



KOMPAS - Minggu, 13 May 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 1425 Foto: 1
KETEGANGAN DI PUNGGUNG UNTA
Perjalanan di Gurun Sahara tentu tidaklah lengkap jika tidak
dilakukan dengan naik di punggung unta seperti para musafir dahulu
kala. Maka, keesokan harinya, saat kami kembali berada di Douz,
perjalanan di gurun dengan menggunakan hewan khas gurun pasir itu
dilakukan.
Unta yang kami naiki dipandu oleh seorang penduduk setempat.
Perjalanan lambat di atas pasir di punggung hewan-hewan berpunuk
tersebut tidak kalah menegangkan. Hamparan gurun pasir yang tidak
rata, berbukit-bukit kecil, membuat penumpang di atas punggung unta
kerap terguncang.
Tanpa pegangan kuat di pegangan kayu di punggung unta, niscaya
akan membuat saya atau penumpang lainnya terjatuh, terguling di atas
pasir, atau terinjak kaki hewan yang konon memiliki sifat pendendam
terhadap orang yang menyakitinya.
"Orang-orang zaman dahulu kala tentu seperti ini saat melintasi
gurun pasir. Semua yang terlihat hanyalah hamparan pasir. Di mana-
mana pasir," kata Meriana Wiriadi, peserta Fam Trip dari Vayatour.
Semua yang terlihat memang hanyalah pasir. Para musafir dahulu
kala tentu tersiksa dalam perjalanan dan selalu berharap dapat
bertemu oase seperti di Chebika, yang dapat memperpanjang hidup dan
perjalanan mereka.
Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Di tengah gurun, di perbukitan bebatuan, terdapat oase yang masih
terus mengucurkan air, di kawasan Chebiki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar