KOMPAS - Jumat, 14 Nov 2008 Halaman: 38 Penulis: Mulyadi, Agus Ukuran: 7855 Foto: 1
BYEE 2008
INOVASI PARA DUTA MUDA LINGKUNGAN
BYEE 2008
INOVASI PARA DUTA MUDA LINGKUNGAN
Empat anak muda dari empat perguruan tinggi negeri berbeda
tersebut mencoba melakukan dan menciptakan sesuatu yang berguna
terkait dengan masalah lingkungan hidup. Aktivitas itulah yang membuat
mereka mewakili Indonesia ke forum Bayer Young Environment Envoy di
Jerman, 2-7 November lalu.
tersebut mencoba melakukan dan menciptakan sesuatu yang berguna
terkait dengan masalah lingkungan hidup. Aktivitas itulah yang membuat
mereka mewakili Indonesia ke forum Bayer Young Environment Envoy di
Jerman, 2-7 November lalu.
Empat duta muda lingkungan itu adalah Doni Pabhassaro dari
Universitas Indonesia, Fernando Zetrialdi (Institut Teknologi
Bandung), Veni Sevia Febrianti (Universitas Jember, Jawa Timur), dan
Sri Rezeki (Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat).
Universitas Indonesia, Fernando Zetrialdi (Institut Teknologi
Bandung), Veni Sevia Febrianti (Universitas Jember, Jawa Timur), dan
Sri Rezeki (Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat).
"Mereka adalah empat terbaik dari yang lolos ke final untuk
mengikuti BYEE di Jerman," ujar Asmara Pusparani, Corporate
Communication Manager PT Bayer Indonesia. Pemenang Bayer Young
Environment Envoy (BYEE) 2008 tersebut dipilih dari 15 anak muda yang
menjadi finalis dan telah mengikuti kegiatan Bayer Eco-Camp di Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
mengikuti BYEE di Jerman," ujar Asmara Pusparani, Corporate
Communication Manager PT Bayer Indonesia. Pemenang Bayer Young
Environment Envoy (BYEE) 2008 tersebut dipilih dari 15 anak muda yang
menjadi finalis dan telah mengikuti kegiatan Bayer Eco-Camp di Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Inovasi terkait pemecahan masalah lingkungan yang membawa mereka
berjalan-jalan ke Jerman, khususnya di lingkungan kantor pusat Bayer
di Leverkusen. Bersama mereka hadir pula 46 duta muda lingkungan dari
17 negara lain, yakni Brasil, China, Kolombia, Ekuador, India, Kenya,
Korea Selatan, Malaysia, Peru, Polandia, Singapura, Afrika Selatan,
Thailand, Filipina, Turki, Venezuela, dan Vietnam. Kecuali dari
Polandia, duta-duta itu berasal dari negara-negara Asia, Amerika
Latin, dan Afrika.
berjalan-jalan ke Jerman, khususnya di lingkungan kantor pusat Bayer
di Leverkusen. Bersama mereka hadir pula 46 duta muda lingkungan dari
17 negara lain, yakni Brasil, China, Kolombia, Ekuador, India, Kenya,
Korea Selatan, Malaysia, Peru, Polandia, Singapura, Afrika Selatan,
Thailand, Filipina, Turki, Venezuela, dan Vietnam. Kecuali dari
Polandia, duta-duta itu berasal dari negara-negara Asia, Amerika
Latin, dan Afrika.
Di tempat itu mereka saling berbagi pengalaman, baik tentang
kondisi lingkungan negara masing-masing maupun yang telah mereka
lakukan untuk ikut berperan menanggulangi masalah itu. Anak-anak muda
dari berbagai penjuru dunia urun rembuk masalah sampah, penghijauan,
hingga mencari energi alternatif yang sangat dibutuhkan umat manusia.
kondisi lingkungan negara masing-masing maupun yang telah mereka
lakukan untuk ikut berperan menanggulangi masalah itu. Anak-anak muda
dari berbagai penjuru dunia urun rembuk masalah sampah, penghijauan,
hingga mencari energi alternatif yang sangat dibutuhkan umat manusia.
Doni Pabhassaro, misalnya, mencoba mengubah sampah organik tak
berguna menjadi biobriket. Energi alternatif ini dapat digunakan untuk
keperluan memasak para ibu rumah tangga. Bentuknya kira-kira seperti
briket batu bara.
berguna menjadi biobriket. Energi alternatif ini dapat digunakan untuk
keperluan memasak para ibu rumah tangga. Bentuknya kira-kira seperti
briket batu bara.
"Namun, saya jamin harganya jauh lebih murah dan lebih mudah untuk
memproduksinya. Bahan baku sampah organik ada di mana-mana, mudah
didapat. Kompor untuk menyalakan biobriket ini pun mudah untuk dibuat
dan murah," kata anak muda lulusan Teknik Kimia, yang baru diwisuda
pada September lalu tersebut.
memproduksinya. Bahan baku sampah organik ada di mana-mana, mudah
didapat. Kompor untuk menyalakan biobriket ini pun mudah untuk dibuat
dan murah," kata anak muda lulusan Teknik Kimia, yang baru diwisuda
pada September lalu tersebut.
Gagasan Doni itu sempat digugat oleh duta muda (envoy) asal
Brasil, Carolina Arruda, dalam diskusi di salah satu ruangan di kantor
pusat Bayer itu. Mahasiswi Pernmambuco University itu mempersoalkan
asap dari pembakaran briket yang mengancam lingkungan. Doni sekali
lagi melontarkan gagasan bahwa sebagian besar asap dari pembakaran
briket tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet.
Brasil, Carolina Arruda, dalam diskusi di salah satu ruangan di kantor
pusat Bayer itu. Mahasiswi Pernmambuco University itu mempersoalkan
asap dari pembakaran briket yang mengancam lingkungan. Doni sekali
lagi melontarkan gagasan bahwa sebagian besar asap dari pembakaran
briket tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet.
Mencoba menciptakan energi alternatif dilakukan pula oleh Sri
Rezeki. Mahasiswi Universitas Tanjungpura Pontianak itu memanfaatkan
tandan kosong sawit di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ini
adalah buah kelapa sawit yang tidak berisi sehingga tidak dimanfaatkan.
Rezeki. Mahasiswi Universitas Tanjungpura Pontianak itu memanfaatkan
tandan kosong sawit di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ini
adalah buah kelapa sawit yang tidak berisi sehingga tidak dimanfaatkan.
"Sebanyak 23 persen dari tandan buah segar kelapa sawit umumnya
kosong dan dibuang. Saya mencoba memanfaatkannya untuk membuat biogas.
Bahan bakar ini dapat digunakan ibu rumah tangga untuk memasak," ujar
mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan
Kimia yang tengah menyelesaikan skripsinya tersebut.
kosong dan dibuang. Saya mencoba memanfaatkannya untuk membuat biogas.
Bahan bakar ini dapat digunakan ibu rumah tangga untuk memasak," ujar
mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Jurusan
Kimia yang tengah menyelesaikan skripsinya tersebut.
Proses pembuatan biogas dilakukan dengan cara sederhana dengan
menggunakan drum dan pipa. Tandan kosong sawit dimasukkan ke dalam
drum, lalu dicampur air dan soda api. Kemudian, untuk mempercepat
fermentasi, dicampur pula dengan katalis berupa kotoran ayam. Setelah
didiamkan satu bulan, terciptalah gas dari drum yang siap disalurkan
menggunakan pipa ke kompor.
menggunakan drum dan pipa. Tandan kosong sawit dimasukkan ke dalam
drum, lalu dicampur air dan soda api. Kemudian, untuk mempercepat
fermentasi, dicampur pula dengan katalis berupa kotoran ayam. Setelah
didiamkan satu bulan, terciptalah gas dari drum yang siap disalurkan
menggunakan pipa ke kompor.
Banyaknya sampah yang tidak dimanfaatkan pula yang mendorong
Fernando Zetrialdi, mahasiswa semester lima Fakultas Teknologi
Industri Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung, mencoba
turut memecahkannya. Berbeda dengan Doni dan Sri, dia mencoba mendaur
ulang sampah bungkus teh kotak atau kemasan sejenis yang biasa disebut
tetrapack. Dari daur ulang kemasan ini diciptakanlah bahan material
baru yang dapat dimanfaatkan untuk kertas seni serta bahan baku mebel,
ukiran, dan lainnya.
Fernando Zetrialdi, mahasiswa semester lima Fakultas Teknologi
Industri Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung, mencoba
turut memecahkannya. Berbeda dengan Doni dan Sri, dia mencoba mendaur
ulang sampah bungkus teh kotak atau kemasan sejenis yang biasa disebut
tetrapack. Dari daur ulang kemasan ini diciptakanlah bahan material
baru yang dapat dimanfaatkan untuk kertas seni serta bahan baku mebel,
ukiran, dan lainnya.
Edo, demikian panggilannya, bahkan tengah membangun pabrik mini
untuk pengolahan dan daur sampah itu di Bandung.
untuk pengolahan dan daur sampah itu di Bandung.
Menyadarkan
Lain lagi yang dilakukan Veni Sevia Febrianti. Terdorong oleh
maraknya penebangan liar serta bencana banjir dan tanah longsor,
mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember
tersebut tertarik untuk melakukan penghijauan di lahan-lahan kritis di
Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Pembibitan pun dia lakukan,
mendompleng ayahnya yang telah terlebih dahulu melakukan hal itu.
Dengan menghijaukan kawasan gundul, masyarakat mendapat dua
keuntungan. Pertama, lingkungannya menjadi hijau dan lebih aman dari
bahaya longsor. Kedua, mereka mendapatkan nilai lebih dari pohon yang
ditanam. Pohon jenis sengon, misalnya, dapat ditebang lima tahun
kemudian dan bisa dijual. Lahan itu pun lalu ditanami lagi dengan
bibit baru.
Namun, tidak semua warga lantas menyadari keuntungan dengan
melakukan penghijauan. Veni lalu terdorong untuk melakukan sosialisasi
soal penanaman kembali tersebut. Tentu saja kegiatan itu dibantu
sejumlah tokoh masyarakat di daerah sasaran. Hasilnya, masyarakat
akhirnya mau menanami lahan kosong. Sebanyak 5.000 bibit tanaman
berbagai jenis yang disemai oleh Veni saat ini telah ditanam di
Bondowoso.
melakukan penghijauan. Veni lalu terdorong untuk melakukan sosialisasi
soal penanaman kembali tersebut. Tentu saja kegiatan itu dibantu
sejumlah tokoh masyarakat di daerah sasaran. Hasilnya, masyarakat
akhirnya mau menanami lahan kosong. Sebanyak 5.000 bibit tanaman
berbagai jenis yang disemai oleh Veni saat ini telah ditanam di
Bondowoso.
Berbagai inovasi yang dilakukan anak-anak muda dari berbagai
belahan dunia merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap
kelangsungan hidup di bumi ini.
belahan dunia merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap
kelangsungan hidup di bumi ini.
"Kunjungan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia ini memberi
kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan pengetahuan tentang
lingkungan," kata Wolfgang PlischkeWolfgang Pischke, Member of The
Board of Management of Bayer AG, saat menerima para duta muda tersebut.
Wolfgang Pischke menyebutkan, BYEE adalah program kerja sama Bayer
dengan United Nation Environment Programme (UNEP). Program BYEE
dimulai tahun 1998 di Thailand.
kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan pengetahuan tentang
lingkungan," kata Wolfgang PlischkeWolfgang Pischke, Member of The
Board of Management of Bayer AG, saat menerima para duta muda tersebut.
Wolfgang Pischke menyebutkan, BYEE adalah program kerja sama Bayer
dengan United Nation Environment Programme (UNEP). Program BYEE
dimulai tahun 1998 di Thailand.
Pada tahun 2001, Bayer memperluas program tersebut dengan
melibatkan para peserta dari Filipina dan Singapura. India mulai
melaksanakannya tahun 2002, sedangkan Indonesia memulainya tahun 2004.
melibatkan para peserta dari Filipina dan Singapura. India mulai
melaksanakannya tahun 2002, sedangkan Indonesia memulainya tahun 2004.
Kesuksesan BYEE juga dapat dilihat dari banyaknya peserta BYEE
yang kemudian berperan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan
tingkat dunia, seperti World Environment Day, Earth Day, Ozone Day,
dan dalam berbagai proyek lingkungan di negara masing-masing.
yang kemudian berperan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan
tingkat dunia, seperti World Environment Day, Earth Day, Ozone Day,
dan dalam berbagai proyek lingkungan di negara masing-masing.
Selama di Jerman, para duta muda lingkungan mengunjungi beberapa
lokasi di lingkungan pabrik Bayer dan berdiskusi dengan pakar
lingkungan. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke
North Rhine-Westphalia State Environmental Protection Agency dan AVEA,
sebuah fasilitas pembuangan dan daur ulang di Leverkusen. Di AVEA
mereka mendengar langsung penjelasan pengolahan dan daur ulang sampah
dari Hamid Shakoor, pemimpin perusahaan itu.
lokasi di lingkungan pabrik Bayer dan berdiskusi dengan pakar
lingkungan. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke
North Rhine-Westphalia State Environmental Protection Agency dan AVEA,
sebuah fasilitas pembuangan dan daur ulang di Leverkusen. Di AVEA
mereka mendengar langsung penjelasan pengolahan dan daur ulang sampah
dari Hamid Shakoor, pemimpin perusahaan itu.
Mereka pun mendapat kesempatan melihat beberapa proyek penelitian
di Bayer CropScience di Monheim serta melakukan eksperimen di
laboratorium di kompleks penelitian itu. Anak-anak muda tersebut pun
mendapat kesempatan melakukan penelitian di laboratorium Lumbricus di
tepi Sungai Rhine setelah sebelumnya menyusuri sebagian sungai itu
menggunakan kapal Max Pruss. (Agus Mulyadi)
di Bayer CropScience di Monheim serta melakukan eksperimen di
laboratorium di kompleks penelitian itu. Anak-anak muda tersebut pun
mendapat kesempatan melakukan penelitian di laboratorium Lumbricus di
tepi Sungai Rhine setelah sebelumnya menyusuri sebagian sungai itu
menggunakan kapal Max Pruss. (Agus Mulyadi)
Foto: 1
Kompas/Agus Mulyadi
Empat duta muda lingkungan dari Indonesia, Sri Rezeki (berkerudung),
Doni Pabhasarro, Veni Sevia Febrianti, dan Fernando Zetrialdi,
menjawab pertanyaan dalam forum Bayer Young Environment Enjoy
2008 di Leverkusen, Jerman (3/11).
Kompas/Agus Mulyadi
Empat duta muda lingkungan dari Indonesia, Sri Rezeki (berkerudung),
Doni Pabhasarro, Veni Sevia Febrianti, dan Fernando Zetrialdi,
menjawab pertanyaan dalam forum Bayer Young Environment Enjoy
2008 di Leverkusen, Jerman (3/11).
