Selasa, 09 Desember 2008

SUASANA NYAMAN DI TEPI SUNGAI RHINE
















KOMPAS - Senin, 01 Dec 2008 Halaman: 37 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 5779 Foto: 1
Jalan-Jalan
SUASANA NYAMAN DI TEPI SUNGAI RHINE
Kerumunan orang yang berdiri di tepi jalan kecil itu membuat dua
nenek yang masing-masing sedang mengayuh sepeda itu mengurangi
kecepatan. Saat saya mengarahkan kamera ke arah mereka, nenek pesepeda
di belakang tersenyum. "Pret." dua perempuan sepuh itu pun berlalu ke
tujuan mereka.

Beberapa menit kemudian, seorang kakek melintas di lokasi yang
sama, juga menggunakan sepeda kayuh. Menit-menit berikutnya, pesepeda
melaju atau pejalan kaki berjalan santai di jalan bantaran Sungai
Rhine di kawasan tempat sandar kapal penelitian (lab ship) Max Pruss
di Leverkusen, Jerman. Tidak sedikit para pejalan kaki ditemani anjing-
anjing kesayangan mereka.

Kapal-kapal pengangkut berbagai jenis barang tampak tak putus-
putus berlayar di Sungai Rhine. Sebagian di antaranya adalah kapal
berbendera Belanda. Melalui Sungai Rhine, kapal-kapal itu mengangkut
segala macam kebutuhan, baik yang hendak dikirim ke luar benua melalui
pelabuhan di Belanda maupun dikirim ke kota-kota di Jerman, Swiss,
Luksemburg, dan Belgia. Di jembatan di atas sungai, mobil-mobil
berseliweran tak putus-putus.

Di jalanan tepi Sungai Rhine di pusat kota antara Museum Cokelat
(Schokoladen Museum) dan jembatan utama di kota Koln bahkan lebih
ramai lagi. Turis dari banyak negara juga ikut menikmati jalanan tepi
sungai untuk sekadar berjalan-jalan, berfoto-foto ria, sekalian
berjalan kaki menuju berbagai obyek wisata di tengah kota.

Jalan beraspal selebar empat meter di Koln itu di sana-sini
diseraki daun, termasuk daun maple berwarna kuning yang berguguran
dari pepohonan. Musim gugur menjelang musim dingin di kota terbesar
keempat di Jerman itu membuat pepohonan mulai meranggas.

Katedral Dom di tengah kota Koln adalah pusat tujuan turis. Salah
satu katedral tertua di Eropa, yang mulai dibangun tahun 1248 dan
selesai secara keseluruhan tahun 1880, menjadi magnet bagi turis yang
datang ke Koln. Lokasi bangunan dengan dua menara kembar itu
bersebelahan dengan sentral stasiun (hauptbahnhof) kereta, kurang dari
100 meter dari tepian Sungai Rhine.

Bumi dan langit
"Nyaman sekali pesepeda kayuh di sini. Mereka bisa ke tempat
bekerja, pulang kerja, atau melakukan aktivitas lain melalui jalan di
bantaran sungai ini. Pejalan kaki pun nyaman berjalan- jalan karena
tidak ada sepeda motor atau mobil yang melintas. Ini berbeda sekali
dengan di Jakarta bagaikan bumi dan langit," ucap Doni, mahasiswa asal
Indonesia yang tengah berkunjung ke Koln, awal November 2008.

"Di Jakarta saat ini Sungai Ciliwung bahkan sudah menyebabkan
banjir. Selalu saja begitu setiap musim hujan tiba karena bantaran
sungai tidak ditata untuk menjadi tempat publik," kata Doni.
Bantaran Sungai Rhine di Koln, misalnya, telah puluhan tahun
ditata menjadi tempat yang nyaman bagi warganya.

Sejumlah foto yang dibuat saat Perang Dunia II tahun 1945
menunjukkan bantaran Rhine di Koln telah ditata menjadi jalan yang
nyaman bagi warganya. Di gambar-gambar yang menunjukkan kehancuran
kota akibat perang, bantaran Rhine tampak kosong dari bangunan dan
ditata menjadi jalur pedestrian.

Sungai Rhine adalah salah satu sungai terpanjang di Eropa dengan
panjang 1.320 kilometer, melintasi sejumlah negara, seperti Swiss,
Jerman, dan Belanda, serta Luksemburg, Perancis, dan Belgia. Sungai
dengan bagian hulu di Swiss dipelihara dengan sangat serius oleh
negara- negara itu. Komisi khusus dibentuk untuk mengurusi sungai,
terutama dari pencemaran.

Padahal, hingga tahun 1970-an, Rhine adalah sungai dengan tingkat
pencemaran tinggi. Hewan sungai menyingkir, termasuk salah satu ikan
khas, yakni ikan salmon. Banyaknya industri yang ada di daerah aliran
sungai, termasuk di Koln, menjadi penyebabnya.

Di semua negara yang dilintasi Rhine lalu dibentuk komisi
penyelamat sungai. Mereka bekerja sama untuk kembali memulihkan,
menyehatkan sungai. Hal itu dilakukan pula di negara bagian North
Rhine Westphalia, Jerman, dengan ibu kota Koln.

Brigitte von Danwitz, State Agency for Nature, Environment and
Consumer Protection North Rhine Westphalia (LANUV- NRW), kepada para
duta muda lingkungan dari 18 Negara pada 6 November lalu di
Leverkusen, mengatakan, penanganan Rhine dimulai pada tahun 1963
dengan dibuat perjanjian oleh negara- negara yang dilalui sungai itu.

Dibentuklah International Commission for the Protection of the Rhine
(ICPR). "Organisme yang hidup di Sungai Rhine pada tahun 1965 hingga
1975 turun drastis. Lalu, naik lagi hingga menjadi 160 spesies pada
tahun 1995," ucap Brigitte. Kondisi itu serupa dengan tahun 1900-an
ketika di Sungai Rhine hidup sekitar 160 spesies.

Upaya penyelamatan sungai secara bersama-sama telah memetik hasil.
Saat ini Rhine menjadi tempat yang nyaman, juga bagi hewan yang
sebelum terjadinya pencemaran berat hidup di sepanjang aliran sungai
itu.

Hari Kamis (6/11) sekitar pukul 19.00, misalnya, di dekat Katedral
Dom, sekelompok anak muda berlari-lari kecil di jalan bantaran sungai.
Sejumlah warga lain juga joging di tepi sungai, bersepeda, berjalan
kaki, pulang dari tempat kerja atau hendak melakukan aktivitas lain
pada malam hari.

Kendati di beberapa bagian, jalanan di tepi sungai gelap, mereka
tetap merasa nyaman dan aman melakukan aktivitas mereka. Kapan kondisi
seperti itu bisa dinikmati warga Jakarta?(agus mulyadi)

Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Bantaran Sungai Rhine di Koln, Jerman, ditata menjadi jalan kecil
khusus untuk pesepeda kayuh dan pejalan kaki. Di tepi sungai ini pula,
warga dan para turis yang datang ke kota itu bisa berolahraga atau
sekadar berjalan-jalan.