencerminkan kehancuran
Pantai Romodong. Bekas bangunan-bangunan yang tidak berbentuk lagi
tersebut seolah menjadi peninggalan kejayaan masa lalu Romodong yang
aduhai.

Keterangan yang diperoleh menyebutkan, bekas bangunan itu semakin
menemui kehancurannya setelah tangan-tangan jahil beraksi. Setelah
ditinggalkan oleh pengelola pantai, kawanan penjahat beraksi dengan
menjarah apa pun yang ada di dalam cottage. Para penjarah mengganyang
habis kusen, daun jendela dan pintu, genteng, bahkan hingga engsel
pintu dan jendela. Penjarah itu konon datang dari laut.

Aksi penjarahan bangunan tersebut kabarnya bahkan berlangsung
secara terang-terangan pada siang hari. Lokasi pantai yang cukup jauh
dari permukiman penduduk terdekat membuat aksi para penjarah tidak
mendapat halangan apa pun, termasuk dari aparat penegak hukum.
Penduduk terdekat di sekitar pantai hanya bisa melihat aksi para
penjarah tanpa bisa berbuat apa-apa.

Sisa-sisa aksi penjarahan itu saat ini terlihat jelas dari tembok
bangunan atau kayu-kayu papan dinding. Genteng tidak terlihat lagi di
bangunan yang masih berdiri. Sebagian besar bekas bangunan juga sudah
ambruk dan telah ditumbuhi semak belukar. Bekas bangunan umumnya
telah tertutup tumbuhan dan terlihat menyembul di antara semak.


PANTAI Romodong berada di kawasan Belinyu, di bagian barat laut
Pulau Bangka. Untuk bisa ke lokasi ini, dari Pangkal Pinang, ibu kota
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pengunjung bisa menggunakan
kendaraan melalui Sungailiat hingga ke Belinyu. Dari kota kecamatan
ini, Pantai Romodong tinggal beberapa kilometer lagi. Jarak antara
Sungailiat ke Pantai Romodong sekitar 77 kilometer.

Ruas jalan yang dilalui, mulai dari Pangkal Pinang, Sungailiat,
hingga Romodong, semuanya mulus beraspal hotmix.
Kawasan Belinyu, sebagaimana banyak lokasi lain di Pulau Bangka,
telah hancur. Bumi telah dikupas para penambang untuk mencari timah.

Baik bekas tambang maupun lokasi tambang yang masih terus digali
telah rusak parah dan menyisakan kolam-kolam tak beraturan serta
sebaran tailing (limbah bekas galian) di sekitarnya.

Rusaknya sebagian bumi Bangka akibat penambangan timah yang tak
terkendali, seolah identik dengan rusak dan tidak terurusnya Pantai
Romodong. Akibat tidak diurus dengan benar, bumi Bangka kini di
ambang kehancuran. Seandainya penambangan timah terus tidak bisa
dikendalikan, bumi Bangka mungkin akan bernasib sama seperti Pantai
Romodong yang kini telantar dan tidak menawan lagi. (AGUS MULYADI)

Gedong, Desa Wisata yang Dihuni Warga Keturunan Cina

KOMPAS - Sabtu, 14 Feb 2004 Halaman: 35 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7408 Foto: 2

GEDONG, DESA WISATA YANG DIHUNI WARGA KETURUNAN CINA

SETIAP perayaan Imlek datang, kehidupan di Desa Gedong, Kecamatan
Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
berubah dibandingkan hari-hari biasa. Sanak saudara yang pergi
merantau ke kota atau daerah lain biasanya datang ke desa yang
terletak di kawasan utara Pulau Bangka itu.

Dengan membawa aneka macam barang oleh-oleh dan cerita segala
jenis kesuksesan, mereka datang ke kampung halaman. Pada saat Imlek,
mereka berbagi kebahagiaan dengan keluarga di desa kelahiran.

"Pada tahun baru Imlek desa kami ini ramai karena saudara yang
merantau pulang kampung," ujar Cie Sun Ti alias Santi (16), warga
Gedong yang juga pelajar di kelas II sebuah sekolah menengah kejuruan
(SMK) di Belinyu.

Informasi yang diberikan Santi diucapkan dalam bahasa Indonesia
yang lancar. Kenyataan itu sekaligus membuyarkan bayangan sebelumnya
ketika akan memasuki Gedong. Keterangan dari seorang staf di kantor
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan bahwa
hampir tidak ada warga Gedong yang bisa berbahasa Indonesia.

Mereka hingga kini masih menggunakan bahasa leluhur, yakni bahasa
Cina dengan dialek suku bangsa Khek. "Saya tidak tahu di bagian
daratan Cina mana daerah leluhur kami berasal," ujar Cie Khun Bui,
kakak Santi, juga dengan bahasa Indonesia, namun dengan logat Cina.
***

JALAN berlubang dan berlumpur sepanjang 300 meter menghadang laju
kendaraan saat hendak memasuki Gedong. Meskipun tidak sampai membuat
kendaraan terhenti, kerusakan jalan tersebut tetap mengganggu.

Sebelumnya, perjalanan sejauh 90 kilometer dari Pangkalpinang
melalui Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, cukup mulus. Jalan
rusak sebelum memasuki Gedong sama sekali tak terbayang. Soalnya,
desa yang dituju adalah sebuah desa wisata.

Gara-gara jalan rusak itulah, bayangan indahnya sebuah desa
wisata pun menjadi rusak. "Masak jalan menuju desa wisata seperti
ini. Seharusnya jalan ke tempat wisata dalam kondisi mulus," ujar
Chaidir, seorang teman yang ikut dalam perjalanan menuju Gedong.

Begitu pun saat melintasi gerbang masuk Desa Gedong selepas jalan
rusak, bayangan akan indahnya desa wisata juga belum muncul. Namun,
saat memasuki permukiman, gedung pertama yang tampak adalah sebuah
rumah tua berdinding kayu berarsitektur khas Cina. Ini rupanya salah
satu yang "dijual" di Gedong.

Akan tetapi, suasana pada siang hari pada bulan Desember 2003 itu
seperti tidak menggambarkan sebuah desa wisata. Gedong terlihat sepi.
Hampir tak ada orang lalu lalang di jalan desa yang umumnya berada di
antara dua barisan rumah di dua sisi berbeda.

Kesenyapan terasa makin lengkap karena rumah yang ada di Gedong
umumnya terlihat tua. Kesan buram mewarnai desa yang rumahnya rata-
rata bercat kusam.

Di tengah suasana sepi saat memasuki perkampungan Gedong itulah,
seorang gadis berambut model "buceri" (bule cat sendiri) melintas.
Dia berjalan ke salah satu rumah.

Dengan rasa waswas, khawatir si "buceri" tidak bisa berbahasa
Indonesia, Kompas pun menegurnya. Ternyata komunikasi berjalan
lancar. Gadis muda yang kemudian diketahui bernama Santi itu lancar
berbahasa Indonesia. Malah saat berbincang gaya bicaranya seperti ABG
(anak baru gede) di Jakarta.

Namun, kelancaran berkomunikasi dengan Santi, juga kakaknya Cie
Khun Bui, jangan harap muncul saat bertemu dengan ayah mereka, Cie
Sun Liong. "Orangtua saya memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Sehari-hari di sini bahasa yang digunakan memang bahasa Cina dari
suku Khek," kata Santi.

Warga Gedong dalam kesehariannya memang menggunakan bahasa negeri
leluhur mereka. Bagi warga yang sudah berumur dan tidak pernah duduk
di bangku sekolah, mereka hanya bisa berbahasa Cina.

Ketika ditanya mengapa Gedong ditetapkan sebagai desa wisata di
Kabupaten Bangka, laki-laki berusia 53 tahun itu menyatakan tidak
tahu. Penetapan desa wisata itu sendiri dilakukan pada tahun 2001
oleh Pemerintah Kabupaten Bangka.

Sejak Gedong ditetapkan sebagai desa wisata, dusun kecil
berpenghuni 50 keluarga itu akhirnya memang dikenal dunia luar.
Menurut Sun Liong, kadang datang wisatawan berombongan menggunakan
bus. Mereka tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga datang dari
mancanegara, seperti Taiwan.

Pengunjung yang datang ke Gedong umumnya hanya melihat-lihat
perkampungan tua yang tidak luas itu. Sebenarnya hampir tak ada yang
bisa "dijual" dari dusun itu sebagai daerah tujuan wisata. "Orang
yang datang ke sini paling-paling hanya melihat rumah tua itu dan
isinya," kata Santi sambil menunjuk satu rumah tua di depan rumah
mereka.

Rumah tua berdinding kayu dan beratap genting itu, menurut
penduduk setempat, dibangun lebih dari seabad lalu. Sejak awal rumah
itu berdiri, gedung itulah yang menjadi ciri khas Gedong. Nama dusun
itu pun mengambil nama dari rumah mentereng, besar, dan paling bagus
yang disebut warga setempat dengan nama rumah gedong.
***

TIDAK ada seorang pun warga Gedong mengetahui, sejak kapan nenek
moyang mereka tinggal di dusun itu. Mereka hanya menduga, leluhur
mereka datang ke kawasan itu sebagai penambang timah yang didatangkan
dan dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda sekitar tiga abad
lalu.

Para pendatang dari Cina daratan itu tidak hanya bekerja sebagai
penambang, tetapi juga bermukim di kawasan yang kini bernama Desa
Gedong tersebut. Penambangan timah terus berlangsung meskipun
kemudian Belanda pergi.

Kepala Dusun Gedong, Heri, yang juga warga keturunan Cina,
menyatakan, penduduknya memang mengandalkan hidup dari penambangan
timah. Namun, diakuinya hidup sebagai penambang timah tidaklah
menjanjikan sehingga sebagian besar generasi muda Gedong lebih
memilih mencari hidup ke berbagai daerah lain, termasuk merantau ke
Jakarta dan Bandung.

"Seorang anak saya sekarang bekerja di Jakarta, sedangkan adiknya
memilih tinggal di sini," katanya.

Para perantau biasanya hanya pulang setahun sekali, saat perayaan
Imlek. Ketika tahun baru Cina itu datang, mereka ingin merayakannya
bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Kampung halaman yang jauh
dari keramaian itu tetap dianggap sebagai tempat yang nyaman bagi
sebagian warga Gedong. Ahin (25), misalnya, akhirnya pulang kampung
dan menjadi penambang timah meskipun sudah beberapa tahun tinggal di
Jakarta.

Gedong memang tetap memikat bagi sebagian penduduk setempat dan
wisatawan yang pernah berkunjung. (AGUS MULYADI)

Foto: 2
Kompas/Agus Mulyadi
DESA WISATA GEDONG - Rumah-rumah tua berusia lebih dari satu abad
menjadi pemandangan khas di Gedong. Desa wisata yang dihuni warga
keturunan Cina sejak tiga abad lalu itu kini menjadi salah satu
tujuan wisata di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

JALAN RUSAK - Jalan masuk ke Desa Gedong, Kecamatan Belinyu,
Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, rusak parah
seperti yang terlihat pada Desember 2003. Padahal, desa ini sejak dua
tahun lalu ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah
setempat. Jalan yang rusak menyebabkan wisatawan enggan mampir ke
desa yang dihuni oleh warga keturunan Cina tersebut.
Image: 1
Kecamatan Belinyu

Pasir Padi, Pantai Menawan yang Nyaris Terlupakan

KOMPAS - Sabtu, 31 May 2003 Halaman: 31 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 10798 Foto: 4

PASIR PADI, PANTAI MENAWAN YANG NYARIS TERLUPAKAN

DINI, seorang mahasiswi asal Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung, pernah merasa kesal karena kesasar justru di tempat
kelahirannya itu. Dalam perjalanan menuju ke kawasan wisata Pantai
Pasir Padi, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Palembang
itu nyasar sampai sejauh empat kilometer.

SETELAH berputar-putar dan bertanya beberapa kali kepada warga
yang dilewati, Dini pun akhirnya tiba di pantai dengan hamparan pasir
putih landai tersebut. Pengalaman kesasar yang dialami itu tentu saja
membuat Dini malu dan menahan rasa kecewa kepada pengelola tempat
wisata pantai satu-satunya di ibu kota Provinsi Bangka Belitung itu.

"Masak, aku harus kesasar di kota kelahiran sendiri. Kalau aku
saja kesasar seperti itu, bagaimana orang dari daerah lain yang
hendak berkunjung ke Pasir Padi. Mereka pun tentu akan kesulitan
menemukannya," tutur Dini.

Apa yang dikemukakan Dini ada benarnya. Paling tidak, itu yang
dialami Kompas ketika hendak ke lokasi wisata yang memiliki rentang
pantai sepanjang empat kilometer itu. Perjalanan menuju Pasir Padi
terasa melelahkan dan menjengkelkan karena harus berulang kali
bertanya kepada warga di jalan yang dilintasi.

Dengan menggunakan mobil sewaan dari salah satu rental di
Pangkalpinang, perjalanan menuju Pasir Padi yang lokasinya tujuh
kilometer dari pusat kota itu menjadi terasa jauh dan melelahkan. Itu
semua terjadi karena di sepanjang jalan tidak ditemukan satu pun
rambu lalu lintas atau rambu wisata menuju Pasir Padi.

Satu-satunya rambu lalu lintas penunjuk arah hanya terdapat di
perempatan Jalan Mayor Syafri Rahman dan Jalan Bukit Intan-Jalan
Semabung. Rambu lalu lintas hanya menunjukkan arah ke Pasir Padi
melalui Jalan Semabung. Setelah itu, perjalanan hanya mengandalkan
feeling dan bertanya kepada warga yang dilintasi di jalan. Sunggguh
menyebalkan.
***

PASIR Padi merupakan salah satu pantai menawan di Pulau Bangka.
Bagi warga Pangkalpinang, kota berpenduduk sekitar 134.000 jiwa,
Pasir Padi merupakan satu-satunya tempat wisata pantai di kota itu.

Kawasan wisata yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut memiliki
sejumlah obYek wisata alam yang indah. Lebar pantainya mulai dari
sekitar 100 meter sampai 300 meter. Ombak laut yang begitu tenang
membuat pantai itu terasa aman untuk mandi.

Bagian paling selatan pantai ini bersambung pula dengan Pantai
Tanjung Bunga yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bangka Tengah.
Keindahan Pantai Pasir Padi tidak berbeda dengan pantai lain yang
menawan di seantero Pulau Bangka, pulau yang sejak berabad-abad lalu
dikenal dengan hasil tambang timah dan lada putihnya.

"Keindahan pariwisata Pulau Bangka, terutama pantai-pantainya,
tidak kalah dengan Pulau Bali. Itu pernah dinyatakan peneliti pantai
dari beberapa negara yang pernah berkunjung ke sini," kata Irawati,
Kepala Seksi Data dan Promosi Subdinas Pariwisata Provinsi Bangka
Belitung.

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Pulau Bangka,
menyetarakan pantai-pantai di pulau ini dengan pantai di Pulau Bali
barangkali dinilai agak berlebihan. Namun, ketika menginjakkan kaki
di pulau penghasil lada putih ini, pengunjung mungkin akan berdecak
kagum melihat keindahan pantainya.

Sebut saja misalnya empat pantai di daerah tetangga
Pangkalpinang, yakni Kabupaten Bangka. Di daerah itu setidaknya ada
empat pantai yang menawan, seperti Pantai Matras, Parai, Tanjung
Pesona, dan Pantai Rebo.

Namun, pengunjung yang hendak ke pantai-pantai itu tidak perlu
khawatir karena rambu lalu lintas penunjuk arah ke obyek wisata
dipasang di beberapa tempat. Pengunjung tidak perlu takut kesasar
seperti saat hendak ke Pasir Padi.

Irawati mengakui, pihaknya belum memikirkan penyediaan rambu
wisata pemberi petunjuk ke Pasir Padi. Dia memberi alasan, dengan
baru satu tahun Provinsi Bangka Belitung terbentuk, soal rambu wisata
belum masuk dalam hitungan. "Itu memang belum terpikirkan oleh kami,"
katanya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang Iziono
menyatakan hal senada. Soal rambu wisata yang begitu penting bagi
pengunjung tersebut memang masih terabaikan. Alasan yang
dikemukakannya tentu saja berbeda dengan Irawati. "Kami terbentur
masalah dana untuk menyediakan rambu-rambu wisata tersebut," ujarnya.

Menurut Iziono, instansinya akan bekerja sama dengan salah satu
bank untuk membuat rambu-rambu tersebut. Tawaran telah diberikan,
namun jawaban pasti kapan pemasangannya belum diketahui. "Pihak bank
bisa mencantumkan nama perusahaannya di rambu-rambu wisata yang
dipasang tersebut," ujarnya.

Tersedianya rambu-rambu wisata memadai yang bisa menunjukkan
lokasi Pasir Padi atau lokasi wisata lain di Pangkalpinang setidaknya
akan mengingatkan pendatang bahwa di kota itu ada tempat wisata
pantai. Bagi mereka yang tiba di Pangkalpinang dengan menggunakan
pesawat di Bandara Depati Umar, bisa pula mampir terlebih dahulu ke
Pasir Padi sebelum berkunjung ke lokasi lain.

Pasir Padi sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata utama karena
lokasinya masih berada di dalam kota. Pengunjung dari luar daerah
atau mancanegara, baik yang tiba melalui Depati Umar maupun Pelabuhan
Pangkalan Balam, bisa langsung ke pantai itu. Wisatawan yang datang
melalui Pelabuhan Muntok di Bangka Barat pun bisa langsung ke Pasir
Padi sebelum ke lokasi wisata pantai lainnya.

***
KEINDAHAN Pantai Pasir Padi akhirnya memang seperti terabaikan
karena pengelolaannya kurang bagus. Padahal, pantai itu menyimpan
keindahan yang menawan. Sampai sekarang, mungkin hanya penduduk
Pangkalpinang dan sekitarnya yang bisa menikmatinya, di samping
sebagian kecil pendatang dari luar daerah.

Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab mengapa pantai itu
hanya ramai dikunjungi warga setempat. Itu pun hanya terjadi pada
setiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, pengunjung hanya datang
pada sore hari dengan jumlah rata-rata kurang dari 100 orang.

Pengunjung rutin yang menikmati keindahan pantai itu adalah
puluhan anak muda yang bertempat tinggal di desa-desa sekitar pantai.
Mereka datang bukan untuk mandi di pantai atau sekadar berjemur,
tetapi bermain sepak bola.

Pengunjung lain yang rutin pada sore hari bertandang ke Pasir
Padi juga berasal dari kalangan anak muda dengan berkendaraan sepeda
motor. Sambil mejeng mereka menikmati keindahan pantai, atau saling
tancap gas di atas pasir pantai yang tidak lembek saat dilindas roda
kendaraan.

Mobil-mobil pengunjung pun dengan bebas berlalu lalang di
hamparan pasir pantai. Kerasnya pasir pantai, baik yang basah maupun
yang kering, menyebabkan roda tidak amblas ke dalam pasir. Kondisi
seperti itu yang membuat mereka berani bermobilria di pantai. Malah,
sebagian pengunjung datang hanya untuk belajar menyetir mobil!

Di Pantai Pasir Padi pengunjung juga bisa berlayar di perairan
pantai. Mereka bisa menuju dua pulau kecil yang letaknya hanya dua
mil dari bibir pantai, yakni Pulau Panjang dan Pulau Semajun. Di
Pulau Panjang pengunjung bisa menikmati masakan makanan laut, seperti
ikan bakar, kepiting, dan sebagainya. Di pulau itu tinggal beberapa
keluarga nelayan, sementara Pulau Semajun tidak berpenghuni.

Keindahan alam yang ditopang kelebihan berupa pasir padat di
pantai itu ternyata belum mampu memancing lebih banyak wisatawan dari
luar daerah atau mancanegara. Wisatawan yang datang umumnya hanya
wisatawan lokal, Pangkalpinang maupun dari daerah sekitarnya saja.

Sekretaris Kota Pangkalpinang Zulkarnaen Karim mengatakan, Pasir
Padi memang hanya banyak dikunjungi oleh
kalangan "wiski". "Pengunjung yang datang ke Pasir Padi memang masih
dari kalangan ÆwiskiÆ, wisatawan mriki," katanya sambil tertawa.

Wisatawan mriki yang dimaksudkan Zulkarnaen adalah wisatawan lokal.
Dia berharap, Pasir Padi tidak hanya dikunjungi wisatawan dari
kalangan warga setempat. Suatu saat, Pantai Pasir Padi akan dibanjiri
wisatawan dari provinsi lain dan dari mancanegara.

Pemerintah Kota Pangkalpinang, menurut Zulkarnaen Karim, akan
menjadikan Pasir Padi sebagai kawasan wisata dengan fasilitas memadai
agar bisa menarik wisatawan. Sejumlah perbaikan akan dilakukan untuk
mewujudkannya.

"Kalau turis yang datang ke Bali pasti berkunjung ke Pantai Kuta,
nantinya turis ke Bangka pun akan berkunjung ke Pasir Padi terlebih
dahulu sebelum ke lokasi lain. Pasir Padi akan menjadi ÆPantai KutaÆ-
nya Pulau Bangka," ucap Zulkarnaen.

Kawasan pantai itu sebenarnya sudah dilengkapi sejumlah fasilitas
memadai, khususnya hotel berbintang dua, beberapa rumah makan, dan
sejumlah warung makan dan minum. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat
tempat hiburan karaoke dan diskotek.

Namun, fasilitas lain yang begitu penting bagi pengunjung,
seperti toilet, sampai sekarang belum ada. Mungkin karena itu pula,
Pasir Padi menjadi tidak menarik bagi pengunjung.

Bagaimana mau menikmati pantai, melepas kepenatan, dan bergembira
jika untuk mencari toilet saja susahnya bukan main. Jika tidak
dikelola secara profesional, Pasir Padi tentu akan semakin
ditinggalkan, dan akhirnya dilupakan. (AGUS MULYADI)

Foto: 4
Kompas/Agus Mulyadi
LALU LALANG DI PANTAI - Pantai Pasir Padi yang tidak gembur membuat
kendaraan roda dua dan empat bisa melintas di atasnya. Pengunjung
berkendaraan dengan bebas berlalu lalang di pantai tanpa takut roda
kendaraan amblas ke dalam pasir. Di kejauhan di perairan pantai,
tampak melintas dua kapal yang sedang berlayar menuju ke Pelabuhan
Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, yang terletak di sebelah utara
kawasan pantai ini.

KANDAS - Perahu motor yang biasa membawa pengunjung Pantai Pasir Padi
untuk berperahu di perairan pantai kandas di hamparan pasir. Pemilik
perahu motor itu harus menunggu air pasang naik agar bisa kembali
melaut.

KINI JADI HOTEL - Pesanggrahan Menumbing di Kecamatan Mentok, Pulau
Bangka, menjadi salah satu tujuan wisata di daerah itu. Gedung yang
dibangun di atas Bukit Menumbing ini pada tahun 1949 menjadi tempat
pengasingan Presiden RI pertama, Soekarno, dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta. Pesanggrahan itu kini menjadi hotel dengan nama Jati
Menumbing.

BERMAIN BOLA - Sekelompok pengunjung Pantai Pasir Padi memanfaatkan
waktu mereka dengan bermain sepak bola di pantai berpasir. Kerasnya
pasir di pantai itu membuat mereka bisa dengan bebas mempertontonkan
kebolehannya. Mereka bergembira bersama di atas pantai yang landai
dan indah.
Image: 1
Peta Provinsi Bangka Belitung