Rabu, 22 Oktober 2008

Dari Carthage Hingga Sahara





































KOMPAS - Sabtu, 28 Apr 2007 Halaman: 39 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 8614 Foto: 1
Wisata Tunisia









DARI CARTHAGE HINGGA SAHARA
Oleh Agus Mulyadi

Sungguh eksotik. Perpaduan budaya beberapa bangsa di dunia telah
membuat Tunisia sedikit berbeda dengan bngsa-bangsa di sekitarnya.
Warna lain begitu kental memengaruhi kehidupan negara ini sehingga
membuatnya sedikit berbeda dengan negara Arab lainnya di Afrika Utara.
Perpaduan berbagai budaya berbeda tersebut paling tidak terlihat
dari banyaknya peninggalan peradaban masa lampau di berbagai kawasan
di negara dengan luas 164.150 kilometer persegi itu. Kuatnya pengaruh
budaya asing di negara berpenduduk sekitar 10 juta itu saat ini
adalah pemakaian bahasa Perancis sebagai bahasa kedua sehari-hari
selain bahasa Arab.

Banyaknya peninggalan masa lalu dapat dengan mudah dijumpai,
bahkan di pusat kota Tunis, ibu kota Tunisa, sekalipun. Saat berjalan-
jalan di dua jalan utama pusat kota, yakni Habib Bourguiba Avenue dan
Avenue de France, pengunjung dapat langsung bertemu dengan salah satu
peninggalan itu, yakni Bab Bahr atau lebih dikenal dengan sebutan
Pourte de France.

Ini adalah pintu masuk menuju Masjid Ezzitouna yang dibangun pada
tahun 732 Masehi oleh Ubaidillah bin al-Habhab, Gubernur Afrika pada
masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah. Masjid
di tengah pasar di kota tua Medina ini punya nilai sejarah sebagai
pusat dakwah Islam.

Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Tunis menyempatkan
diri melihat Masjid Ezzitouna, selain berbelanja suvenir di kawasan
Medina.

Masih di Tunis, perjalanan wisata dapat dilakukan sambil
mengenang perjalanan sejarah negara itu dengan mundur ke belakang
sebelum masa Islam. Museum Bardo menyimpan peninggalan peradaban-
peradaban yang hidup di Tunisia, mulai dari masa prasejarah hingga
masa kekuasaan kerajaan Phoenician dan Romawi. Sejumlah arca
peninggalan bisa ditemui di museum ini.

Sementara peninggalan paling nyata dari kekuasaan dua penguasa
berbeda tersebut dapat dengan jelas ditemui di kompleks reruntuhan
Carthage yang terletak di bagian utara Tunis. Bekas reruntuhan ini
memiliki pemandangan menawan karena berada di tepi pantai Laut Tengah
(Mediterania).

Sejumlah peninggalan masa kekuasaan Phoenician dan Romawi bisa
disaksikan di sini, berupa reruntuhan bangunan kuno bekas istana
berarsitektur Romawi, amfiteater, pemandian Antoni, dan bekas
pelabuhan Phoenic. Carthage atau juga disebut Kartago adalah kerajaan
yang berdiri sekitar tahun 814 Sebelum Masehi (SM). Kemunduran
Carthage terjadi pada abad ke-2 SM sehingga menyebabkan saling
bergantinya kekuasaan di sana.

Ketika Romawi melakukan ekspansi ke seberang lautan, ke benua
Afrika, wilayah Tunisia menjadi pusat kerajaan di selatan.
Teritorinya meliputi bekas wilayah kekuasaan Carthage. Pada tahun 439
Masehi hingga 533 Masehi, Tunisia dikuasai pasukan Vandal. Namun,
kemudian kembali ditaklukkan oleh Kerajaan Roma Byzantium pada 533-
647 Masehi.

Peninggalan masa lalu sebelum masuknya Islam itu dapat disaksikan
di kompleks Cartaghe atau juga di El Jem, kota di bagian selatan
Tunisia, berupa amfiteater yang masih digunakan untuk sejumlah konser
musik hingga sekarang.

Masih di bagian utara Tunis yang terletak menghadap ke timur ke
arah Laut Tengah, terdapat pula obyek wisata Sidi Bou Said. Nama ini
adalah nama seorang ulama sufi yang diabadikan menjadi nama kompleks
permukiman penduduk. Bangunan di kawasan ini terlihat khas
bermotifkan Andalusia (Spanyol), dengan dominasi warna putih di
dinding dan warna biru di pintu dan jendela. Dari perbukitan inilah,
pemandangan teluk di bawahnya jelas terlihat.

Penyebaran Islam
Peninggalan sejarah lain di Tunisia yang dapat disaksikan tentu
saja tentang perjalanan penyebaran agama Islam di Afrika itu sendiri.
Selain di kawasan kota tua Medina, lokasi penting lain adalah di kota
Kairouan (153 kilometer selatan Tunis). Kota bersejarah ini didirikan
Uqbah bin Nafi RA, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang
memimpin penyebaran Islam di benua Afrika pada tahun 670 Masehi atau
50 Hijriah.

Wisatawan dapat melihat peninggalannya berupa masjid tertua di
Afrika, yang dinamai Masjid Uqbah bin Nafi. Sumber lain menyebut,
masjid ini adalah masjid tertua kedua di benua Afrika setelah masjid
Amr bin Asd di Fushfat, Mesir. Peninggalan lain di Kairouan yang
sekarang menjadi pusat pendidikan agama Islam di Tunisia adalah
kompleks makam sahabat Abu Zam'a Balawi. Kairouan juga dikenal
sebagai daerah penghasil kerajinan permadani.

Para penyebar agama Islam di Afrika itu masuk ke Kairouan melalui
Sousse (143 kilometer selatan Tunis), kota di pesisir timur Tunisia.

Wisata belanja
Pariwisata Tunisia tentu saja tidak terlepas dari wisata belanja.
Berbagai macam jenis kerajinan, yang sebagian mungkin diimpor dari
negara lain termasuk Indonesia dan China, dapat ditemui di berbagai
lokasi wisata.

Selain di Medina, wisata belanja aneka suvenir dapat ditemukan
juga di, antara lain, Hammamet, Sousse, Carthage, Sidi Bou Said,
Kairouan, Douz, Touzer, Tamerza, Matmata, dan Pulau Djerba.
Di Hammamet (60 kilometer selatan Tunis) terdapat kompleks wisata
dan perbelanjaan suvenir, tidak ubahnya seperti Dunia Fantasi di
Ancol, Jakarta. Sementara di Sousse malah terdapat pusat perbelanjaan
cenderamata cukup besar. Di tempat-tempat ini, wisatawan bisa
mendapatkan aneka suvenir, mulai dari patung unta, gelang, gantungan
kunci, t-shirt, hingga jaket kulit.

"Ini cocok untuk turis asal Indonesia yang suka belanja. Tawaran
wisata belanja harus dimasukkan dalam paket wisata yang ditawarkan,"
kata Evi Prabandari, dari Gullivers Travel Associates (GTA).
Rombongan agen perjalanan dari Indonesia yang berkunjung ke
Tunisia dua pekan pertama April lalu membuktikan ucapan Evi. Di
hampir semua obyek wisata, perjalanan ke tempat berikutnya selalu
molor karena rombongan pengelola agen perjalanan itu pun selalu saja
lupa waktu saat berbelanja suvenir.

Amel, dosen perempuan berusia 32 tahun di salah satu perguruan
tinggi di Tunis yang menjadi pemandu, kerap merasa kesal karena
keasyikan belanja para turis dadakan tersebut.

Belanja suvenir memang memanjakan wisatawan dan telah lama
menjadi obyek yang ditawarkan kepada turis. Namun, wisata belanja di
Tunisia hanyalah pelengkap dari bermacam jenis wisata yang dapat
dinikmati, termasuk oleh wisatawan asal Indonesia nanti.
Gurun Sahara
Klimaks kunjungan wisata di Tunisia tentunya adalah perjalanan di
sebagian kecil Gurun Sahara, selain melihat oase di tengah gurun,
pantai, dan hamparan perkebunan zaitun, atau tarian khas seperti tari
perut.

Tarian yang dipersembahkan perempuan-perempuan cantik berwajah
campuran Arab dan Eropa tersebut dapat ditemui di tempat-tempat
khusus di Tunis, misalnya, atau dalam acara-acara tertentu. Ini tentu
menjadi pengalaman tidak terlupakan dari negara itu.
Sementara sepanjang perjalanan menyusuri wilayah timur Tunisia
yang berbatasan dengan pantai Laut Tengah, serta antara selepas
Matmata dan sebelum memasuki penyeberangan ke Pulau Djerba, hamparan
perkebunan zaitun terlihat di mana-mana. Tanaman khas itu umumnya
terdapat di kawasan timur Tunisia, berbatasan dengan pantai Laut
Tengah.

Pantai di beberapa kota, seperti Hammamet, Sousse, Sfax, Pulau
Djerba, serta di kawasan Sidi Bou Side dan Carthage, pun sungguh
indah. Keindahannya seperti paras cantik perempuan-perempuan Tunisia
yang dijumpai di segala tempat.

Namun, segala kecantikan itu tentu akan lenyap dan mungkin
sejenak terlupakan saat memasuki tur di kawasan gurun. Salah satunya
adalah oase di perbukitan batu di tengah gurun di kawasan Chebiki.
Puncak dari keindahan perjalanan di Tunisia adalah tur Sahara
dengan menggunakan mobil-mobil bermesin besar keluaran Toyota,
Nissan, dan Mitsubishi. Dengan sopir-sopir penduduk setempat yang
andal, sebagian gurun dimasuki dalam reli yang mendebarkan di kawasan
antara Tamerza, Nefta, dan Tozeur.

Apabila belum puas, perjalanan di bagian utara Gurun Sahara itu
dapat dinikmati dengan menggunakan unta di kawasan sebelah selatan
kota Douz, yang terletak 480 kilometer selatan Tunis.

Foto:
KOMPAS/AGUS MULYADI
Di tengah Gurun Sahara di kawasan Chebika, Tunisia, terdapat oase
yang masih terus mengucurkan air.
"Puncak dari keindahan perjalanan di Tunisia adalah tur Sahara
dengan menggunakan mobil-mobil bermesin besar."

Tidak ada komentar: