Rabu, 22 Oktober 2008











KOMPAS - Minggu, 13 May 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7025 Foto: 3
MELONGOK OASE, MELINTASI SAHARA
Oleh Agus Mulyadi





Angin kencang yang menerbangkan debu pasir tebal menghadang
perjalanan kami dari Kebili menuju Tozeur, dua kota di bagian selatan
Tunisia. Debu yang mengalangi jalan berasal dari hamparan pasir
mahaluas di Chott El Jerid, bekas danau garam yang telah mengering,
pekan kedua April lalu.
Namun, sopir yang membawa kami tetap menjalankan kendaraan pada
kecepatan sekitar 100 kilometer per jam, mengikuti mobil di depan
kami. Beberapa kilometer selepas itu, Fatih, sopir asal Djebra, pulau
di Laut Tengah di pantai timur Tunisia, menghentikan mobil Nissan
Patrol yang saya tumpangi, sekadar untuk beristirahat selama 15 menit.
Demikian pula empat mobil lain, semuanya jenis Toyota Land
Cruiser, yang membawa rombongan Fam Trip dari Indonesia.
Lokasi peristirahatan tersebut terletak persis di rambu jalan
yang menunjukkan negara tetangga Aljazair terletak 150 kilometer lagi
di depan. Sementara lokasi Kebili Tozeur berjarak 526 kilometer dan
620 kilometer perjalanan darat dari Kota Tunis.
Perjalanan melalui jalan mulus yang membelah Chott El Jerid
adalah awal dari perjalanan memukau di sebagian kecil Gurun Sahara.
Tur di gurun terbesar di Benua Afrika tersebut diawali dari tempat
kami menginap di Douz, kota yang terletak 28 kilometer selatan Kebili.
Perjalanan mobil-mobil dengan kapasitas besar tersebut kerap
berpapasan dengan mobil sejenis yang membawa wisatawan mancanegara,
kebanyakan dari Perancis, Jerman, Italia, dan Inggris. Bahkan dalam
perjalanan kami siang hari itu sempat berpapasan pula dengan mobil-
mobil peserta reli gurun.
Di sejumlah lokasi, terdapat rambu-rambu yang mengingatkan
pengendara terhadap bahaya hewan unta menyeberang jalan. Kerap
ditemui pula sekumpulan hewan itu di padang pasir di kanan dan kiri
jalan.
Sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri hanya terhampar padang
pasir yang sebagian ditumbuhi rumput khas di kawasan seperti itu.
Setelah melewati tiga kota kecil di ujung Chott El Jerid, yakni El
M'hassen, Deguache, dan Hammet El Jerid, beberapa kilometer sebelum
memasuki Tozeur, mobil yang kami tumpangi berbelok ke kanan menuju ke
arah Tamerza, kota yang terletak di dekat perbatasan Aljazair. Namun,
sebelum tiba di lokasi itu, kami terlebih dahulu mampir di Chebiki.
Di perbukitan ini terdapat satu oase yang masih mengucurkan air.
Sulit dipercaya, di tengah hamparan gurun itu masih terdapat mata air
yang terus mengalir, di tengah-tengah pepohonan kurma yang saat itu
kebetulan tengah berbuah.
Oase di tengah padang pasir seperti inilah yang berabad-abad lalu
menjadi tempat para musafir atau kafilah pedagang beristirahat.
Setelah dipanggang terik matahari dan diterpa badai gurun, oase
menjadi tempat beristirahat yang sangat mahal. Air yang diambil dari
oase seperti itulah yang menjadi perbekalan dalam perjalanan
selanjutnya, termasuk untuk unta yang mereka naiki.
"Inilah kebesaran Tuhan. Di tengah padang pasir seperti ini
terdapat oase dengan air tawar yang jernih," ucap Silviana, peserta
Fam Trip dari Avia Tour.
Ketika kami tiba di oase Chebiki, ratusan wisatawan yang
menggunakan puluhan mobil sejenis dengan yang kami naiki telah
terlebih dahulu tiba. Dari lokasi parkir di tepi jalan, kami berjalan
kaki menuju oase melalui jalan setapak bebatuan sempit, tetapi bisa
dilewati pengunjung secara berpapasan.
Di Chebiki, pengunjung dapat pula melakukan pendakian di lereng
perbukitan bebatuan terjal. Di lokasi tertinggi yang dapat didaki,
sejauh mata memandang terlihat hamparan gurun.
Beberapa kilometer dari Chebiki terdapat pula satu oase lain. Air
mengalir, terjun dari ketinggian sekitar 10 meter, membentuk danau
dengan luas hanya sekitar lima meter persegi di bawahnya.
"Star Wars Episode I"
Dari kawasan Chebiki, perjalanan selanjutnya menembus kawasan
Sahara bagian utara yang terletak di antara kota-kota Tozeur, Nefta,
dan Tamerza. Sebelumnya kami sempat singgah di Tamerza Palace untuk
makan siang sambil menikmati pemandangan bekas rumah-rumah penduduk
masa lalu yang telah hancur diterpa badai di bukit seberang.
Tamerza kami tinggalkan, lalu mampir di perkampungan suku Berber,
penduduk asli padang pasir Tunisia. Lokasi permukiman terbuat dari
batu tersebut berada persis di tepi ngarai menawan. Lereng alam
tersebut terlihat berlapis-lapis seperti susunan batu bata.
"Luar biasa, ini benar-benar indah," kata Lulu, peserta Fam Trip
lain dari Pan Travel, sambil memandang ke arah lereng berliku di
bawahnya.
Dari ngarai itu, perjalanan kami selanjutnyalah yang paling
mengesankan. Kali ini, perjalanan tidak lagi melalui jalan mulus,
tetapi langsung menembus sebagian kecil Gurun Sahara. Jalan yang kami
lalui hanya berupa lapisan pasir paling keras karena setiap hari
dilalui ratusan mobil yang membawa wisatawan dalam perjalanan di
gurun.
Di beberapa lokasi gundukan pasir, Fatih kadang sengaja menyeret
kami dalam ketegangan yang cukup mencekam, dengan membawa mobil ke
arah bukit-bukit kecil dengan kemiringan hingga 80 derajat. Di lokasi
lain, mobil yang kami lalui kadang menaiki atau menuruni bukit
berpasir.
Teriakan-teriakan kekhawatiran dari empat penumpang di dalam
mobil tidak menyurutkan Fatih untuk terus mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi di atas pasir.
Kadang-kadang Fatih malah menghentikan mobil di tepi lereng
pasir, dengan risiko kendaraan terguling ke bawah. Laki- laki yang
hanya bisa berbahasa Arab itu cuma senyum-senyum melihat kekhawatiran
para penumpangnya.
Setelah kembali menembus perjalanan tetap melalui hamparan pasir
mahaluas di bawah terik matahari, kami tiba di lokasi yang dari
kejauhan terlihat seperti rumah-rumah penduduk terbuat dari batu
berplester lumpur. Saat tiba di lokasi itu, 10 mobil Toyota Land
Cruiser lain telah diparkir dan penumpangnya telah turun untuk
melihat-lihat bangunan tua di tengah gurun tersebut.
Lokasi yang menjadi tempat peristirahatan sekitar 15 menit mobil-
mobil wisata gurun tersebut adalah bekas tempat shooting salah satu
episode film layar lebar Star Wars Episode I, The Phantom Menace.
Bekas lokasi shooting film itu dibiarkan utuh dan menjadi tujuan
wisata petualangan di bagian utara Gurun Sahara yang terdapat di
wilayah Tunisia.
Dari lokasi itu perjalanan selanjutnya kembali melalui gurun
pasir dan di beberapa tempat kami menemui sekumpulan unta. Akhir dari
perjalanan di gurun tersebut adalah ruas jalan mulus yang
menghubungkan antara kota Nefta dan Tozeur.
Image: 1
Peta Tunisia
Foto: 3
Foto-foto: Kompas/Agus Mulyadi
1. Dihadang debu pasir tebal saat melintasi Chott El Jerid, bekas
danau air garam.
2. Mobil-mobil berkapasitas mesin besar yang digunakan untuk Tur
Sahara.

Tidak ada komentar: