KOMPAS - Sabtu, 28 Apr 2007 Halaman: 39 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5110
Indonesia
OH, TSUNAMI YA...
"From China...? Taiwan...? Japan...? Filipina...?" Berkali-kali
sapaan seperti itu muncul selama beberapa hari menyempatkan diri
berputar-putar di Medina, kawasan kota tua di Tunis, ibu kota
Tunisia, pada pekan pertama dan kedua April lalu.
sapaan seperti itu muncul selama beberapa hari menyempatkan diri
berputar-putar di Medina, kawasan kota tua di Tunis, ibu kota
Tunisia, pada pekan pertama dan kedua April lalu.
Terkadang, para penegur yang umumnya pedagang cendera mata malah
menyapa dengan pertanyaan "Kamboja?" Kadang-kadang pula, mereka pun
menambahkan "Jet Lee", mengacu kepada bintang laga asal Hongkong.
menyapa dengan pertanyaan "Kamboja?" Kadang-kadang pula, mereka pun
menambahkan "Jet Lee", mengacu kepada bintang laga asal Hongkong.
Saat sapaan-sapaan itu dijawab dengan jawaban bahwa saya dan
beberapa kawan berasal dari Indonesia, mereka memang langsung
mengetahuinya. Namun, bukan langsung menyebut ke negara kita yang
begini besar, tetapi dengan mengucapkan kalimat, "Oh, tsunami. ya.
tsunami."
beberapa kawan berasal dari Indonesia, mereka memang langsung
mengetahuinya. Namun, bukan langsung menyebut ke negara kita yang
begini besar, tetapi dengan mengucapkan kalimat, "Oh, tsunami. ya.
tsunami."
Bencana besar
Bencana alam terbesar sepanjang masa di Bumi itulah yang rupanya
mengingatkan pedagang-pedagang di kawasan Medina terhadap Indonesia.
Pengalaman yang sama kami jumpai pula saat berkunjung ke beberapa
kota di negara Afrika utara itu, seperti Hammamet, Sousse, Kairouan,
Douz, Matmata, dan Djerba. Semuanya mengenal atau mengingat Indonesia
dari bencana alam terbesar yang terjadi di Aceh pada Desember 2004
itu.
Bencana alam terbesar sepanjang masa di Bumi itulah yang rupanya
mengingatkan pedagang-pedagang di kawasan Medina terhadap Indonesia.
Pengalaman yang sama kami jumpai pula saat berkunjung ke beberapa
kota di negara Afrika utara itu, seperti Hammamet, Sousse, Kairouan,
Douz, Matmata, dan Djerba. Semuanya mengenal atau mengingat Indonesia
dari bencana alam terbesar yang terjadi di Aceh pada Desember 2004
itu.
Warga Tunisia yang hampir semuanya beragama Islam (sekitar 99,5
persen), saat bertemu di tempat wisata, hotel, atau rumah makan,
bahkan tidak tahu kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk
beragama Islam terbesar di dunia. Mereka terlihat sedikit terkejut
saat diberi tahu bahwa warga Muslim di Indonesia sekitar 200 juta!
Kenyataan ini menyadarkan saya serta empat wartawan lain dan juga
belasan pengelola agen perjalanan dari Indonesia bahwa negara kita
tidak begitu dikenal di Tunisia. Meskipun punya kedekatan sejak
sebelum negara itu merdeka dari penjajahan Perancis pada Juli 1957,
nyatanya saat ini Indonesia kurang begitu dikenal. Entah salah siapa
ini.
Dari sekian banyak warga Tunisia sekarang yang bertemu dalam
perjalanan Fam Trip dari Indonesia tersebut, hanya seorang yang
sedikit mengenal Indonesia. Dia adalah Solah (37), sopir yang
mengemudikan salah satu mobil yang mengantar kami sedikit
berpetualang di sebagian kecil Gurun Sahara. Solah bahkan mengaku
mengenal sosok Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama RI.
perjalanan Fam Trip dari Indonesia tersebut, hanya seorang yang
sedikit mengenal Indonesia. Dia adalah Solah (37), sopir yang
mengemudikan salah satu mobil yang mengantar kami sedikit
berpetualang di sebagian kecil Gurun Sahara. Solah bahkan mengaku
mengenal sosok Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama RI.
Kembali saling mengenalkan
Fakta tidak begitu dikenalnya Indonesia oleh warga negara sahabat
lama tersebut yang mendorong Konsul Kehormatan Tunisia di Yogyakarta
Moetaryanto Poerwoaminoto membuka jalur wisata ke negara itu.
Dengan tujuan meningkatkan hubungan antarmanusia kedua negara itu
pula, Pemerintah Tunisa mengangkat Moetaryanto sebagai konsul
kehormatan pada 15 Juni 2005. Pilihan penunjukan sebagai konsul
kehormatan kepada warga negara Indonesia itu tentu dengan
pertimbangan matang, terutama karena jauh lebih mengenal karakter
bangsanya sendiri.
Fakta tidak begitu dikenalnya Indonesia oleh warga negara sahabat
lama tersebut yang mendorong Konsul Kehormatan Tunisia di Yogyakarta
Moetaryanto Poerwoaminoto membuka jalur wisata ke negara itu.
Dengan tujuan meningkatkan hubungan antarmanusia kedua negara itu
pula, Pemerintah Tunisa mengangkat Moetaryanto sebagai konsul
kehormatan pada 15 Juni 2005. Pilihan penunjukan sebagai konsul
kehormatan kepada warga negara Indonesia itu tentu dengan
pertimbangan matang, terutama karena jauh lebih mengenal karakter
bangsanya sendiri.
Pariwisata Tunisa adalah salah satu yang hendak diperkenalkan
kepada Indonesia. Alasannya, di negara itu terdapat banyak
peninggalan sejarah penyebaran dan perkembangan Islam. Kedekatan
inilah yang mendorong Pemerintah Tunisia mencoba menjual pariwisata
negaranya kepada Indonesia.
Kesempatan untuk itu terbuka dan sangat memungkinkan karena
setiap tahun banyak umat Islam asal Indonesia yang melakukan ibadah
umroh di Tanah Suci. Sebagian di antara mereka, melakukannya dalam
perjalanan umroh plus yang dikelola agen-agen perjalanan di Tanah Air.
setiap tahun banyak umat Islam asal Indonesia yang melakukan ibadah
umroh di Tanah Suci. Sebagian di antara mereka, melakukannya dalam
perjalanan umroh plus yang dikelola agen-agen perjalanan di Tanah Air.
Menurut Tinny Prayogi dari agen perjalanan Tima Wisata, paket
dengan tawaran ke Tunisia bukan hal yang tidak mungkin. Dia malah
menganggapnya sebagai peluang baru untuk menjaring lebih banyak orang
melaksanakan ibadah umroh plus wisata ke Tunisia itu.
dengan tawaran ke Tunisia bukan hal yang tidak mungkin. Dia malah
menganggapnya sebagai peluang baru untuk menjaring lebih banyak orang
melaksanakan ibadah umroh plus wisata ke Tunisia itu.
Optimisme menjaring wisatawan dari Indonesia tidak hanya datang
dari pengelola perjalanan umroh. Meriani Widiari dari Vaya Tour dan
Elfita Sigarlaki Tan dari Bayu Buana yang biasa menyelenggarakan
perjalanan wisata ke negara-negara di Eropa pun menyatakan optimisme
yang sama.
dari pengelola perjalanan umroh. Meriani Widiari dari Vaya Tour dan
Elfita Sigarlaki Tan dari Bayu Buana yang biasa menyelenggarakan
perjalanan wisata ke negara-negara di Eropa pun menyatakan optimisme
yang sama.
Mereka merasa yakin keindahan bumi Tunisia dapat dijual kepada
wisatawan asal Indonesia. Perjalanan ke Tunisia dapat dijadikan satu
paket dengan wisata ke Eropa. Apalagi perjalanan udara dari Roma,
Italia, ke Tunis hanya 45 menit.
Tawaran wisata yang ditawarkan pengelola perjalanan umroh tentu
saja berbeda dengan wisata umum. Tinny, misalnya, menyatakan rasa
optimismenya karena di Tunisia banyak ditemui masjid-masjid
bersejarah, seperti di Medina dan Kairouan.
saja berbeda dengan wisata umum. Tinny, misalnya, menyatakan rasa
optimismenya karena di Tunisia banyak ditemui masjid-masjid
bersejarah, seperti di Medina dan Kairouan.
Dengan akan berdatangannya wisatawan asal Indonesia ke Tunisia,
beberapa tahun ke depan niscaya tidak ada lagi sapaan-sapaan
menyebalkan saat bertemu orang Indonesia. Masak negara yang begini
besar kalah dikenal dibandingkan dengan Kamboja, misalnya.
Sebaliknya, dengan berdatangannya wisatawan Indonesia ke Tunisia,
bakal menjaring warga negara itu untuk berkunjung ke Indonesia,
termasuk ke Nanggroe Aceh Darussalam yang mereka kenal dengan bencana
tsunaminya.
"Dari Indonesia...? Ya, saya dari Indonesia, salah satu negara
terbesar di dunia." (AGUS MULYADI)
terbesar di dunia." (AGUS MULYADI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar