Selasa, 21 Oktober 2008




KOMPAS - Senin, 16 Apr 2007 Halaman: 25 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 3446 Foto: 1
Jalur Pedestrian
BERJALAN-JALAN NYAMAN DI TUNIS
Oleh Agus Mulyadi
Angin bertiup perlahan di jalan Habib Bourguiba Avenue, Tunis,
pada pekan pertama April lalu. Suhu yang masih sekitar 12 derajat
Celsius menyebabkan rasa dingin masih terasa menusuk kulit.
Namun, rasa itu tidak terlalu mengganggu pejalan kaki di
sepanjang jalan utama di ibu kota Tunisa tersebut. Begitu banyak
manusia yang berjalan kaki di kedua sisi jalan dan bagian tengah
jalan seakan menimbulkan kehangatan pengusir dingin, selain jaket
kulit atau pakaian tebal yang mereka pakai.

Manusia yang berlalu lalang merasa nyaman berjalan kaki karena
tidak ada gangguan, seperti yang terjadi di Jakarta. Jalur pedestrian
yang ada di kota itu cukup memanjakan para pejalan kaki karena dibuat
lebih lebar dari jalan di tengah-tengahnya.

Di Habib Bourguiba Avenue dengan panjang sekitar satu kilometer
hingga jalan terusannya Avenue de France dengan panjang sekitar 300
meter, tak henti orang hilir mudik berjalan kaki. Jalur pedestrian
lebih luas terdapat di ujung jalan yang berakhir di gerbang Bab Bhar
atau yang lebih dikenal dengan nama Porte de France. Di antara
gerbang itu dengan kawasan Medina, kota tua di Tumis, terdapat jalur
pedestrian lebih luas, yang dilengkapi dua kafe terbuka.

Di beberapa lokasi di jalur pedestrian Avenue de France dan Habib
Bourguiba Avenue terdapat kafe-kafe terbuka, menjadikan tempat itu
lebih nyaman. Pejalan kaki dapat melepas lelah, baik sekadar minum
kopi maupun menikmati makanan ringan, sambil duduk-duduk di kafe
terbuka.
Kondisi yang hampir sama dapat dijumpai di beberapa ruas jalan
lebih kecil di sekitar dua jalan utama Tunis itu, antara lain Paris
de Avenue dan Mohamed V Avenue.

Namun, berbeda dengan suasana di kota lain di dunia, seperti
Singapura dan Milan, di jalur pedestrian di ibu kota Tunisia
berpenduduk kurang dari satu juta jiwa itu banyak ditemui puntung
rokok. Sebagian pejalan kaki memang dengan bebas merokok dan kadang
seenaknya membuang puntung di mana pun.

"Satu persamaan antara Tunis dan Jakarta adalah sama-sama bebas
untuk merokok, lainnya beda," kata Teguh, kamerawan televisi swasta
di Jakarta.

Sebagai sama-sama negara berkembang, Pemerintah Tunisia lebih
memerhatikan kenyamanan warganya, termasuk warga Kota Tunis.
Pemerintah tahu betul bagaimana menjadikan kota sebagai tempat
tinggal yang nyaman, termasuk bagi jutaan turis per tahun yang datang.

Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia, khususnya Jakarta. Jalur
pedestrian yang lebar, teduh, dan nyaman hanya tetap impian. Bahkan,
jalur pedestrianalias trotoar yang menjadi hak pejalan kaki secara
semena-mena dikuasai pengendara sepeda motor pada saat jam sibuk.
Orang pun seenaknya membuka warung, bengkel, dan lainnya. Trotoar
yang sempit pun habis diambil alih.

Jakarta dengan luas 650 kilometer persegi dan penduduk 7,5 juta
lebih memang tidak bisa dibandingkan dengan Tunis yang luasnya 346
kilometer persegi. Namun, kenyamanan jalur pedestrian di kota itu,
juga kota lain di dunia, bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya
tempat khusus pejalan kaki itu dikelola.

Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Jalur pedestrian di Avenue de France, Tunis, yang lebar membuat
nyaman pejalan kaki, seperti terlihat 10 April lalu. Kondisi ini
berbeda jauh dengan Jakarta.

Tidak ada komentar: